Senin, 31 Agustus 2015

[Movie] Love You...Love You Not... (2015)


Love You...Love You Not...
(2015 - MVP Pictures)

Directed by Sridhar Jetty
Screenplay by Mira Santika
Based on the Thai film I Fine...Thank You Love You released by GTH
Produced by Raam Punjabi
Cast: Chelsea Islan, Hamish Daud, Miller Khan, Kemal Palevi, Fico Fachriza, RR Melati Pinaring, Rizka Dwi Septiana, Ivanka Suwandi


Ada sesuatu yang, emm, "klasik", dari keberadaan film ini. Komedi romantis dengan premis yang cukup konyol dengan dua pemain utama yang good looking. Yang gw tangkap adalah memang film ini tidak dirancang sebagai film yang akan punya dampak secara artistik, tapi lebih kepada dampak komersial. Kalau bahasa gw, film lucu-lucuan. Diadaptasi dari film Thailand yang kebetulan belum gw tonton karena masalah selera telinga =p, Love You...Love You Not... sebenarnya bisa jadi sebuah film komedi menyenangkan, seandainya semua lini bersinergi dengan baik, atau setidaknya dalam kualitas rata-ratalah. Sayangnya, itulah masalah di film ini.

Premis film ini adalah soal pengajar bahasa Inggris cantik Amira (Chelsea Islan) yang dipaksa mengajar seorang pemuda kampung Juki (Hamish Daud) yang mau menyusul pacarnya ke Amerika. Tentu saja mereka kemudian akan saling suka, tapi akan selalu ada penghalangnya, kali ini berwujud pria lain Taufan (Miller Khan) yang naksir Amira. Premis ini kayaknya persis seperti film Thailand-nya, dan seharusnya sih nggak masalah ketika hendak di-Indonesia-kan. Harusnya.

Sayangnya, peralihan ke versi Indonesia-nya sama sekali nggak mulus. Ke-awkward-an orang Indonesia berbahasa Inggris tidak digali dengan benar dan alami, sehingga jadinya kurang lucu. Gw hakul yakin bahwa orang Indonesia akan lebih mudah berbahasa Inggris ketimbang orang Thailand yang bahkan nggak pake huruf alfabet dalam kesehariannya. Tapi bukan berarti kita nggak punya kelucuan-kelucuan yang bisa digali dari kesulitan berbahasa Inggris, mungkin beda bentuknya, tapi bisa sama lucunya, yang sayangnya tidak di-capture di film ini. I mean, kenapa nggak angkat kebiasaan kita niru quote film atau lagu tapi salah denger atau salah tulis? You know, side dish jadi set dish misalnya?

Tapi, sebenarnya permasalahan utama film ini bukan cuma di situ, tetapi juga dari keputusan-keputusan kreatifnya. Pengadeganan komedinya menurut gw masih sangat sinetron, sementara sex jokes-nya--yang ternyata banyak sekali--juga kurang kena di gw. Casting Hamish Daud sebagai pemuda Betawi berwajah bule memang berisiko, yang sayangnya tidak ditangani dengan baik ketika dia masih kelihatan lebih jago bahasa Inggris specifically logat Australia ketimbang bahasa rumpun Melayu, same thing buat sosok si pacar Jepangnya yang sorry to say tidak ada sama sekali jejak-jejak yang menunjukkan dia orang Jepang, bahkan dari gesturnya. Pemilihan dan pembawaan pemain di film ini yang kurang tepat atau kurang maksimal agak distracting buat gw. 

Gw juga merasa film ini terlalu banyak missing link dari penuturan ceritanya. Progres pelajaran bahasa Inggris Juki kayak kelupaan untuk diangkat padahal itu kan penting, demikian juga bangunan kedekatan Amira dan Juki yang hampir nggak ada, sehingga ketika tiba saatnya mereka menyadari saling suka, gw jadi mikir "sejak kapan?". Romance-nya pun jadi kurang keluar, padahal itu arah utama film ini. Gw curiga, film ini seperti kejar tayang sehingga setelah editing kayak nggak dicek dulu ada yang "ilang" atau tidak sebelum dirilis. Setelah pemilihan lelucon yang menurut gw kurang pas, eh ditambah lagi sama kesinambungan cerita dan emosinya yang seperti kurang diperhatikan.

Untunglah di film ini masih ada Chelsea Islan yang sebenarnya sangat cocok tampil santai seperti ini, selain bahwa gambar-gambar di film ini sangat jeli menangkap kerupawanannya hampir di setiap angle =). Dan, ada salah satu bagian yang menurut gw amusing, ketika film ini melakukan semacam homage terhadap sinetron-sinetron era 90-an awal 2000-an dari Multivision Plus dengan kehidupan glamor dan mewah dari keluarga si Taufan. Wow those furnitures, clothings, jewelries, wines, and sasakan, bring me straight to that Abad 21 or Dewi Fortuna era. Oh, selain tentu saja bahwa ternyata banyak adegan film ini mengambil lokasi di Bekasi, hahaha.

Film ini sebenarnya bisa lho jadi film lucu-lucuan yang menyenangkan. Tapi, sayangnya potensi itu tidak bisa dimaksimalkan, mungkin sejak dari skenario atau dari penyuntingan akhirnya, I guess I'll never know which. Terlalu banyak kurangnya jadi ya susah juga kalau dibilang gw menikmati film ini. Padahal mungkin yang dibutuhkan film ini cuma more time, waktu buat mantepin skenario, mantepin si Hamish jadi orang Betawi, mantepin casting, mantepin editing, mantepin, umm, well, semuanya sih, pada dasarnya.




My score: 5,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar