Senin, 27 April 2015

[Movie] Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (2014)


Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
(2014 - Fox Searchlight)

Directed by Alejandro González Iñárritu
Written by Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Armando Bo
Produced by John Lesher, Arnon Milchan, James W. Skotchdopole, Alejandro González Iñárritu
Cast: Michael Keaton, Edward Norton, Emma Stone, Naomi Watts, Zach Galifianakis, Andrea Riseborough, Amy Ryan, Lindsay Duncan, Merritt Wever, Jeremy Shamos


Film Birdman—judul lengkapnya Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)—telah menjadi perbincangan para pecinta film bahkan sejak proyek film ini diumumkan beberapa tahun lalu. Ini adalah film berlabel komedi pertama dari sineas asal Meksiko, Alejandro González Iñárritu, yang biasanya membuat film-film tragis dan depresif seperti 21 Grams dan Babel. Dan, yang lebih bikin penasaran lagi, film ini berkonsep seolah-olah direkam dalam satu kali take tanpa putus. Konsep tersebut rupanya berhasil diterapkan dengan memanfaatkan keahlian dan teknologi masa kini. Namun, itu tidak menjadi distraksi terhadap cerita yang sebenarnya ingin diangkat.

Riggan Thomson (Michael Keaton) sempat jadi bintang film terkenal di seluruh dunia berkat peran superhero Birdman dalam tiga filmnya yang sukses besar. 20 tahun kemudian, Riggan berupaya mengangkat citra dirinya sebagai seniman sejati, dengan hijrah ke dunia drama teater di Broadway, New York. Tak hanya sebagai aktor, ia juga menulis naskah dan menyutradarainya. Ia pun mengadaptasi cerita pendek yang terkenal dari pengarang Raymond Carver, What We Talk About When We Talk About Love. Film ini sendiri berjalan mengikuti persiapan Riggan dan orang-orang sekitarnya untuk pertunjukan tersebut, mulai dari latihan, preview (pra-pertunjukan), sampai malam pertunjukan perdana.

Menerapkan konsep satu kali take, film ini bukannya hanya punya satu adegan berkepanjangan. Dengan mengangkat kisah berlatar belakang dunia panggung teater, penyajian film Birdman mengambil inspirasi dari salah satu prinsip pertunjukan panggung, khususnya dari penuturan cerita yang tak terputus. Film ini melakukan pergantian adegan serta transisi waktu dan tempat secara langsung dan di depan mata penonton, tanpa menggunakan teknik jump-cut yang biasa dipakai dalam film. Filmnya sendiri tidak benar-benar syuting dalam satu kali take, namun gambar-gambar yang ada disambung dengan transisi yang mulus seolah tidak terputus lewat trik editing dan visual effects.

Namun, dengan menggunakan konsep seperti itu, bukan berarti film ini jadi berutur monoton. Dari segi gambar, film ini dirancang sedemikian rupa supaya tetap terkesan dinamis. Pertama, kamera akan selalu bergerak dalam mencari sudut yang terbaik dari setiap adegan, tidak statis di satu sudut saja. Kedua, perpindahan adegan ditandai dengan warna tiap ruangan dan pencahayaan yang berbeda-beda. Alhasil, meski dituturkan tanpa putus, dinamika pergerakan cerita dan emosi pun tetap dirasakan. Inilah yang membuat konsep penuturan Birdman layak dipuji, sekalipun bukan film pertama yang menerapkannya (salah satu yang terkenal adalah film Rope karya Alfred Hitchcock di tahun 1948 juga dibuat seolah-olah tanpa putus).

Di sisi lain, Birdman tidak hanya bermodalkan teknik penuturan yang beda saja. Skenario yang teliti juga menjadi daya tarik penting dari film ini. Ini adalah cerita tentang upaya seorang mantan bintang yang mulai pudar untuk bangkit lagi, untuk membuat keberadaannya diakui. Dan, bukan sekadar diakui, tetapi dihargai. Riggan mau membuktikan Birdman bukanlah satu-satunya peran yang ia mampu lakoni, sekalipun itulah satu-satunya peran dalam kariernya yang dikenal orang. Pertaruhannya cukup besar, ia harus menanggung sendiri bila proyek ini berhasil ataupun gagal.

Proyek Riggan ini memang bisa dibilang untuk memuaskan egonya sebagai seorang aktor, yang harus dihadapkan pada realita di sekitarnya. Mulai dari pembiayaan yang terbatas, anggapan skepstis komunitas teater, perilaku aktor-aktris lain yang beraneka rupa—terutama Mike Shiner (Edward Norton) yang kerap mencuri sorotan publik dari Riggan, sampai hubungannya yang berjarak dengan sang putri sekaligus asisten pribadi, Sam (Emma Stone).

Tetapi, "pertarungan" utama Riggan justru melawan bayang-bayang sosok Birdman, yang masih terus mengganggunya lewat suara-suara di kepalanya (yang dibuat mirip dengan suara Batman versi Christian Bale). Semakin keras Riggan mau menyukseskan pertunjukan ini, si Birdman semakin keras menghalanginya. Di sisi lain, ada bagian dalam diri Riggan yang sepertinya setuju dengan si Birdman. Dalam imajinasi Riggan, ia merasa masih punya kekuatan super Birdman, seperti telekinesis dan terbang. Itu pula yang dianggapnya jadi penyebab kecelakaan yang menimpa salah satu aktor utama pertunjukkannya. Riggan juga tak kuasa mengakui, hanya dengan menjadi Birdman-lah ia dipandang dan dielu-elukan orang. 

Dalam percakapan dengan mantan istrinya (Amy Ryan), terungkap bahwa Riggan punya sedikit gangguan kejiwaan, yang menjadi penyebab perceraian mereka. Melihat keadaan ini, semakin jelas bahwa yang dilakukan Riggan bukan sekadar memuaskan ego untuk lepas dari bayang-bayang Birdman dalam hal karier, tetapi juga caranya untuk meredam, bahkan mungkin lepas dari sosok Birdman, yang merupakan "kepribadian lain" yang masih bersarang dalam dirinya. Itu pula yang membuat Riggan ngamuk ketika orang-orang menganggap proyek ini tidak serius, sebab baginya ini masalah hidup dan matinya sebagai seniman dan sebagai manusia.

Film Birdman pada akhirnya adalah sebuah kisah yang murung, tak terlalu jauh berbeda dari yang pernah dipersembahkan González dalam film-film sebelumnya. Boleh saja ini dikatakan film komedi, ditunjukkan lewat karakter-karakter yang berwarna, dialog witty, dan berbagai sindiran tentang dunia showbiz—dari film-film Hollywood tanpa makna yang laku keras hingga berbagai jenis wartawan yang meliput dunia hiburan. Namun, kisahnya sendiri justru menunjukkan betapa menyedihkan kehidupan orang-orang di balik gemerlap panggung hiburan. Riggan jadi contoh ekstrem seseorang yang terbuai terlalu lama dalam ketenaran dan keangkuhan, dan saat mencoba bangkit lagi ia justru mendapat tantangan yang lebih berat.

Birdman boleh saja dikenal karena menampilkan kerja tata kamera, tata artistik, tata suara, visual effects, tata musik, tata adegan, dan parade akting yang dahsyat. Toh, itulah yang membuat film ini menarik dan menyenangkan saat ditonton. Namun, Birdman pada kenyataannya bukan film yang hanya mengandalkan keandalan teknis. Film ini menyelami sisi terdalam dari orang-orang di balik panggung pertunjukan, yang terkadang lucu dan tragis di waktu bersamaan.




My score: 8,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar