Senin, 28 September 2015

[Movie] 3 Dara (2015)


3 Dara
(2015 - MNC Pictures)

Directed by Ardy Octaviand
Screenplay by Nataya Bagya
Story by Ardy Octaviand
Produced by Toha Essa, Rina Harahap
Cast: Adipati Dolken, Tora Sudiro, Tanta Ginting, Rianti Cartwright, Ayushita, Melayu Nicole Hall, Shara Virrisya, Farali Khan, Lembu Wiworojati, Hengky Solaiman, Melissa Karim, Indra Birowo


Jika judul dan premis film ini terdengar membingungkan, well, emmmang. 3 Dara (instead of the classic movie Tiga Dara) adalah sebuah film komedi tentang tiga pria--iya, pria--yang mengalami perubahan menjadi wanita. Well, di situ sih nggak membingungkan, justru menarik sebenarnya. Kebingungan itu justru datang setelah gw nonton dan mencoba menalar ceritanya, karena ketiga pria ini tidak "berubah" jadi wanita, tapi "punya perasaan wanita", sedangkan yang lain-lainnya tetap bersifat laki-laki, mulai dari tampilan sampai preferensi seksualnya. Bingung? Sama.

Gw sebenarnya membaca ada ide yang sebenarnya menarik di film ini tapi akhirnya ditahan-tahan di hasil akhirnya supaya menghindari kesan stereotipikal. Jadi, tiga orang pria metropolis bersahabat, sayangnya tidak dijelaskan bersahabatnya kenapa dan bagaimana, yang pasti mereka sama-sama brengsek sama wanita. Suatu kali mereka nggangguin seorang pelayan cewek bersuara lucu, terus di-"kutuk" akan merasakan apa yang dirasakan wanita. Besoknya, mereka jadi selalu merasa gendut, berani ngajak kawin, risih melihat foto perempuan sensual, gregetan nungguin miscall pacar sembari bikin teori yang nggak-nggak, dan karaoke centil lagu Raisa di mobil bareng-bareng. Seorang psikolog langsung mendiagnosis mereka sedang alami transisi menjadi wanita, dengan kemungkinan pada akhirnya nanti mereka akan berniat operasi kelamin.

I don't know, ada yang kurang dari sini. Gw nggak yakin bahwa apa yang digambarkan dari film benar-benar mewakili perubahan pria ke wanita. Kayaknya sih emang niatnya lebih subtle, emang nggak tiba-tiba mereka jadi kewanita-wanitaan altogether, tapi sayangnya itu jadi confusing. Gw rasa sih permasalahannya ada di set up awalnya. Gw nggak lihat sifat dan kelakuan khas tiga cowok ini saat jadi pria, sehingga nggak bisa membandingkannya ketika mereka jadi "wanita". Kalau diturunkan lagi, kayaknya masih rancu di sini juga apa sih yang disebut "perasaan wanita" dan "perasaan pria", apa bedanya, dan apakah itu semua valid secara ilmiah, misalnya.

Mungkin yang paling bermasalah di situ adalah karakterisasi dari Richard (Tanta Ginting), yang seriously hampir nggak kelihatan sama sekali bahwa ia sedang bertransisi sebagai perempuan (malah, sebenarnya kisah Richard ini bisa bikin film sendiri tentang cowok brengsek yang tiba-tiba "melanggar batas persahatan" *biar nggak spoiler =p*). That's why gw bilang gw bingung sama film ini. Gw hargai usaha film ini menghindari unsur banci-bancian yang notabene akan lebih sangat gampang dibuat dan dipahami, tapi kayaknya konsep yang dikembangkan ini agak terlalu rumit untuk dibikin jadi sebuah komedi ringan.

Tapi okelah, di tengah kebingungan gw, once in a while film ini masih bisa mencapai tujuannya untuk menghibur. Nggak sampe lucu banget, tapi beberapa humornya masih bisa bikin tersenyum dan tampilan visualnya juga nggak mure-mure amat. Penampilan para pemainnya juga okelah--gw kagum sama betapa naturalnya mbak Shara Virrisya (d/h Shara Aryo) jadi seorang istri rada Banyumasan =D. Other than that, kayaknya gw terlalu terdistraksi sama kebingungan gw terhadap pilihan-pilihan yang diambil film ini dalam ceritanya. Antara mau angkat message sederhana jangan kurang ajar sama perempuan, atau serumit kritik terhadap peran gender di masyarakat, film ini sayangnya hit neither of them. Ya untungnya saja secara kemasan film ini masih punya kelas dan masih menyimpan nilai hiburan.





My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar