Sabtu, 31 Oktober 2015

[Movie] Crimson Peak (2015)


Crimson Peak
(2015 - Universal)

Directed by Guillermo del Toro
Written by Guillermo del Toro, Matthew Robbins
Produced by Thomas Tull, Callum Greene, Jon Jashni, Guillermo del Toro
Cast: Mia Wasikowska, Tom Hiddleston, Jessica Chastain, Charlie Hunnam, Jim Beaver, Burn Gorman, Leslie Hope, Emily Coutts, Doug Jones


Crimson Peak bukanlah seperti kebanyakan film berlabel horor. Benar bahwa film ini berpusat pada sebuah kastil berdesain seram dan berhantu, ditambah dengan karakter-karakter utama yang berekspresi misterius. Akan tetapi, film ini tidak bergantung pada seberapa sering penonton dibuat kaget oleh adegan-adegan menakutkan. Bahkan, definisi "horor" atau kengerian yang hendak disampaikan di film ini mungkin tidak seperti yang diduga.

Kisah dimulai di kota Buffalo, negara bagian New York, Amerika Serikat, di masa peralihan abad ke-19 ke 20. Edith Cushing (Mia Wasikowska), putri semata wayang dari pengusaha kaya bernama Carter Cushing (Jim Beaver), adalah seorang gadis terhormat yang bercita-cita menjadi penulis novel. Sayangnya, karya novelnya kurang diterima oleh penerbit, karena ia menuliskan cerita dengan unsur hantu di dalamnya, sementara seorang wanita umumnya hanya menulis roman. 

Sampai suatu ketika muncul seorang bangsawan Inggris menawan, Baronet Thomas Sharpe (Tom Hiddleston) di hadapan keluarga Cushing. Ia mengaku tertarik dengan apa yang ditulis Edith, dan terlihat juga ia tertarik pada Edith. Keduanya pun semakin dekat, terlepas dari ketidaksukaan Carter terhadap Thomas dan kakaknya, Lucille Sharpe (Jessica Chastain) yang asal-usulnya simpang siur. Keduanya kemudian menikah dan Edith dibawa pulang Thomas ke rumah keluarga Sharpe yang sudah rapuh, Allerdale Hall. Di sinilah Edith mulai menyadari begitu banyak misteri yang menyelimuti kakak beradik Sharpe dan rumah mereka.

Sutradara dan penulis Guillermo Del Toro beberapa kali mengatakan bahwa Crimson Peak adalah sebuah gothic romance, terinspirasi dari karya literatur klasik abad ke-19 yang kerap menggabungkan roman dan nuansa horor—ia pernah menyebutkan novel Wuthering Heights karya Emily Bronte hingga Rebecca karya Daphne Du Maurier. Jika mengacu pada pernyataan ini, maka bisa dimaklumi kalau Crimson Peak lebih mengutamakan penuturan roman daripada unsur horor. Alhasil, film ini berfokus hubungan Edith dan Thomas serta Lucille—ditambah sedikit cinta segitiga dengan kehadiran Alan McMichael (Charlie Hunnam) yang sudah lama menaruh hati pada Edith, sementara porsi supranatural menjadi pendukung cerita.

Dengan penyajian demikian, bisa ditebak bahwa film ini berpotensi kurang berkenan bagi yang mencari tontonan horor yang lebih straightforward, yang berfokus pada melayani hasrat penonton akan adegan seram dan mengerikan bertubi-tubi, entah itu penampakan makhluk seram ataupun teror berdarah. Bukan berarti unsur itu tidak ada di Crimson Peak, tetapi horor yang hendak dibangun di film ini memang tidak berfondasi di sana. Di sinilah definisi "horor" itu menjadi meluas, bahwa horor bukan cuma sekadar memasukkan sosok hantu atau monster di dalam cerita, melainkan bagaimana keseluruhan ceritanya bisa menimbulkan kengerian.

Yang menarik untuk disimak adalah hantu di sini bukan sebagai sumber kengerian, sekalipun wujudnya seram seperti mayat membusuk. Mereka bahkan tidak menimbulkan bahaya. Perhatian justru tertuju pada kakak beradik Sharpe yang begitu misterius. Mungkin bisa ditebak bahwa sebagai bangsawan yang sumber pendapatannya semakin terbatas, salah satu motif Thomas menikahi Edith adalah karena istrinya itu pewaris kekayaan ayahnya—sesuatu yang ternyata lazim dilakukan di zaman itu. Tetapi, gestur dan perilaku Thomas dan Lucille mengisyaratkan ada sesuatu yang lebih daripada itu.

Hal ini seakan menampilkan ironi bahwa apa yang tampak indah justru bisa lebih berbahaya daripada yang terlihat seram, bahwa manusia bisa lebih menakutkan daripada hantu. Dan lebih dari itu, film ini seperti ingin mengaburkan makna apa itu indah dan apa itu seram, yang dengan sempurna diwakili oleh rumah Allerdale Hall yang berdesain gotik—berwarna gelap dengan berbagai sudut runcing, dan kondisinya yang setengah hancur. Ekspektasi penonton pun dimainkan di sini, bahwa kengerian tidak harus timbul di tempat yang gelap dan menyeramkan, malah lebih sering terjadi di tempat yang tampak indah dan terang benderang.

Crimson Peak bisa dikatakan sajian yang unik, bahkan mungkin sedikit ganjil, tidak cukup bila digambarkan dalam satu definisi sederhana. Porsi horornya tidak seperti yang biasa disajikan di film lain—dengan menggabungkan supranatural, darah, hingga psikologis. Sebaliknya, porsi romannya justru sudah sering disajikan dalam cerita-cerita klasik. Namun, unsur-unsur itu diramu jadi tontonan dengan visual menawan dan menyimpan makna lebih dari yang diujarkan lewat dialog, sekaligus masih mudah untuk diikuti. Pilihan untuk lebih banyak bercerita tentang intrik antara Edith dan kakak beradik Sharpe mungkin membuat laju film ini jadi tersendat di beberapa momen. Tetapi, Crimson Peak tetap berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikan, membangun cerita yang utuh dan menyajikannya lewat adegan-adegan yang ditata cermat, baik yang cantik maupun yang mencekam.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

1 komentar:

  1. Tapi ada kok penggemar fiLm horor kawakan yang biLang Crimson Peak Lebih horor daripada The Vatican Tapes atau Conjuring ��

    BalasHapus