Minggu, 31 Mei 2015

[Movie] Mad Max: Fury Road (2015)


Mad Max: Fury Road
(2015 - Warner Bros.)

Directed by George Miller
Written by George Miller, Brendan McCarthy, Nico Lathouris
Produced by George Miller, Doug Mitchell, P.J. Voeten
Cast: Tom Hardy, Charlize Theron, Nicholas Hoult, Hugh Keays-Byrne, Josh Helman, Zoe Kravitz, Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keogh, Abby Lee, Courtney Eaton, Nathan Jones, John Howard, Richard Carter, Megan Gale, Melissa Jaffer, iOTA


Mad Max: Fury Road sekilas seperti satu lagi korban wabah sekuel, reboot, spin-off, dan adaptasi yang masih melanda Hollywood. Fury Road adalah judul keempat dari Mad Max, franchise film post-apocalyptic action asal Australia yang semuanya digarap oleh sineas George Miller. Memanfaatkan perkembangan teknologi dan cara pandang masa kini, Miller nyatanya bukan hanya ingin mengulang kejayaan masa lalunya lewat Fury Road, tetapi juga membuat definisi baru dari film action.

Jarak antara tiga film sebelumnya dengan Fury Road bisa dibilang satu generasi. Film Mad Max pertama dirilis tahun 1979, Mad Max: The Road Warrior tahun 1981, dan Mad Max: Beyond Thuderdome di tahun 1985. Cukup adil bila dikatakan banyak penonton generasi sekarang tidak mengenal franchise ini, apalagi di era yang penuh dengan film-film superhero, Transformers, dan Fast & Furious. Dan, memang timbul kekhawatiran bahwa mereka yang kurang mengenal franchise Mad Max akan ragu untuk menghampiri Fury Road, sekalipun sudah memasang nama-nama bintang seperti Tom Hardy dan Charlize Theron.

Akan tetapi, apa yang diniatkan dalam film-film action masa kini sebenarnya masih sama dengan niat awal diciptakannya seri Mad Max: menampilkan deretan adegan laga spektakuler memacu adrenalin. Dalam hal ini adalah gabungan kejar-kejar mobil ditambah bumbu adu jotos dan senjata. Lagipula, itu juga formula yang sangat diterima luas penonton dunia, apapun bentuk ceritanya. Berdasarkan itu, Fury Road sebenarnya masih bisa dinikmati oleh penonton baru.

Film ini memang pada dasarnya sekuel dari trilogi orisinal Mad Max, tetapi kontinuitasnya tidak terlalu penting, sebab sosok Max Rockatansky sendiri sudah dirancang sebagai karakter yang muat di segala situasi. Seperti halnya franchise James Bond yang keterkaitan satu film dengan film yang lain sangat kecil, Fury Road bisa dianggap sebagai satu lagi perhentian dari pengembaraan Max, sang survivor sejati di bumi yang telah kolaps dan peradabannya mulai dari nol lagi.

Penonton yang akrab dengan trilogi orisinal Mad Max punya keuntungan kenal lebih dalam dengan sosok Max, lengkap dengan sejarah dan traumanya. Namun, yang baru kenal juga tidak akan terlalu kehilangan, karena sekilas latar belakang dan sosok Max yang ditampilkan di film ini sudah cukup mudah dimengerti—walau kemudian timbul kesan penokohannya kurang utuh di sini. Selanjutnya, tinggal duduk dan nikmati perjalanan seru dan brutal dari film ini, yang dijahit dengan plot Max (Hardy) membantu Furiosa (Theron) melarikan diri dengan truk yang disebut War Rig melintasi gurun demi mencari kehidupan baru.

Dengan konsep layaknya kejar-kejaran kereta kuda dalam film-film koboi, atau perang antarkapal di film-film bajak laut, Fury Road terbilang sangat berhasil menampilkan menu utamanya, yaitu keseruan tingkat tinggi lewat rangkaian peperangan di atas mobil-mobil modifikasi yang melaju kencang. Apalagi adegan-adegan laganya ditata sangat ekstrem, berani, menyerempet batas logika, dan banyak yang belum pernah ditampilkan di film-film lain. Fury Road pun terasa makin menyegarkan ketika terlihat bahwa fim ini tidak "manja" dalam penggunaan efek animasi CGI. Sekalipun tetap ada (seperti efek tangan buntung dari Theron), porsinya terbilang minim, halus, dan tidak dipamer-pamerkan, sehingga justru memberi dampak yang lebih dramatis.

Sulit untuk tidak kagum pada pencapaian teknis Fury Road, terutama dalam konsep dan penataan adegan laga, desain bidang-bidang artistik, penataan gambar dan komposisi warnanya yang sangat indah dipandang. Demikian juga dengan liarnya imajinasi, mulai dari dandanan tokoh-tokohnya sampai penggunaan gitaris metal sebagai penyemangat perang. Dan, perlu diperhatikan juga, Fury Road adalah film yang tidak banyak dialog. Saat digambarkan demikian, memang terkesan Fury Road adalah satu lagi film Hollywood remeh dan bodoh yang penting mata dan telinga dipuaskan. Akan tetapi, Miller dan krunya terbukti teliti untuk bisa menyampaikan sebuah cerita yang memuat banyak lapisan, sekalipun plot filmnya tampaknya sederhana.

Contohnya, film ini secara efektif memberi gambaran yang cukup lengkap tentang sebuah peradaban (kota) bernama Citadel, yang jadi titik awal plot film ini. Dari pembedaan kelas hingga penyalahgunaan kekuasaan—dalam bentuk monopoli air bersih, Citadel lambangkan segala yang keliru dari peradaban manusia. Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne) yang sudah lemah harus menutupi kerentanannya dengan topeng dan pakaian yang tampak kokoh, demi ilusi bahwa ia adalah sosok yang dipuja. Padahal rakyat hanya memandangnya karena butuh air bersih. Keadaan itu juga menimbulkan ekstremisme buta dalam bentuk pasukan berani mati War Boys, secara khusus diwakili Nux (Nicholas Hoult), yang mau lakukan apa pun demi bisa "dianggap" oleh Immortan Joe yang menjanjikan surga (di sini disebut Valhalla) dan membebaskan mereka dari penderitaan duniawi. 

Tidak juga hanya dari tampilannya, Immortan Joe juga melengkapi ilusi kekuasaannya dengan anggapan hanya keturunannyalah yang boleh hidup layak. Ia mempergunakan banyak wanita—dengan ciri terbaik tak bercacat cela—sebagai pabrik anak. Walaupun ternyata banyak dari anak-anaknya lahir dengan cacat, entah karena radiasi dampak perang nuklir, atau memang gen dirinya ternyata tidak sebaik yang ia kira. Celah kelemahan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Furiosa, juga Max, untuk akhirnya memberontak atas represi yang dilakukan Immortan Joe.

Namun, satu hal paling menarik dari Fury Road adalah kentalnya tema tentang perempuan. Tak sekadar ada tokoh Furiosa yang tangguh (dan dimainkan sangat garang oleh Theron) dan geng perkasa yang terdiri dari kaum perempuan senja, tidak juga hanya dilambangkan dari kehamilan beberapa tokohnya. Sebuah adegan menunjukkan bibit-bibit tanaman yang disimpan dan dirawat oleh perempuan, yang nantinya bisa ditumbuhkembangkan di tempat yang tepat. Film ini mengangkat perempuan sebagai cikal bakal peradaban, sebagai kontras terhadap perlakuan dari Immortan Joe kepada perempuan sebagai barang kepunyaan (termasuk para istrinya yang diberi pakaian eksploitatif). 

Dalam hal film yang (diam-diam) punya misi pemberdayaan perempuan, Fury Road pun melangkah lebih jauh dari sekedar perempuan bisa menang berkelahi. Di sini, perempuan juga jadi agen perubahan. Ini adalah statement yang membuat Fury Road jadi lebih istimewa, terutama sebagai film yang genrenya justru lebih banyak digemari kaum lelaki—kaum yang sebagiannya mungkin akan senang begitu saja dengan cara berpakaian para istri Immortan Joe tanpa mau tahu alasan di baliknya.

Yang patut dikagumi lagi, semua konten tersebut bisa muat dalam sebuah film action intensitas tinggi berdurasi hanya 120 menit, dan porsi dialog yang tidak banyak. Fury Road pun menjadi salah satu contoh film yang sukses membuat sajian yang sangat menghibur, namun tidak membodohi penontonnya. Dari tema, cerita, juga kemasannya, film ini berhasil keluar sebagai tontonan yang tak menuntut penontonnya banyak berpikir, tapi kalau mau berpikir pun film ini punya kekayaan yang bisa digali, lebih dari sekadar kebut-kebutan dan pertarungan bising.




My score: 8/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar