Selasa, 31 Maret 2015

[Movie] Cinderella (2015)


Cinderella
(2015 - Disney)

Directed by Kenneth Branagh
Screenplay by Chris Weitz
Produced by Simon Kinberg, Allison Shearmur, David Barron
Cast: Lily James, Cate Blanchett, Richard Madden, Helena Bonham Carter, Stellan Skarsgård, Derek Jacobi, Holliday Granger, Sophie McShera, Nonso Anozie, Ben Chaplin, Hayley Atwell


Kegemaran baru studio Disney untuk membuat versi live action dari film-film animasi klasiknya kembali dibuktikan dengan hadirnya film Cinderella di tahun 2015 ini. Tetapi, berbeda dengan Alice in Wonderland (2010) atau Maleficent (2014) yang membuat berbagai modifikasi agar tampak kekinian, Cinderella garapan Kenneth Branagh (Thor, Mary Shelley's Frankenstein) ini justru melakukan hal sebaliknya, dan tetap pada pakem dongengnya. Bagusnya, justru itu yang membuat film ini lebih kuat daripada adaptasi animasi Disney yang sudah ada.

Masih berdasarkan dongeng versi Charles Perrault, Cinderella versi baru ini mengikuti kisah seorang gadis yatim piatu bernama Ella (Lily James) yang hidup teraniaya oleh ibu tiri (Cate Blanchett) dan dua saudari tirinya (Holliday Grangerdan Sophie McShera). Namun, ia kemudian mendapat peluang mengubah nasib ketika jatuh cinta dengan pangeran Kit (Richard Madden). Di sini masih ada peran ibu peri (Helena Bonham Carter) yang membantu Ella pergi ke pesta, demikian pula sepatu kaca yang menjadi kunci yang mempersatukan Ella dengan pangeran tetap dimunculkan. Secara garis besar, cerita film ini tidak berbeda dengan versi dongeng Cinderella yang sudah ada, termasuk versi animasi Disney di tahun 1950.

Akan tetapi, bukan berarti Cinderella versi baru ini tidak memberikan pembaruan sama sekali. Mungkin titik-titik ceritanya tidak berubah, tetapi ada satu hal yang membuat film ini tetap memikat ditonton di masa-masa penonton sudah lebih kritis seperti saat ini. Skenarionya yang dikerjakan Chris Weitz bukan hanya copy paste dongeng klasiknya, tetapi memberi bobot lebih yang membuat kisah dan tokoh-tokohnya punya motivasi dan sebab akibat yang lebih bisa diterima akal. Menambah dimensi meski format gambarnya sendiri tidak 3-dimensi.

Contohnya, film ini memberi penjelasan mengapa Ella terkesan pasrah terhadap perlakuan ibu dan saudari tirinya, mengapa ia jatuh cinta pada pangeran (bukan hanya karena tampan, kaya, dan seorang pangeran), mengapa ia akrab dengan hewan-hewan, mengapa sepatu kaca hanya muat di kakinya, dan mengapa ia disebut Cinderella (cinder artinya abu). Tokoh ibu tiri dan pangeran pun diberi perlakuan yang sama. Sang ibu tiri punya alasan tersendiri dengan perlakuannya terhadap Ella, dan bahwa pangeran ternyata dituntut untuk tidak menikahi sembarang gadis, apalagi yang bukan ningrat.

Cinderella ini bukan cuma menceritakan seorang perempuan teraniaya lalu mendapat "anugerah" berupa laki-laki tampan dan kaya dan semua masalah selesai dengan menikah. Sebab, masalah di film ini bukan cuma bagaimana caranya Cinderella dan pangeran bisa jadian, tetapi bagaimana mereka mengatasi niat-niat jahat di sekitar yang hendak menghalangi mereka menemukan kebahagiaan sejati. Dengan mendengung-dengungkan jargon "have courage and be kind" di sepanjang film, Cinderella versi ini ingin lebih menggarisbawahi bahwa kebaikan pasti tidak akan sia-sia—tidak hanya diucapkan, tetapi dibuktikan, bahkan dijadikan klimaks.

Sekali lagi, nilai-nilai tersebut tetap bisa disampaikan tanpa mengubah pakem dongeng dari Cinderella. Tidak ada "cinta" yang diterjemahkan berbeda layaknya di Frozen dan Maleficent, tidak ada perang-perangan pamungkas seperti di Alice in Wonderland, tidak juga meninggalkan unsur magic-nya. Itulah yang membuat film ini masih bisa memikat sekalipun ceritanya sudah didengar sejak berabad-abad, klasik namun tidak ketinggalan zaman. Meramu semua itu tentu butuh ketangkasan, yang terbukti dipunyai oleh sutradara Branagh dalam film ini.

Cerita dan penuturan film ini pun didukung oleh elemen-elemen lainnya yang membentuk Cinderella versi baru ini jadi sebuah tontonan yang menghibur. Mulai dari tata artistik minim efek digital, desain kostum yang mencolok, tata musik mendayu-dayu, termasuk penampilan para pemain yang tanpa cela. Penerjemahan adegan-adegan khas dongengnya berhasil disajikan dengan indah memanjakan mata dan telinga. Dimasukkannya unsur humor pun tidak merusak jalan cerita film ini, malah menjadi bumbu yang pas, menegaskan bahwa film ini tidak berusaha jadi pretensius dalam menceritakan ulang sebuah dongeng klasik. Di era ketika banyak film berlomba-lomba ke arah "realistis" dan "dark", keberanian film ini untuk back to basics patut diberi jempol.

Prinsip untuk setia pada jalan cerita dongengnya bisa jadi sebuah kekuatan sekaligus kekurangan. Bisa jadi kekurangan, karena tidak adanya inovasi. Cerita Cinderella ini jadi hanya semacam pengulangan dari yang sudah ada, sehingga mungkin kurang merangsang bagi penikmat film berjiwa petualang. Namun, hal itu bisa jadi kekuatan, karena ternyata film ini melakukan "pengulangan" itu dengan baik dan benar. Walau tanpa inovasi, asalkan digarap dengan benar saja, sudah cukup untuk membuat film ini jadi tontonan memikat.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

2 komentar:

  1. ....Kayaknya gue doang apa ya yang benci sama nih film? Haha.
    Anyway, boleh tukeran link? Ini link gue: http://crazygirlatcinema.blogspot.com
    Thanks before!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, boleh nanti saya sematkan ya.
      Yang nggak suka filmnya ada, tapi nggak tahu deh yang benci, hehe

      Hapus