Minggu, 08 Mei 2016

[Movie] Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016)


Ada Apa dengan Cinta? 2
(2016 - Miles Film/Legacy Pictures)

Directed by Riri Riza
Screenplay by Mira Lesmana, Prima Rusdi
Story by Mira Lesmana
Produced by Mira Lesmana
Cast: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Sissy Prescillia, Titi Kamal, Dennis Adishwara, Ario Bayu, Dimi Cyndiastira, Sarita Thaib, Christian Sugiono, Chase Kuertz, Lei-Lei Bavoil


Kesuksesan film roman remaja Ada Apa dengan Cinta? atau AADC (2002) tidak hanya bisa dilihat dari jumlah penjualan tiketnya yang tercatat melebihi dua juta lembar. Film ini nyatanya memberi pengaruh besar pada kultur pop dan keseharian generasi yang pernah menontonnya. Ini lebih dari sekadar potongan dialog dan adegan yang terus diingat, atau memulai tren film dan sinetron yang menampilkan tokoh utama remaja berseragam SMA di Indonesia. Yang akhirnya tahan uji oleh waktu dari AADC adalah kedekatan penontonnya terhadap karakter-karakter di dalamnya.

Kedekatan inilah yang kemudian menjadi amunisi utama Miles Film dalam mengolah sekuelnya, Ada Apa dengan Cinta? 2 (AADC 2). Bahkan, mungkin hanya inilah benang merah film ini dengan film pertamanya. Kini di bawah arahan sutradara Riri Riza, baik cerita, setting, maupun penggarapan AADC 2 punya pola jauh berbeda dari pendahulunya, yang mungkin bisa ditafsirkan sebagai hasil pendewasaan dari gap waktu yang panjang antara produksi kedua film ini.

14 tahun lalu di film AADC, kita diperkenalkan pada karakter-karakter khas yang dianggap mewakili komposisi pergaulan anak SMA Jakarta pada saat itu. Ada Cinta (Dian Sastrowardoyo), yang dengan kepribadian penuh percaya diri menjadi batu penjuru di antara teman segengnya. Lalu ada Milly (Sissy Prescillia) yang polos, Maura (Titi Kamal) yang centil, Karmen (Adinia Wirasti) yang tomboi, lalu ada Alya (Ladya Cheryl) yang rapuh. Ditambah lagi ada Mamet (Dennis Adishwara) yang culun, serta Rangga (Nicholas Saputra), sosok pendiam dan sinis penggemar sastra yang kemudian merebut hati Cinta.

AADC 2 menyorot kembali karakter-karakter ini saat memasuki usia 30-an—kecuali Alya yang tak ditampilkan karena pemerannya urung bergabung. Seiring perubahan yang terjadi pada karakter-karakternya, tak heran bila kisah AADC 2 digulirkan dengan cara yang berbeda pula. Bukan lagi masalah pilihan antara teman atau pacar, atau persaingan si populer dengan si penyendiri—masalah-masalah yang mungkin dianggap seberat-beratnya masa SMA. Sebagaimana seharusnya, persoalan yang diangkat di AADC 2 jadi lebih mendalam, yaitu pilihan antara berkutat di masa lalu atau melangkah ke apa yang disebut kehidupan mapan.

Tuturan AADC 2 memang terlihat paralel dengan alasan film ini dibuat, dan alasan penggemarnya ingin menyaksikannya: nostalgia. Kisahnya diawali dengan Cinta mengumpulkan kembali teman-teman segengnya semasa SMA, Milly, Maura, dan Karmen untuk belibur bersama ke Yogyakarta. 'Geng Cinta' ini seperti ingin membangkitkan kembali keceriaan mereka di masa lalu, sebelum mereka kembali melanjutkan kehidupan dan hadapi permasalahan masing-masing di masa yang kini.

Akan tetapi, tak semua nostalgia itu menyenangkan. Di saat yang sama pula diperlihatkan Cinta masih teringat sosok Rangga dalam hatinya. Padahal, Rangga yang diketahui tinggal di New York, sudah tak bersama Cinta lagi, lantaran hubungan mereka telah kandas di tengah jalan dengan cara yang tak tuntas. Karena itu pula, kemunculan tiba-tiba Rangga di Yogyakarta menciptakan gejolak dalam diri Cinta dan kawan-kawannya, apalagi Cinta sudah merencanakan pernikahan dengan pria lain.

Jika disarikan, premis AADC 2 sebenarnya sama sekali tidak baru, sesimpel 'kehadiran mantan kekasih yang menggoyahkan rencana masa depan'. Namun, premis ini menjadi sesuatu yang penting, karena begitu dekatnya penonton—yang diasumsikan telah menyaksikan AADC pertama—dengan tokoh-tokoh ini. Setelah tak diketahui kabarnya selama lebih kurang 14 tahun, apa yang menjadi keputusan tokoh-tokoh ini, khususnya Cinta dan Rangga, menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan.

Hal ini menarik karena AADC 2 mengangkat nostalgia ini dengan cara yang berbeda, dan bisa dibilang berkelas. Penonton bahkan tidak akan dimanjakan dengan adegan kilas balik atau flashback. Film ini lebih memilih cara layaknya sebuah reuni di kehidupan nyata, ketika kisah hidup seseorang yang sudah lama tak ditemui bisa ditangkap hanya dengan menyimaknya berbicara.

Sebagian dari cerita AADC 2 pun pada akhirnya adalah sebuah wadah bagi penonton untuk catch up tentang apa yang terjadi terhadap karakter ini selama 14 tahun belakangan, sebuah periode yang cukup panjang sehingga ketika disebutkan beberapa karakternya mengalami keberhasilan atau tragedi, itu tidak sampai melecehkan logika. Upaya catch up ini mungkin terasa terburu-buru di bagian awal lewat beberapa dialog yang terlalu diatur untuk memberi informasi pada penonton. Namun, seiring durasi bergulir, film ini terus ditata sedemikian rupa agar perhatian dan kepedulian tetap tertuju pada para karakter ini, mengundang penonton untuk menyimak cerita mereka dengan saksama.

Bagian ini juga didukung oleh performa para pemainnya yang tak hanya sekadar mengulang peran, dan tidak juga berubah total, tetapi membawa karakter lama mereka dalam versi yang sudah dimatangkan. Rangga masih sinis, Cinta masih sok tangguh, Maura masih pesolek, Karmen masih protektif, Milly masih lebih polos—tetapi mungkin yang paling mewakili nalar. Tetapi, karakteristik mereka ini hadir dalam level yang lebih dewasa dan punya depth. Adanya beberapa karakter baru terbilang cukup mengimbangi dan berfungsi sebagaimana mestinya walau tak menonjol.

Ketika daya tarik utama film ini bertumpu pada karakternya, di sisi lain film ini terlihat tidak memaksa untuk menampilkan berbagai gimmick agar berdampak sama seperti film pertamanya. Memang film ini menampilkan puisi, adegan musik, sampai lagu-lagu soundtrack, tetapi pada akhirnya memang tidak semenonjol ataupun se-memorable film pertamanya. Bahkan, hampir tidak ada dialog yang langsung bisa dijadikan 'quote' ikonik yang akan mudah diulang di pergaulan sehari-hari seperti dari film pertamanya.

Namun, mungkin memang tak perlu begitu. Film ini sudah berhasil mengarahkan perhatian pada Cinta dan Rangga serta orang-orang sekitarnya, sampai pada titik kepasrahan bahwa apa pun yang mereka lakukan ataupun mereka katakan, sebiasa atau sedramatis apa pun itu, tetap akan captivating dan mengena. Dialog-dialognya dibuat dan diujarkan sealami mungkin, tata visualnya pun tidak termasuk mewah atau mentereng. Namun, dengan penuturan cerita yang mengalir lancar disertai letupan-letupan emosi—baik yang subtil maupun yang frontal—yang tepat pada tempatnya, AADC 2 menjadi sebuah sajian memikat dalam 120-an menit durasinya.

Tak mudah untuk bilang film ini lebih baik atau tidak dari yang pertama, sebab keduanya mengambil pendekatan dan dikemas dengan cara berbeda. Agak sulit juga untuk menilai apakah film ini akan berhasil bagi mereka yang belum menonton AADC pertama, mengingat pembangunan karakter di AADC 2 cukup banyak bergantung pada film tersebut. Namun, yang pasti AADC 2 jadi sebuah sekuel yang mampu memperlakukan brand AADC dengan layak, dewasa, serta tak mengkhianati kedekatan yang sudah terbangun dengan para penontonnya, mungkin malah justru makin merekatkannya.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

4 komentar:

  1. beberapa adegan radah mirip before trilogi apalagi scane pas ngobrol sambil jalan2..
    dan film ini benar2 membuat saya bernoslagia atas kisah cinta dan rangga tapi kalo ending nya dibikin macam aadc pertama atau before sunset mungkin lebih bagus lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mas, se-Indonesia bakal ngamuklah kalau endingnya gitu, udah capek-capek nunggu ^_^

      Hapus
  2. Awalny dah underestimate sm AADC2 tpi pas nonton trnyta bisa bikin baper krn jLinan cerita, akting ,cinematografinya keren ciamik dah..dan bukn hanya para pemeran yg bernostalgia,penonton pun seakan2 diajak bernostalgia bareng

    BalasHapus
    Balasan
    1. well, kadang-kadang meng-underestimate memang perlu, pas ternyata bagus jadi lebih puas =)

      Hapus