Minggu, 08 November 2015

[Movie] The Little Prince (2015)


The Little Prince
(2015 - On Animation Studio/Orange Studio/Paramount)

Directed by Mark Osborne
Screenplay by Irena Brignull, Bob Perischetti
Based on the novel by Antoine de Saint-Exupéry
Produced by Dimitri Rassam, Aton Soumache, Alexis Vonarb
Cast: Jeff Bridges, Mackenzie Foy, Rachel McAdams, Paul Rudd, Riley Osborne, Marion Cotillard, James Franco, Benicio Del Toro, Ricky Gervais, Paul Giamatti, Albert Brooks, Bud Cort


Menjadi dewasa adalah hal yang tak terhindarkan dari hidup manusia. Selain secara biologis akan bertambah besar dan tua, manusia juga akan dituntut untuk bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya sendiri. Untuk itulah sejak dini manusia dipersiapkan untuk menghadapinya, misalnya melalui pendidikan. Ketika tuntutan itu semakin tinggi, maka persiapannya pun akan semakin berat, sehingga kadang manusia terdistraksi dari potensi diri yang sesungguhnya.

Pernyataan itu dilontarkan jelas di pembukaan film animasi produksi Prancis, The Little Prince. Sang narator mengisahkan masa kecilnya yang membuat gambar ular yang memakan gajah bulat-bulat, namun disangka oleh orang dewasa sebagai gambar topi. Ketika ia memperjelas gambarnya lagi, orang-orang dewasa menyuruhnya untuk stop menggambar dan memfokuskan diri pada pelajaran-pelajaran eksakta, karena itulah yang dianggap penting dan berguna bagi masa depannya.

Seolah paralel dengan itu, adegan berpindah ke situasi masa kini, ketika sepasang ibu muda (diisi suara Rachel McAdams) dan anak gadisnya (Mackenzie Foy) yang berumur 8 tahun sedang tes wawancara masuk sekolah bergengsi, Werth Academy. Sekalipun sudah dipersiapkan dengan matang, tes ini gagal. Namun, sang ibu masih punya rencana cadangan. Mereka pindah rumah yang dekat dengan sekolah, dan selama liburan musim panas, sang anak harus mendedikasikan hari-harinya untuk mempersiapkan diri masuk Werth Academy. Tak hanya pengaturan jadwal pelajaran, program ketat ini juga mencakup kegiatan fisik dan diet tepat waktu. Semua demi mempersiapkan sang anak menghadapi kerasnya persaingan saat ia besar nanti.

Suatu ketika, sang gadis kecil bersinggungan dengan tetangganya, seorang kakek penerbang (Jeff Bridges) yang tinggal di rumah yang antik dan berwarna. Interaksi mereka semakin erat ketika sang kakek memberikan sebuah rangkaian cerita bergambar, tentang pengalamannya bertemu dengan seorang pangeran kecil dari luar bumi di gurun Sahara. Jika di rumahnya sendiri ia dituntut terus belajar, sang anak justru bisa menikmati kembali masa kanak-kanaknya saat bermain bersama sang kakek dan mendengarkan cerita-ceritanya. Hanya saja, hal ini tidak boleh sampai diketahui sang ibu yang menetapkan bahwa sang anak tak punya waktu untuk hal lain selain belajar.

Film The Little Prince merupakan adaptasi terbaru dari buku cerita terkenal karya pengarang Prancis, Antoine de Saint-Exupéry. Aslinya, The Little Prince mengisahkan seorang pangeran kecil dari sebuah asteroid kecil yang berpetualang hingga ke bumi demi menemukan seekor domba, untuk membantunya mencegah tumbuhan baobab menguasai asteroidnya. Di dalam petualangannya, sang pangeran bertemu dengan berbagai macam karakter, baik yang bersahabat maupun yang tidak. Setiap pertemuan itu pun memunculkan makna berbeda-beda tentang kehidupan, dari keserakahan, persahabatan, hingga cinta.

Sebagaimana terlihat, versi film terbaru ini memang tak seluruhnya memindahkan cerita buku The Little Prince, melainkan menjadikannya bagian dari sebuah cerita baru. Cerita asli The Little Prince dijadikan "cerita di dalam cerita" (ditampilkan dengan teknik animasi stopmotion, berbeda dengan cerita utamanya yang memakai teknik CGI), sekaligus sebagai kisah masa lalu sang kakek penerbang yang bertemu dengan sang pangeran kecil. Dengan cara demikian, film ini hendak membuat penafsiran dari inti cerita buku The Little Prince, dengan harapan bisa lebih mudah diserap oleh penonton sekarang.

Persoalannya sekarang apakah penafsiran tersebut bisa benar-benar ditangkap oleh penontonnya. Sebab, film ini menafsirkan kisah yang penuh simbol dengan simbol yang lain lagi. Kisah sang pangeran kecil ditampilkan paralel dengan kisah si gadis kecil, tetapi kedua karakter ini dibuat kontras. Sang pangeran kecil adalah sosok polos yang merasa kehidupan orang dewasa yang "realistis" begitu aneh. Sebaliknya, si gadis kecil jadi representasi dari anak-anak yang kritis dan mempertanyakan keabsahan dari kisah si kakek penerbang yang penuh hal-hal yang tak masuk akal.

Si gadis kecil merupakan simbol terhadap apa yang terjadi pada masyarakat modern, ketika anak-anak usia belia sudah dipaksa untuk sibuk memikirkan masa depan sedetil mungkin, ketimbang menikmati masa kanak-kanak yang dipenuhi ragam keceriaan, kepolosan, dan imajinasi. Simbol itu diperkuat dengan tata visual kehidupan kota yang serba simetris, persegi, dan monokromatis, seakan semua orang punya pemikiran dan tujuan hidup yang seragam. Sementara, hanya di rumah sang kakek saja yang bentuknya tak beraturan, melambangkan bahwa ia tak terpenjara oleh tuntutan lingkungan sekitarnya, sekaligus menikmati masa-masa yang dahulu terlewatkan dalam hidupnya—karena sang kakek adalah adalah juga sang narator di awal film. Untungnya, tata visual dan penuturan akan simbol ini termasuk paling mudah dicerna.

Tetapi, film ini kemudian melangkah ke level kompleksitas berbeda ketika sampai pada topik kehidupan dan kematian. Hal ini juga terdapat dalam kisah sang pangeran kecil, yang memberikan gambaran ambigu tentang makna "pergi dari bumi". Film ini membawanya lebih jauh lagi ketika sang gadis kecil juga menuntut penjelasan tentang hal tersebut pada si kakek. Topik ini seakan menegaskan bahwa film animasi ini bukan tipe tontonan yang bisa dinikmati sambil lalu, melainkan menuntut perenungan sesudah menonton.

Terlepas dari warna ceria, tampilan visualnya yang indah, juga musiknya yang ditata lincah dan megah, sulit untuk merekomendasikan The Little Prince sebagai sebuah tontonan seluruh keluarga. Simbol serta nilai-nilai yang dikandungnya tergolong berat dan mungkin tak bisa ditangkap sekali simak. Pendekatan drama pun lebih kental dari pada unsur humor yang wajib hadir di film dengan target penonton keluarga seperti ini.

Tentu saja, itu bukan berarti itu salah. Di satu sisi, film ini mungkin memang tidak memberikan hiburan sekental film-film animasi Hollywood, misalnya. Tetapi, di sisi lain film ini tetap berhasil menjadi sebuah adaptasi yang cukup cermat, ditampilkan memanjakan mata dan telinga secara estetika, dan mengandung makna yang mendalam. Paling tidak, itulah yang membuat film ini tetap layak diingat.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar