Senin, 23 November 2015

[Movie] Siti (2014)


Siti
(2014 - Fourcolours Film)

Written & Directed by Eddie Cahyono
Produced by Ifa Isfansyah
Cast: Sekar Sari, Titi Dibyo, Bintang Timur Widodo, Ibnu Widodo, Haydar Saliz, Delia Nuswantoro


Bagaikan arumanis dan simping yang dipasarkan di toko-toko roti dan supermarket besar. Atau kripik singkong yang dijual Indofood. Atau stand tahu gejrot di foodcourt mal. Atau kue cubit yang disajikan di kedai gahul yang dikasih rasa matcha green tea dan tambahan selai cokelat Nutella. Atau lagu melayu supercheesy yang diaransemen ulang oleh Andi Rianto. Kira-kira seperti itulah reaksi gw terhadap Siti, sebuah film indie asal Jogja yang nggak tayang di bioskop komersial tapi sepanjang tahun ini mendapat sorotan di beberapa festival nasional dan internasional, termasuk dinominasikan di Piala Citra (kebetulan gw nonton ini pas pekan pemutaran film-film nomine FFI). Apa maksud pengandaian gw tadi? We'll get to that later. First, ceritanya.

Kehidupan Siti (Sekar Sari) saat ini begitu berat. Bukan hanya karena ia tergolong miskin dengan tinggal di sebuah rumah semipermanen di pinggir pantai Parangtritis, tetapi ia kini menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Suaminya (Ibnu Widodo) tadinya nelayan kini lumpuh dan hanya bisa terbaring pasrah di kamar plus mogok ngomong, sementara Siti juga harus mengurus putra kecilnya (Bintang Timur Widodo) yang lumayan banyak tingkah. Belum lagi, ia dibebankan untuk melunasi utang suaminya. Untuk memenuhi semua itu, tak cukup hanya dengan jualan peyek di pantai barengan mertuanya di siang hari. Siti pun berusaha mencari penghasilan tambahan dengan kerja jadi pemandu lagu di tempat karaoke di malam hari. Beban diperumit lagi karena Siti juga mulai menjalin hubungan dengan seorang anggota polisi, Gatot (Haydar Saliz).

Sekarang, apa maksud pengandaian gw di paragraf pertama? Well, coba baca lagi ceritanya. Kalau buat gw, cerita ini benar-benar seperti premis FTV Pintu Taubat di Indosiar, bedanya di sini nggak sampai adegan tobat. Sebuah kisah yang berulang kali kita dengar dan saksikan dalam bentuk sinetron, film, dan mungkin di berita-berita, tentang tekanan hidup yang dialami seseorang akibat kemiskinan dan kemalangan, lengkap dengan keterpaksaan berada di tepi jurang kenistaan demi penuhi kebutuhan hidup, lengkap dengan adanya sosok penagih utang sebagai antagonis dan pendorong konflik, tokoh utama yang mabuk, dan dialog becandaan se-cheesy "Dia suka lho sama kamu, kalau kamu nggak mau ya buat aku aja. Ahahaha." =\. Seriously.

Akan tetapi, yang bikin Siti ini tetap menarik adalah bagaimana cerita tersebut bisa dituturkan dan dikemas dalam cara yang berbeda. Cerita yang standar banget itu bisa ditampilkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan pemikiran baru di setiap momennya. Antara kontras persona Siti di rumah dan Siti di karaoke, tekanan yang memang benar-benar menekan emosinya secara diam-diam, kegetiran mengurus seseorang yang lumpuh dan anak yang nggak nurut, iba saat melihat peyek yang dijajakannya dengan muka melas nggak kunjung dibeli orang, tuntutan kerja di dunia malam yang penuh risiko, dan tentu saja dilema untuk membiarkan diri "diselamatkan" oleh sosok baru yang (mengaku) mencintainya atau tetap setia pada suami yang kayaknya udah segan hidup. Semua itu bisa ditangkap dari rentang waktu cerita yang terjadi lebih kurang 24 jam, tanpa ada terkesan kepenuhan muatan.

Istilah "sedemikian rupa"-nya pun cukup menarik. Gambar film ini tampil hitam-putih dan rasio gambar nyaris bujur sangkar kayak buat TV tabung atau film-film lawas. Banyak pula adegan-adegan tracking satu take tanpa putus yang cukup panjang durasinya, tapi berhasil ditangkap dengan sinematografi yang apik dan bergerak mulus sehingga nggak terlalu menjemukan. Kalau saja ceritanya nggak begitu-begitu amat, terkesan nyeni banget ya film ini. Film ini nyaris sepenuhnya berbahasa Jawa, sehingga ada kesan bahwa film ini sulit dipasarkan dan dinikmati secara luas. Apalagi ditambah bagian konklusi yang puanjang, tanpa kata, dan ambigu, kurang arthouse apa coba =p. 

Padahal, ya itu tadi, ceritanya tuh ibaratnya udah makanan sehari-hari kita banget, hanya saja ditata dengan cara berbeda. Dengan tata adegan yang intimate dan tata teknis audio visual yang ciamik, serta akting pemain yang pas, Siti membuktikan bahwa kisah "kayak begitu" tetap bisa dibuat jadi film yang punya kelas, realistis dan deep. Bahwa kisah seperti ini bisa juga disajikan tidak secara verbal (to tell) seperti di sinetron-sinetron (atau film-film yang masih berpola pikir sinetron), melainkan lebih banyak ditunjukkan (to show), tapi masih bisa mudah ditangkap maksudnya. Bagaikan jajanan pinggir jalan yang masuk restoran dan diperlakukan sebagai fine dining lengkap dengan plating cantik dan Instagram-able, gw tetap bisa menikmati film Siti tanpa keberatan, walau bukan berarti pasti lebih baik.




My score: 7,5/10

2 komentar: