Kamis, 31 Desember 2015

Year-End Note: My Top 10 Films of 2015

Mari kita tutup tahun 2015 dengan senarai 10 film teratas versi gw. Dari tahun ke tahun penjelasan tentang syarat daftar ini selalu sama dan sederhana, yaitu film-film yang memberi kesan buat gw saat menonton dan setelah menontonnya. Belum tentu film-film ini "terbaik", bahkan tidak juga diurutkan sesuai skor di review gw. Tapi yang penting adalah film-film ini paling gw ingat mewakili tahun ini. Seperti biasa, prasyarat untuk bisa gw masukkan di senarai ini adalah film-film yang rilis resmi di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2015.


Sudah siap? Eits, sebelumnya, gw juga mau mention beberapa runner-up yang sempat gw catat dan pertimbangkan untuk masuk 10 besar, tapi "terpaksa" ada di luar karena 10 teratas tempatnya cuma 10 *krik...krik..*. Ini dia dalam urutan abjad:


Cinderella, dir. Kenneth Branagh
Menghidupkan kembali dongeng klasik dengan gaya klasik tapi tetap menyenangkan dan indah,

Crimson Peak, dir. Guillermo del Toro
Sebuah "telenovela" dibungkus dengan keindahan visual dan karakterisasi, serta definisi "horor" yang mutakhir.

Heart Attack, dir.Nawapol Thamrongrattanarit
Film Thailand pertama gw di bioskop dan ternyata filmnya menuturkan kisah cinta karakter yang unik, berprofesi unik, dan gaya penuturan yang unik juga.

Mencari Hilal, dir. Ismail Basbeth
Salah satu film Indonesia paling indah tahun ini, dengan komentar-komentar tentang situasi sosial maupun situasi keluarga yang relevan.

The Walk, dir. Robert Zemeckis
Karena menerjemahkan pengalaman aksi gila wire-walk di antara gedung tinggi dengan cara menyenangkan dan "menggemaskan".


Dan, berikut 10 film teratas 2015 versi gw. Jangan kaget ya =P...





10. Jupiter Ascending
dir. The Wachowskis

Well, gw berupaya mengapresiasi sebuah materi cerita petualangan fantasi orisinal berskala epik yang kebetulan sangat menyenangkan. Gaya heboh The Wachowskis masih kentara di sini dengan rancangan visual yang keren, tapi somehow ini film mereka yang paling fun dan mudah dicerna, nggak pake serba rumit dan aneh-aneh layaknya The Matrix atau bahkan Speed Racer. Terserah kalian anggap aku apa =p.
Review di sini.





9. Star Wars: The Force Awakens
dir. J.J. Abrams

Salah satu event film of the year yang memang pantas. Film ini memanfaatkan teknologi tercanggih dengan sangat bijak, dituturkan dengan lincah dan menyenangkan, pun punya respek terhadap materi orisinalnya. Tapi, yang membuat film ini ada di senarai ini adalah keberhasilannya dalam memancing gw untuk menantikan sekuel-sekuelnya. Itu penting.
Review di sini






8. Jurassic World
dir. Colin Trevorrow

Salah satu pengalaman terheboh gw saat nonton di bioskop karena gw sering berseru-seru sampai angkat-angkat kaki, gara-gara gw emang agak..emm... "sensitif" sama kemunculan hewan-hewan menyeramkan. Tentu saja keberhasilan utama film ini adalah membangkitkan keseruan sebuah franchise klasik dengan sangat baik, thrilling, dan menampilkan karakter-karakter yang mudah disayangi, atau dibenci.
Review di sini






7. Kapan Kawin?
dir. Ody C. Harahap

Gw sangat impressed sama film ini. Dengan materi yang sebenarnya standar komedi romantis, film ini mengembangkannya menjadi sebuah tontonan yang fresh dengan karakterisasi kuat dan permainan apik dari para pemeran utamanya. Salah satu poin yang mungkin bikin gw suka sama film ini adalah gaya humornya yang witty dan self-conscious, yang nggak serta merta hilang ketika sampai pada babak yang lebih dramatis.
Review di sini






6. The Martian
dir. Ridley Scott

Film ini mungkin tidak se-extravagant film-film luar angkasa lain yang lebih kental nuansa fantasi. But, man, this film is almost flawless. Penuturannya yang lancar, karakter dan dialog yang kocak, unsur iptek poleksos yang relevan, serta desain visual yang keren banget bikin film yang premisnya sebenarnya agak horor ini jadi bisa dinikmati dengan menyenangkan, walau tidak meninggalkan unsur ketegangannya di saat-saat yang diperlukan. Dan, lagu end credits-nya bikin pecah.
Review di sini






5. 3 (Tiga)
dir. Anggy Umbara

Ini adalah salah satu film paling striking dan bikin terhenyak, dan ternyata datang dari Indonesia. Membuat film yang "berani" bukan berarti harus berkutat di hal-hal seksualitas, dan bikin film action bukan berarti cuma itu yang bisa didapat. Film ini tetap sebuah action yang menghibur, tapi justru gw lebih terhisap sama ceritanya, sebuah proyeksi Indonesia jadi negara liberal—dengan cara yang cukup make sense—serta berhasil menyuntikkan emosi lewat karakter-karakternya yang diperkuat dengan pemilihan cast yang jitu. But, then again, gw udah terkagum bahwa materi ini ada yang mau jadiin film di sini.
Review di sini





4. Mission: Impossible – Rogue Nation
dir. Christopher McQuarrie

Ketika gw udah lumayan lelah dengan Tom Cruise dan franchise Mission: Impossible yang sudah sama-sama uzur, gw seperti ditampar dalam film M:I yang kelima ini. Bahwa, yes, franchise ini tetap bisa exciting meski versi layar lebarnya udah berumur hampir 20 tahun. Film ini seru adegan laganya dengan beberapa adegan-adegan heboh yang lumayan membekas, itu jelas. Tapi, lebih dari itu, film ini mengembalikan prinsip M:I yang gw paling ingat yaitu teamwork. Iya, camkan, M:I bukan cuma Tom Cruise, tapi teamwork! Dan pemaduan cast yang asyik serta kelincahan tutur dan dialognya juga makin bikin film ini enjoyable, dan mengembalikan keyakinan gw terhadap masa depan franchise ini *cieeileh*.
Review di sini






3. Whiplash
dir. Damien Chazelle

One thing I've gotta tell you about this film: rugi kalau nggak sampai nonton film ini di bioskop. Memang, sekilas film ini "terlalu drama" karena hanya seputar seorang pemuda mau jadi drummer jazz terhebat. Tapi salah, ini bukan drama inspiratif yang serba mengharukan. Ini drama tentang ambisi tak sehat, baik dari murid maupun gurunya untuk saling menghancurkan dalam hal kehebatan bermusik—ya karena jadi pemusik juga bisa diseriusin, bukan cuma supaya bisa masuk TV dan dapat duit =p. Jadi, sembari menikmati akting dan permainan musik jazz, gw juga disodorkan emosi di balik semua itu, yang membuat film yang "drama" ini menjadi thrilling, intens, breathtakhing, dan semua kata-kata yang biasanya hanya disematkan dalam sebuah film kolosal yang berat visual effects.
Review di sini






2. Mad Max: Fury Road
dir. George Miller

Dari semua film Hollywood yang gw remehkan karena berasal dari franchise tua di tahun ini, Mad Max: Fury Road adalah yang paling membungkam gw. Bagaimana bisa film ini jadi? Padahal plotnya cuma bolak balik dari satu titik ke titik lain, dialognya pun kayak cuma 40 persen durasi, sementara sisanya adegan action. Tapi hasilnya adalah sebuah film yang epik, puitik, indah, serta penuh makna tersurat dan tersirat, baik itu dalam lingkup personal maupun sosial. Biasanya gw nggak nyaman dengan gambaran dunia yang serba kacau dan kotor seperti yang digambarkan di film ini, tapi somehow kegilaan visi itu bisa dipersembahkan dengan apik *that red guitarman says it all*, menjadi salah satu tontonan paling memesona, sekaligus yang paling asyik untuk dikupas dan digali di tahun ini.
Review di sini








1. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
dir. Alejandro González Iñárritu

Tanpa bermaksud nyama-nyamain diri gw dengan institusi-institusi besar yang memilih film ini sebagai yang terbaik di awal tahun, tapi jujur, Birdman adalah film yang blew my mind. González yang biasanya terbawa pada mood yang depresif kini mencoba memain-mainkan tema itu dalam gaya yang lebih komikal, ditambah dengan metode penuturan yang tak biasa. Menuangkan konsep sandiwara teater yang adegan-adegannya dibuat tak putus (walau sebenarnya putus juga, tapi jeda lompatan waktunya diabaikan) dan memanfaatkan teknologi sinema terkini, ditampilkan dalam sinematografi dan tata artistik yang dinamis, serta parade akting para pemain yang luar biasa, ya bohong aja kalau tidak menganggap bahwa pencapaian film ini istimewa. Surprisingly, semua itu tidak menghalangi gw untuk menikmati film ini. Ada lucu, haru, amarah, sindiran, harapan, keputusasaan, film ini berhasil membuat gw menyelami dan mengamat-amati obsesi dan kegilaan para tokohnya yang men-driving cerita film ini tanpa terputus sampai akhir.
Review di sini




And so...sampai jumpa tahun depan. Cheers \(^o^)/

10 komentar:

  1. Errr... jupiter ascending? beneran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa salah The Wachowskis sama klian? =D

      Hapus
  2. Cinderella? Jupiter Ascending? Really???

    Oh, Jesus Christ

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa salah The Wachowskis sama klian? (2) =D

      Hapus
  3. Inside Out manaaa?
    #positifThinkingMungkinLupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus. kayaknya emang kelempar ke memory dump, haha. Somehow setelah beberapa bulan film itu nggak membangkitkan ingatan yang mendalam buat saya, padahal pas nonton cukup terkagum-kagum. ya begitulah.

      Hapus
  4. Jupiter Ascending! Great remarks, bro! Filmnya agak underrated sih tapi gw juga suka. Lol.

    Dan keterlaluan sekali kalau ada yg nggak suka Cinderella-nya Ken Branagh. Nice picks, bro.

    Lanjutkan!

    BalasHapus
  5. saya juga setuju cinderella termasuk terbaik krn efek visual nya sunggu indah..
    Mad max keren dan sadis juga masuk terbaik tapu sayang inside out gak masuk padahal itu film terbaik juga bwt tahun 2015

    BalasHapus
  6. Mas Set Ganteng7 Januari 2016 00.13

    Wah, pelm gw nomer satu. *kikir kuku*

    BalasHapus