Selasa, 11 Agustus 2015

[Movie] Mission: Impossible - Rogue Nation (2015)


Mission: Impossible - Rogue Nation
(2015 - Paramount)

Directed by Christopher McQuarrie
Screenplay by Christopher McQuarrie
Story by Christopher McQuarrie, Drew Pearce
Based on the TV series created by Bruce Geller
Produced by Tom Cruise, J.J. Abrams, Bryan Burk, David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger
Cast: Tom Cruise, Jeremy Renner, Simon Pegg, Rebecca Ferguson, Ving Rhames, Alec Baldwin, Sean Harris, Simon McBurney, Tom Hollander, Zhang Jingchu, Jens Hultén


Dengan respons dan hasil box office yang beragam, franchise film spionase Mission: Impossible versi layar lebar akhirnya tetap bertahan sampai 19 tahun. Tahun ini, dirilislah film terbarunya, Mission: Impossible - Rogue Nation, yang masih dibintangi Tom Cruise sebagai agen tangguh Ethan Hunt untuk kelima kalinya. Yang menarik, film garapan Christopher McQuarrie ini akhirnya berani untuk tidak lagi memusatkan cerita pada sosok Ethan saja. Film ini pun jadi yang relatif paling dekat dengan konsep dasar serial TV-nya dulu.

Jika ditilik kembali, empat film Mission: Impossible terdahulu memang lebih banyak menyorot sosok Ethan sebagai protagonis utama dan penggerak segala sesuatu. Ia yang menjadi motor dengan perencanaan dan pelaksanaan, termasuk aksi-aksi paling berbahaya. Sehingga, sekalipun ia memimpin sebuah tim mata-mata berkeahlian tinggi, ia terkesan jadi pahlawan dan harapan satu-satunya—mungkin juga karena tokoh ini diperankan oleh Cruise yang seorang superstar.

Kecenderungan ini agak menyimpang dari konsep Mission: Impossible versi TV sejak 1967, yang lebih mengutamakan kerja tim, bahwa kesuksesan misi tidak bergantung pada satu orang saja. Dalam versi layar lebarnya, nilai-nilai tim itu baru mulai terasa pada Mission: Impossible III (2006) dan Mission: Impossible - Ghost Protocol (2011). Namun, cerita kedua film ini masih berpusat pada Ethan, dengan memunculkan sisi kehidupan personalnya yang turut terseret dalam kehidupannya sebagai mata-mata.

Rogue Nation pun menjadi lebih menyegarkan karena plot film ini tidak lagi berpusat pada Ethan secara pribadi, sekalipun ia tetap jagoan utamanya. McQuarrie yang turut menulis skenario tampaknya beranggapan para penonton sudah cukup mengenal pribadi Ethan selama hampir 20 tahun, sehingga ini saatnya move on dan membiarkan Ethan berkonsentrasi pada misi dan timnya. Dan, inilah yang membuat bangunan cerita Rogue Nation menjadi lebih leluasa dalam menyorot pertempuran dan intrik kebaikan melawan kejahatan, tanpa terbeban bahwa segalanya harus berkaitan dengan pribadi Ethan. Sekarang, dorongan Ethan untuk beraksi murni menyangkut perdamaian dunia.

Akibat misi-misi rahasia berdampak besar yang dilakukan IMF (Impossible Mission Force), pemerintah AS akhirnya membekukan organisasi rahasia ini, dan segala operasinya dilimpahkan ke badan intelijen CIA, sebagaimana tuntutan sang direktur Alan Hunley (Alec Baldwin). Padahal, justru di saat ini agen terbaik IMF, Ethan Hunt mempunyai petunjuk kuat tentang keberadaan Syndicate, sebuah organisasi gelap yang menjadi dalang peristiwa terorisme kelas tinggi tanpa terdeteksi di berbagai tempat di dunia. Mengetahui pembekuan IMF dari agen William Brandt (Jeremy Renner), Ethan kemudian membangkang dan menjadi buronan CIA.

Enam bulan sejak IMF dibekukan, Ethan menemukan cara untuk menghubungi rekannya dari IMF, Benji Dunn (Simon Pegg) untuk membantunya menyelidiki lebih lanjut tentang Syndicate, dimulai dari sebuah percobaan pembunuhan kanselir Austria di Wina. Namun, di saat yang sama Ethan bertemu juga dengan Ilsa Faust (Rebecca Ferguson), seorang agen rahasia Inggris yang kini dekat dengan Solomon Lane (Sean Harris), yang disebut sebagai pemimpin Syndicate. Ethan dan Benji pun berusaha membongkar Syndicate melalui Ilsa, sekalipun tak sepenuhnya yakin wanita tersebut berada di pihak mana.

Secara kasat mata, Rogue Nation mudah saja dianggap sebagai satu lagi film blockbuster Hollywood yang tak boleh dilewatkan hanya karena ini adalah film blockbuster Hollywood. Apalagi, film ini dibintangi Cruise dan merupakan film dari franchise terkenal. Ditambah lagi, film ini merambah berbagai elemen internasional, seperti pengambilan gambar di Maroko, Inggris, Austria, sampai disebutnya Jakarta dalam dialog dan pertunjukan opera berlatar China kuno—mungkin berkaitan dengan Rogue Nation yang diproduksi Paramount bersama rumah produksi asal China, Alibaba Pictures.

Rogue Nation sendiri sebenarnya sangat memenuhi ekspektasi itu. Hampir setiap adegan laga di film ini sanggup meninggalkan kesan yang khas. Mulai dari Ethan bergelantungan di pesawat yang lepas landas, kebut-kebutan di Maroko, hingga penyusupan di komputer bawah air, yang digarap rapi dan timbulkan efek suspense. Terlebih lagi, sebagian besar adegan laga di film ini dieksekusi dengan tidak bergantung penuh pada CGI, sehingga tampak lebih meyakinkan. Dan, untungnya, McQuarrie dan timnya menampilkan adegan-adegan itu dalam takaran yang tepat, fantastis tapi tidak over-the-top, dan sesuai dengan prinsip IMF sebagai organisasi yang beroperasi secara rahasia.

Tetapi, Rogue Nation sebenarnya tidak hanya unggul di sana. Sebagaimana disinggung sebelumnya, Rogue Nation bisa dikatakan sebagai film Mission: Impossible yang paling adil dalam membagi porsi tokohnya. Meski Ethan masih dikedepankan, film ini memberi kesempatan bagi Benji, William, juga Luther (Ving Rhames, satu-satunya pemeran yang masih bertahan dari film pertama selain Cruise) untuk tampil dalam porsi signifikan dengan kepribadian masing-masing. Tokoh-tokoh baru seperti Ilsa, Hunley, dan Solomon berhasil dihadirkan dengan presence yang kuat, dimainkan oleh aktor-aktris yang berkarakter kuat pula.

Kekompakan performa para pemain turut memperkuat tuturan ceritanya. Tanpa pengungkapan-pengungkapan yang terlalu manipulatif, Rogue Nation dituturkan dengan ritme yang tepat. Film ini bisa saja larut dalam pembahasan politik tentang operasi rahasia pemerintah dan juga Syndicate yang menentang kapitalisme, tetapi film ini tetap fokus misi utama dari Ethan dan timnya dalam meringkus Syndicate. Penataan adegan Rogue Nation juga termasuk berkelas, bahkan puitis. Film ini tidak dijejali dengan banyak dialog, namun adegan-adegan yang ditampilkan mampu bercerita dengan efektif, tanpa memerlukan penjelasan panjang lebar.

Salah satu bukti paling nyata adalah adegan percobaan pembunuhan di gedung opera di Wina, yang nyaris tanpa dialog atau bahkan suara mulut. Gerak-gerik dari para tokoh ditata sedemikian rupa dengan latar belakang musik opera yang keras, seolah-olah mereka juga bagian dari opera tersebut. Hal yang sama juga dikatakan pada bagian klimaksnya, yang meskipun tidak se-ingar-bingar babak-babak sebelumnya, tetapi memperkuat poin bahwa Mission: Impossible adalah kisah sebuah tim.

Mungkin agak prematur bila menyatakan Rogue Nation adalah film Mission: Impossible terbaik. Setiap film di franchise ini dibuat oleh sutradara berbeda-beda dan sesuai dengan tuntutan zamannya, sehingga cara memandangnya pun bisa berbeda. Tetapi, satu hal yang pasti, dengan cerita yang kuat, gambar-gambar sedap dipandang (film ini syuting menggunakan media film seluloid), dan tata suara mumpuni, Rogue Nation berhasil menyajikan sebuah tontonan berkelas, seru, thrilling, sesekali lucu, dan juga respek terhadap konsep dasar franchise ini.




My score: 8/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar