Senin, 16 Mei 2016

[Movie] Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta (2016)


Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta
(2016 - Multi Buana Kreasindo)

Directed by Sahrul Giban
Screenplay by John De Rantau
Based on the novel by Aisworo Ang
Produced by Andy Shafik, Sahrul Gibran
Cast: Kinaryosih, Acha Septriasa, Chelsea Riansy, Teuku Rifnu Wikana, Cholidi Asadil Alam, Fuad Idris, Egi Fedly, Ence Bagus, Jajang C. Noer, Yati Surachman, Retno Yunitawati, Krisno Bossa


Satu hal yang gw bisa tangkap dari bertahun-tahun menonton dan memerhatikan film, serta belakangan berkecimpung di bidang pemberitaan film, adalah bahwa bikin film itu nggak gampang, obviously *yeah you know where this is going*. Mars adalah sebuah film yang dibuat dengan niat baik, mau mengangkat tentang perjuangan untuk mendapatkan pendidikan yang kemudian berbuah indah--yang lagi-lagi dilambangkan dengan anak dari kampung yang mampu mencapai pendidikan luar negeri. Film ini juga punya modal yang cukup untuk produksinya, pemain-pemain terkenal, setting yang cukup niat, dan teknis yang proper untuk jadi sebuah film bioskop. Tapi, ya apa gunanya itu semua kalau seolah-olah yang punya film nggak tahu bagaimana caranya bercerita dengan baik.

First of all, gw bukannya nggak nangkep apa yang mau disampaikan film ini. Gw nangkep banget kok, soal seorang ibu dari kampung--dalam hal ini di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, yang tak berpendidikan dan harus banyak berkorban supaya putri satu-satunya bisa sekolah. Sekalipun itu harus malu karena ketahuan nggak bisa baca tulis, menempuh jarak yang jauh untuk mengantar ke sekolah, salah waktu pendaftaran karena nggak ngerti, punya suami kerja pas-pasan, dsb dsb. Gw juga nangkep si anaknya juga nggak demen-demen banget sekolah karena jauh dari rumah dan nggak semua teman di sekolahnya seneng sama dia. Tapi kemudian melihat pengorbanan ibunya tidak sia-sia, dia bisa sekolah sampai kuliah dan tidak bernasib seperti kebanyakan anak sebayanya yang mentok di kawin.

Tapi film dengan materi yang sebenarnya sangat acceptable itu bisa-bisanya sangat painful untuk disaksikan karena penceritaannya yang buruk. Terlalu banyak adegan yang bisa dipersingkat malah dipanjang-panjangkan, padahal isinya cuma aneka rupa ekspresi klise, seperti menangis, balas-balasan dialog merenyuhkan hati, berdoa dengan mengeluarkan suara (!) di lorong sekolah kayak setiap sinetron Ramadan, bahkan adegan perjalanan rumah-sekolah pp juga kayak diulang-ulang mulu--gw ngerti maksudnya gambarkan beratnya perjuangan mereka ke sekolah biar orang-orang perkotaan yang nonton merasa malu dan bersalah, tapi nggak setiap jalan ke sekolah adegan perjalanannya disajikan 1 menit sendiri dong. Mungkin itu menurut mereka menimbulkan rasa 'mendayu-dayu', jika itu yang memang jadi tujuannya. Film yang durasinya cuma 1,5 jam jadi berasa tiga kali lipatnya gara-gara ceritanya kayak nggak maju-maju.

Parahnya, panjangnya adegan-adegan seperti itu jadi memakan tempat adegan-adegan yang seharusnya ada, tapi malah nggak ada! Pokoknya tiba-tiba si anak udah masuk SD, tiba-tiba nggak mau sekolah, tiba-tiba bisa kuliah, dan tiba-tiba bisa di S2 di Oxford, Inggris. Masih kurang? Film ini juga mencoba colek-colek tema religi dengan memperlihatkan warga kampung masih praktik kepercayaan tradisional sementara si anak versi gede saat wisuda di Oxford sering menyelipkan ayat-ayat Islami, padahal sepanjang film itu nggak ada relevansinya selain ada ustaz yang kerap membantu keluarga mereka.

Tapi salah satu titik fatal yang bikin gw geleng-geleng nggak percaya adalah bagaimana Kinaryosih bisa bertambah 30 tahun lebih tua dalam cerita yang lompatan waktunya cuma 10 tahun. Seriously, sebagai si ibu dia dalam usia 'normal' saat pertama muncul, tapi 10 tahun kemudian dia jadi kayak nenek-nenek 70 tahun dengan tubuh yang payah--dan dirias dengan ridiculously bad makeup effects, tanpa dibilang dia umurnya berapa atau punya sakit apa. Pokoknya gw menemukan banyak absurditas dari film ini yang berasal dari kurangnya visi, kurangnya ketelitian, atau bahkan mungkin simply ketidakmampuan dalam bercerita lewat medium film panjang.

Jadinya nonton film ini gw gemes sendiri, sekaligus kasihan. Kasihan sama niat baik untuk 'menginspirasi dan memotivasi'-nya. Kasihan sama para aktornya yang sudah bermain dengan penuh dedikasi--biar makeup tuanya jelek, Kinaryosih mainnya bagus. Filmnya bukan hanya bercerita sedih, tapi bikin gw sedih kenapa hasil akhir filmnya harus kayak gini. Gw nggak tahu pasti letak problemnya di mana, apakah dari sutradaranya yang emang masih baru--yang tergambar juga dari naifnya pengadeganan, atau dari skenarionya yang mungkin kurang ringkas, atau *yang paling gw curigai* editornya yang didn't really know what they're doing sehingga bingung sendiri bagaimana menyajikan film ini dengan flow yang enak tapi jelas saat ditonton. Seperti yang biasa gw sampaikan, kalau yang bikin film aja bingung, gimana yang nonton.




My score: 5,5/10

1 komentar:

  1. wajib di tontong kawan :) biar dapet motivasi
    http://acemaxs.9kes.com

    BalasHapus