Sabtu, 30 Mei 2015

[Movie] LDR (2015)


LDR
(2015 - Maxima Pictures)

Directed by Guntur Soeharjanto
Written by Cassandra Massardi
Produced by Ody Mulya Hidayat
Cast: Mentari De Marelle, Verrell Bramasta, Al Ghazali, Aurellie Moeremans, Luthya Suri, Muhadkly Acho, Fahmi Bo


Lama-lama lelah juga gw sama cara-cara cheap oknum-oknum film Indonesia dalam jualan. Ada yang pake judul hebohlah, pemain sensasionallah, setting luar negerilah, cela-celaanlah, cari-cari gelarlah, sampai nayangin filmnya dengan cara nyicil (nggak sekali selesai). Masih ingat sama 99 Cahaya di Langit Eropa? Film itu produksi Maxima Pictures yang ternyata dibelah dua...walau kemudian dibikin ringkasannya dengan embel-embel The Final Edition yang tentu saja sangat diperlukan. SANGAT diperlukan *lagsung gumoh*. Lalu perusahaan yang sama membuat film roman remaja LDR. Sebuah paket lengkap untuk jualan: judulnya hits di kalangan muda, setting luar negeri, pemainnya anak-anak dari artis terkenal, dan filmnya dibelah dua. Yup, LDR ini bernama lengkap LDR Part 1, sebuah sajian kurang dari 90 menit yang nantinya akan disambung di film Part 2. Bahwa film ini nggak belajar dari kesuksesan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang panjangnya dua kali LDR tapi tetap bisa jual satu juta tiket lebih, dan ditambah extended version yang panjangnya 200 menit sekali jalan dan masih mengumpulkan ratusan ribu penonton, it's beyond me

Sebenarnya gw juga bingung gimana caranya nge-review film yang jalannya baru separoh. Maksud gw, premis film ini adalah kisah cinta muda-mudi segi-sekian, ditekankan seorang cewek penggemar kisah Romeo dan Juliet harus memilih siapa yang akan jadi Romeonya di antara dua pilihan, pas di suasana tempatnya di Italia. Tapi apa? LDR Part 1 ini bahkan belum sampai ke situ. Itu ternyata premis untuk Part 2! Agak penipuan ya. Nama Al Ghazali ada di paling depan, tapi tokohnya di sini barely there, tentu saja dengan dalih ia akan berperan besar di Part 2. Gw tahu karena sebelum film berakhir udah ada teaser untuk Part 2-nya yang tayang entah kapan. An old school "episode selanjutnya" in sinetrons style, which is more iritating karena ini film bioskop. Okelah, 99 Cahaya itu tokohnya banyak jadi ceritanya panjang. Okelah Perahu Kertas span waktunya juga panjang. Lha LDR ini? Tokohnya aja cuma empat, span waktunya juga nggak lama-lama amat. Excuse untuk dibelah jadi dua part apa lagi selain ngabis-ngabisin duit penonton? Gw ragu, sebenarnya mereka pada respek nggak sih sama penontonnya? Bahkan sound dan dubbing-nya low-quality bangat. Apa sih maunya?

Baiklah, kita fair aja, gw nggak bisa komentarin ceritanya, mau bilang sweet atau apa ya belum bisa juga, karena the whole movie ternyata cuma pendahuluan, tanpa akhiran, semi-akhiran, ataupun tanda-tanda mau ke mana arahnya, dan sebenarnya bisa aja selesai dalam setengah jam. Pemandangan? Well, dengan adanya INTERNET dan video demo yang ditayangin di display LED TV di toko-toko elektronik, pemandangan udah bukan lagi hal yang istimewa. Malah gw perhatikan editornya kayak sempet keblinger antara mana Roma mana Milan ketika harus selip-selipin the obligatory gambar-gambar pemandangannya. Tapi paling nggak, Mentari De Marelle bermain dengan menarik dan fresh, demikian juga Aurellie Moeremans. Mereka bermain lebih baik dari cowok-cowoknya karena mungkin lebih berpengalaman, atau simply karena punya actual talent sementara yang lainnya....err.... Anyway, gw juga masih nggak masalah sama pengarahan adegannya--I still have faith in Guntur Soeharjanto tapi sayangnya film-film dia selalu di-butchered sama kepentingan-kepentingan jualan. 

Gw bukannya sok galak atau gimana, cuma mungkin gw merasa udah nggak bisa lagi memaklumi produk dari pihak-pihak yang rajin bikin film, dan punya modal untuk bikin film yang benar (LDR jelas bukan produksi abal-abal), tapi seakan nggak punya the love for the art form itself, nggak peduli bentuk isi filmnya kayak gimana yang penting bisa jualan, laku ya bagus, nggak laku ya buang. Kayak nggak punya kebanggaan selain di nominal. Mohon maaf komentar itu terlontar, karena selama ini begitulah adanya, dan seperti tidak ada niatan untuk memperbaiki. Ya LDR ini jadi makin menguatkan kesan itu. Bagi gw, keberadaan film LDR dan cara-caranya untuk "menjual" lebih absurd daripada meng-casting Muhadkly Acho jadi pramugara maskapai internasional. Tersinggung saya.




My score: 5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar