Jumat, 25 September 2015

[Movie] Heart Attack (2015)


ฟรีแลนซ์..ห้ามป่วย ห้ามพัก ห้ามรักหมอ (Freelance...Hâam Bpùay, Hâam Pák, Hâam Rák Mŏr)
Heart Attack
(2015 - GTH)

Written & Directed by Nawapol Thamrongrattanarit
Produced by Jira Maligool, Wanruedee Pongsittisak, Chenchonnanee Soonthonsaratul, Suwimol Techasupinan, Weerachai Yaikwawong
Cast: Sunny Suwanmethanon, Davika Hoorne, Violette Wautier, Nottapon Boonprakob, Torpong Chantabubpha


Film Heart Attack resmi menjadi film Thailand pertama yang gw tonton di bioskop. Iye iye, I know, kenapa baru sekarang. Film Thailand sebenarnya udah mengalir lancar di bioskop kita (jaringan Blitz sih) sejak beberapa tahun lalu, tapi somehow memang belum menarik minat gw aja. Film ini juga tadinya nggak menarik-menarik amat buat gw, tetapi ya akhirnya gw berkesempatan nonton dan menemukan bahwa film ini di luar ekspektasi gw, dan mungkin di luar ekspektasi banyak orang. Setahu gw film-film Thailand yang masuk sini kebanyakan film hore-hore--komedi romantis konyol dan sebagainya, tapi Heart Attack ini sepertinya bukan masuk kategori itu, baik dari depth ceritanya maupun gaya penyajiannya.

Seorang freelance graphic designer bernama blablabla tapi panggilannya Yoon (Sunny Suwanmethanon)--suku kata yang sebenarnya nggak ada dalam namanya, tapi ya I guess it's a Thai thing--yang lagi banyak orderan dan hidupnya nggak sehat, terpaksa harus ke dokter karena mulai muncul bentol-bentol di tubuhnya. Karena rumah sakit swasta mahal dan Yoon sebagai freelancer nggak punya asuransi, dia akhirnya datang ke rumah sakit umum, dan diperiksa oleh dokter muda cantik yang dipanggil Im (Davika Hoorne). The first problem, semua saran dokter untuk sembuh sangat bertentangan dengan kebutuhan Yoon sebagai seorang freelancer yang harus meet the deadline dengan hasil maksimal. Kalau performa menurun karena dia break atau apa, ada kemungkinan dia nggak bisa dapat orderan sebanyak sekarang. The second problem, Yoon naksir Im yang orangnya juga ramah, tapi kalau ketemu harus sesuai perjanjian kontrol pemeriksaan sebulan sekali.

Kalau mau dibilang komedi romantis, Heart Attack bisa masuk kategori itu, bisa juga nggak. Karena, unsur komedi dan romantisnya itu nggak selalu beririsan di sini. Film ini lebih ke character-driven comedy, yang komedinya pun lebih ke dark comedy, sementara romannya lebih sebagai motivasi saja. Gw melihat skenario ini memang lebih menitikberatkan pada pergumulan Yoon sebagai seorang freelancer yang dipaksa menata ulang prioritas hidupnya. Bahwa dia juga digambarkan antisosial, ngomongnya matter-a-fact nggak mikirin perasaan orang, dan tahunya hanya kerja, membuat karakter ini semakin menarik. Untungnya juga, karakterisasi Yoon tidak terlalu komikal, malah cenderung natural, nggak berusaha keras untuk melucu, sekalipun tindak-tanduknya kadang nyeleneh. Kelucuan film ini justru hadir dari dialog yang witty, dan somehow tidak terdengar konyol sekalipun diujarkan dalam bahasa sono *eh? maksudnya? =p*.

That being said, sosok di luar Yoon benar-benar hanya penyanggah saja. Bahkan Im yang tampil di poster porsinya terbilang lebih sedikit dibandingkan liaison-nya Yoon, Je (Violette Wautier). Tapi, bukan berarti momen-momen Yoon bareng Im nggak signifikan sama sekali. Masih dengan gaya yang mengalir natural, romansanya tetap bisa muncul sekalipun tindakan mereka hanya ngobrol konsultasi dan pemeriksaan. Bagian ini sebenarnya mengingatkan gw sama salah satu dorama Jepang, Kekkon Dekinai Otoko/He Who Can't Get Married--yang kalau nggak salah pernah disadur Korea juga, tapi Heart Attack menurut gw tidak seeksentrik itu, dan mungkin lebih pas aja sama latar sosial budaya modern Thai saat ini *sok tahu*. 

Tapi, mungkin yang paling menarik perhatian gw dari Heart Attack adalah gaya penyajiannya yang gw nggak sangka datang dari sebuah film mainstream. Gw melihat ada sentuhan artsy dari film ini, khususnya dari pengambilan gambarnya. Semua gambar diambil dengan kamera secara hand-held dan banyak sekali adegan yang one take dengan kameranya gerak terus di dalam ruangannya. Adegan-adegan dan dialognya dibiarkan mengalir tapi tepat sesuai cue dan menurut gw itu cukup impressive buat sebuah film yang "dijual" sebagai komedi romantis. Ada vibe yang beda tapi juga nggak terlalu alienating.

Gw siap banget untuk memberi ponten bagus untuk film ini, cuman sayang film ini agak mulai terbawa suasana ketika menjelang akhir mulai terlalu kontemplatif yang makan durasi, padahal bisa aja di-cut dengan hasil ending yang sama. Tapi, yah, karena film ini udah mengangkat kisah yang oke dengan gaya penyajian yang oke juga, bagian itu nggak terlalu bikin nge-drop sih. Informatif, bisa bikin ketawa, dan bisa juga bikin mikir *tentang motivasi bekerja, misalnya* tanpa harus nge-judge apa yang benar dan yang salah. Heart Attack mungkin nggak bikin gw jantungan saking bagusnya, tapi minimal udah mencolek perhatian gw.




My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar