Rabu, 30 Desember 2015

Year-End Note Special: The 10 Indonesian Films of 2015


Sebelum sampai ke top 10 film tahunan versi gw, gw kepingin bikin postingan khusus didedikasikan untuk film Indonesia. Gw nggak bikin ini setiap tahun, karena emang gw selalu lebur film Indonesia yang gw suka ke top 10 film secara keseluruhan, dan nggak setiap tahun gw bisa "klik" sama film Indonesia dalam jumlah sampai 10 judul setiap tahun. Tapi, jumlah ini pernah tercapai di tahun 2012, ketika itu gw juga bikin postingan khusus tentang 10 film Indonesia paling berkesan tahun itu, dan emang tahun-tahun berikutnya belum sampe bilangan segitu lagi.

Surprisingly, itu bisa terjadi lagi di tahun 2015. Mungkin ini dipengaruhi tuntutan pekerjaan yang mengharuskan gw menyaksikan lebih banyak film. Yang pasti, di tengah perbandingan kurang menyenangkan antara bertambah banyaknya jumlah produksi film dengan berkurangnya rata-rata penjualan tiket untuk film Indonesia, ya gw senang aja menemukan ternyata dari antara film-film itu yang memang bagus, yang berkesan, dan yang menampilkan "sesuatu" (menurut pandangan gw tentu saja) ada cukup banyak dan berentetan. Makanya, gw terketuk untuk membuat postingan ini lagi.

Untuk artikel khusus ini, gw nggak akan bikin ranking, tapi akan gw gelar senarai dalam urutan abjad judulnya. Biar yang ditekankan adalah bahwa film-film ini telah memberikan kesan masing-masing di ingatan gw, bukan mana lebih bagus dari yang mana--kalau itu biarlah di senarai Top 10 film tahunan yang akan gw posting setelah ini, hehe. And so, inilah ke-10 film Indonesia paling berkesan buat gw tahun 2015 ini.









2014
sutr. Rahabi Mandra & Hanung Bramantyo

Karena film Indonesia jarang menampilkan political thriller, dan bahkan film ini berani membahas politik pemerintahan. Kadang kita beranggapan bahwa politk pemerintahan terlalu sensitif untuk dibuat dalam kemasan drama serius seperti yang dilakukan di film 2014 ini, karena konon minimal seseorang atau suatu pihak pasti akan merasa tersungging *padahal kalau bersih kenapa harus risih, ya kan?* sehingga mengancam kelangsungan karier si pembuat film. Mungkin itu sebabnya isu ini lebih banyak dikemas dalam komedi satir. Makanya, gw mau mengapresiasi 2014 karena, sekalipun tak sempurna, film ini sudah berani mengangkat isu permainan politik seputar pemilu dengan pendekatan dramatik yang asyik dan sentuhan action yang menghibur. Review di sini.






3 (Tiga)
sutr. Anggy Umbara

Ide film action futuristis ini gila, membuat Indonesia di masa depan jadi negara liberal yang di-set-up cukup masuk akal, didukung oleh daya imajinasi para kreatornya yang cukup liar tentang sebuah isu sensitif: politik dan agama. Yang menarik, film ini seakan bisa merenggut perhatian berbagai sisi pemikiran, dari yang pro-agama konvensional, sampai yang menganggap ini sebuah representasi fenomena sosial yang tengah marak. Film ini memang kurang meledak secara komersial, tapi itu nggak akan menghilangkan keberanian film ini untuk memprovokasi pemikiran setiap penontonnya tentang suatu isu yang tidak ringan, yang juga pas jadi motivasi serangkaian adegan laganya. Bisa saja film ini agak ahead of its time di bangsa kita, pun bantuan efek visualnya juga belum mulus. Tapi, film ini tetap punya kekuatan utama di ide dan ceritanya yang beda dari yang ada dan mungkin belum akan ada lagi yang membuat hal serupa, sehingga mungkin film ini malah akan jadi cult di masa mendatang. Review di sini.






Bulan di Atas Kuburan
sutr. Edo W.F. Sitanggang

Gw belum nonton film aslinya, tapi gw cukup terkesan sama versi remake-nya ini. Memang ada kesan film yang bicara soal impian vs kenyataan perjuangan di ibukota ini mencoba menyerempet ke gaya arthouse (mungkin karena penulisnya Dirmawan Hatta =P), tapi gw masih bisa menangkap dengan baik penuturan cerita maupun emosi dari setiap karakter dan babak yang ditampilkan di film ini. Di luar shot-shot cakep dan permainan para aktor yang ciamik (bahkan penyanyi lagu romantis Andre Hehanussa bisa sangat "preman" di sini), film ini juga berhasil mengangkat sebuah isu klasik menjadi relevan dengan masa sekarang tanpa kesan mengada-ada. Gw suka gambaran Jakarta di sini, bukan hanya dari pemandangan dan kontras sisi bawah dan atas, tapi bagaimana ibukota bisa benar-benar mengubah karakter orang, and not always for the better. Review di sini.






Comic 8: Casino Kings Part 1
sutr. Anggy Umbara

Entah dari mana datangnya ambisi tinggi dari film ini, yang pasti bisa gw bilang bahwa film ini bisa memenuhi ambisinya itu. Well, separuhnyalah, karena masih harus dibuktikan lagi dengan Part 2-nya di tahun 2016. Puluhan orang terkenal menjadi pemain, dengan desain produksi yang beragam dan luas, ditambah penggunaan teknologi efek khusus dan efek digital yang ekstensif, film ini peningkatan besar dari Comic 8 pertama dari segi produksi. Lebih besar, lebih ramai, lebih canggih, lebih enak dilihat, dan in a way lebih entertaining dengan idenya yang sebenarnya sederhana tapi dihiasi dengan berbagai "ornamen" yang playful dan wild. Sebuah film "besar" yang memang terbukti besar, dan seperti inilah blockbuster ala Indonesia mungkin seharusnya dibuat. Those crocodiles, anyone? Review di sini.






Doea Tanda Cinta
sutr. Rick Soerafani

Film ini ada di deretan ini lebih karena gw nggak menyangka filmnya tidak senorak dan sekampungan yang gw bayangkan dari sebuah film titipan intstitusi. Dibanding film-film titipan yang lain banyak beredar di tahun ini, buat gw film ini adalah yang paling smooth. Film ini jelas ingin mengampanyekan kehidupan Akademi Militer sebagai gerbang rakyat Indonesia untuk berpartisipasi membela negara secara langsung dalam bidang militer, pun dibawakan dalam sebuah plot percintaan yang klise sekali. Tapi, gw sangat menikmati penuturannya yang sederhana namun lancar jaya itu, karena mungkin memang niat film ini sederhana dan nggak neko-neko. Untungnya lagi, film ini didukung oleh desain produksi dan sinematografi yang cakep banget, plus sebuah adegan pertempuran melawan gerilyawan yang jarang sekali ada di layar lebar film Indonesia, and it was done in a solid execution. Review di sini.






Filosofi Kopi
sutr. Angga Dwimas Sasongko

There's a quite a lot to say about this film. Selain cerita, karakter, dan permainan para aktor yang kelas wahid, satu hal yang paling bisa gw tarik dari film ini adalah caranya mengakomodasi berbagai kepentingan, termasuk kepentingan artistik dan bisnis, menjadi sebuah tontonan yang menyenangkan. Sebuah film tentang pencarian cita rasa kopi sejati yang disponsori produk kopi instan? Simpel, biarkan plotnya berjalan, dan produknya hanya jadi bagian dari semestanya tanpa harus diagung-agungkan. Sebuah film tentang lifestyle kaum urban yang maunya serba hip tapi kemudian dilawan dengan kepolosan dan realita bahwa kompromi harus dilakukan demi bisa bertahan hidup, tapi masih mampu memancing orang untuk mengulik kopi lebih dalam, seantusias para karakternya tanpa terlihat palsu. Review di sini.






Guru Bangsa Tjokroaminoto
sutr. Garin Nugroho

Film ini adalah sebuah demonstrasi bagaimana jadinya jika sineas antik Garin Nugroho diberi bujet sangat besar untuk sebuah film. Hasilnya adalah sebuah film epik sejarah kolosal dengan nilai produksi dahsyat. Desin produksi keren, kostum keren, efek visual keren, casting keren, musik keren, sinematografi yang kueren mampus, pokoknya worth every penny. Filmnya sendiri nggak pakai adegan pertempuran, karena lebih membahas tentang cikal bakal ideologi yang membentuk bangsa Indonesia. Tapi ini tetap membuktikan kepiawaian Garin dalam membangun sebuah dunia sinematik dengan permainan terbaik dari para pemainnya yang banyak itu. Bahkan bagi gw film ini mengalir cukup enak untuk sebuah film bermuatan sejarah berdurasi 2 jam 40-an menit. That one-cut opening scene is titanium, dan Chelsea Islan beli pete adalah salah satu image paling memorable di sinema Indonesia tahun ini =). Review di sini.






Jenderal Soedirman
sutr. Viva Westi

In contrast to Tjokroaminoto, Jenderal Soedirman adalah sebuah film sejarah yang lebih spesifik, dan itulah yang membuat film ini gw masukkan di senarai ini. Selama ini gw melihat banyak film sejarah Indonesia di era milenium mengambil cakupan cerita yang terlalu luas, jadi kesannya filmnya ngalor ngidul. Film ini jadi agak berbeda karena hanya ambil satu event, yaitu gerilya Soedirman pasca-Agresi Militer Belanda II hingga akhirnya terjadi perjanjian Roem-Royen, yang terjadi dalam rentang waktu sekitar satu tahun saja. Film ini mengemas peristiwa itu dalam sebuah film kucing-kucingan yang cukup menegangkan dan entertaining, dengan persembahan audio visual yang keren, walau akhirnya juga harus berkompromi dengan penjelasan konteks sejarah yang kaku dan humor kecil-kecilan dari para pengikut Soedirman yang juga kadang kaku. But then again, ini cara yang cukup baik untuk mengingat kembali salah satu pahlawan nasional paling terkenal se-Indonesia ini. Review di sini.






Kapan Kawin?
sutr. Ody C. Harahap

Gw jarang suka komedi romantis karena biasanya mereka berpola sama dan berakhir sama. Lali muncul Kapan Kawin? yang tak hanya mau meng-emphasize sisi roman dan komedi, tapi juga membangun karakter-karakter yang bisa "muncul" dengan kuat dan dimainkan dengan sangat baik oleh para pemainnya. Segala keklisean (dan kekonyolan) cerita khas komedi romantis bisa ditangani dengan baik, dekat, relevan, believable, witty, menyenangkan, dan membumi di film ini, didukung oleh nilai produksi yang cantik. Tidak banyak film drama romantis Indonesia yang mau bikin effort sampai sejauh itu. Well, gw bilang membumi karena bagian awal film ini syutingnya di Bekasi kali ya, heuheuheu. Review di sini.






Mencari Hilal
sutr. Ismail Basbeth

Dua karakter bertolak belakang dan sebuah perjalanan, hanya dengan dasar ini Mencari Hilal bisa menjadi sebuah film yang indah. Diam-diam film ini cukup provokatif dalam menggambarkan perbedaan pandangan soal "hidup beragama", tapi cukup mulus juga menyamarkan itu dalam bangunan budaya yang agak diacak, mungkin biar mengurangi risiko ada yang merasa tersinggung (ya gitulah bikin film di kita, apa-apa tersinggung mulu). Yang pasti, gambaran-gambaran yang dibuat sangat representatif untuk Indonesia saat ini. Bahkan kayaknya ini film Indonesia pertama yang gw tahu ada adegan gamblang pengusiran ormas terhadap orang yang lagi beribadah. Tapi, at its core, film ini tetap sebuah kisah pendamaian bapak dan anak yang menyentuh, dikemas dalam rangkaian dialog dan peristiwa yang sering bikin cekikikan. Review di sini.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar