Jumat, 25 Maret 2016

[Movie] Pesantren Impian (2016)


Pesantren Impian
(2016 - MD Pictures)

Directed by Ifa Isfansyah
Screenplay by Alim Sudio, Salim Bachdim
Based on the novel by Asma Nadia
Produced by Karan Mahtani, Hanung Bramantyo
Cast: Prisia Nasution, Fachri Albar, Dinda Kanyadewi, Deddy Sutomo, Sita Nursanti, Indah Permatasari, Annisa Hertami, Fuad Idris, Alexandra Gottardo, Rukman Rosadi


Waktu pertama kali dengar konsep film Pesantren Impian, ada perasaan janggal, tapi sekaligus interested juga. "Thriller religi (Islami): itu bakal seperti apa jadinya? Lebih intriguing lagi bahwa sutradaranya adalah Ifa Isfansyah, yang jelas bukan sutradara sembarangan. Dan lebih, lebih bikin curious lagi adalah film ini dibikin--atau mungkin 'diakusisi'--oleh MD Pictures yang jelas-jelas rumah produksi yang, yah, jujur ajalah, lebih banyak berorientasi komersial, yang ngaruh juga ke kontennya. Buat gw, bahkan bahwa film ini jadi dibuat dan beredar di bioskop sudah sebuah peristiwa yang patut diulik. Tapi, mari kita bahas filmnya aja ya *lah*.

Dalam premisnya, film ini mengisahkan 10 wanita dengan aneka latar belakang (gelap) yang memenuhi undangan untuk memulai hidup baru dengan ikut program di pesantren di sebuah pulau, lalu satu per satu kehilangan nyawa oleh pembunuh misterius. Pas gw nonton filmnya ternyata nggak sama persis kayak begitu. Awal cerita adalah seorang polisi bernama Dewi (Prisia Nasution) lewat berbagai penelitian membuat strategi untuk memancing pelaku pembunuhan seorang pengusaha, bekerja sama dengan pihak pesantren dalam mengundang angkatan santri baru. Melihat beberapa nama yang ia curigai sebagai terlibat dalam kasus pembunuhan menerima undangan pesantren, Dewi lalu menyamar sebagai Eni untuk menyusup di antara para santri baru, dengan tujuan memastikan dan menuntaskan pencarian tersangka. Dan, yah, ternyata bukan hanya kasus pembunuhan tersebut yang harus dipecahkan Dewi, karena berbagai kejadian misterius mulai meneror penghuni pesantren, dan orang-orang di dalamnya bisa jadi adalah pelakunya.

Pada tahap itu, film ini masih managed to be interesting. Ada misteri yang dimainkan, dan pengadeganan para santri malang yang satu per satu jadi korban pun bisa terbangun dengan mencekam, terlepas dari production value yang nggak terlalu mewah. Penempatan karakternya juga cukup oke, walau sayangnya dengan lajunya yang cukup cepat, gw nggak berkesampatan lebih dalam mengenal karakter-karakternya yang beragam. Masalah porsi durasi sih, atau mungkin penggambarannya kelewat subtle =P. Kalau nggak jeli melihat ekepresi dan gestur-gestur kecil yang mereka lakukan, ya bisa-bisa bikin bertanya-tanya kenapa dia begini dan begitu dan seterusnya.

Sayangnya lagi, gw merasakan ada unsur keburu-buruan *what?* dalam penyusunan cerita atau mungkin dalam editing. Bagian kasus yang diselidiki Dewi/Eni itu kurang nancep karena sebagian besar diceritakan pas opening title, yang lajunya cepet banget dan pake style abstrak ala-ala film Seven gitu, which is kalau orang perhatiin cuma tulisan pemain dan kru ketimbang apa yang ada di gambarnya, ya bakal ketinggalan. Maksud gw, kenapa nggak dibikin alon-alon aja sih, biar nyerap gitu, jadi bisa lebih ngerti cerita film ini jalannya dari mana. Pun gw termasuk kesal dengan bagaimana film ini diselesaikan. Okelah kasus awalnya kelar di tengah-tengah, tapi kasus di dalam pulau itu sendiri konklusinya terlalu gampangan, tanpa setup apa-apa tiba-tiba begitu. Atau, lagi-lagi, ini masalah laju filmnya yang nggak memberi waktu buat gw, dalam arti jadi gw nggak memperhatikan hal-hal yang tepat sebagai petunjuk yang mungkin mengarah pada penyelesaiannya. Gw bilang konklusinya terlalu out of nowhere pun jangan-jangan karena gw miss sesuatu di awal-awal. Entahlah.

Then again, dengan keberadaan film ini yang menarik dan unik, gw tetap merasa perlu apresiasi. Nggak gampang bikin film yang menggabungkan unsur misteri kriminal, thriller, dan ajakan untuk meng-embrace nilai-nilai agama dalam satu tontonan. Filmnya memang nggak sempurna, tapi buat gw sebagian besar masih bisa dinikmati, the big idea cerita dalam film ini gw suka, aktingnya oke--terlepas dari artikulasi Fachri Albar yang maaf maaf nih kurang enak didengar, dan terutama atmosfernya sih yang cukup berhasil dibangun sesuai yang diperlukan, paling nggak sampai sebelum masuk konklusinya. Sedikit-dikitnya menghiburlah, lantaran jarang banget film Indonesia yang angkat crime mystery sebagai tema utama, dan perlakuan terhadap tema itu di film ini nggak jelek-jelek amat sebenarnya.





My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar