Minggu, 22 Februari 2015

[Movie] Whiplash (2014)


Whiplash
(2014 - Sierra Affinity/Sony Pictures Classics)

Written & Directed by Damien Chazelle
Produced by Michel Litvak, David Lancaster, Jason Blum, Helen Estabrook
Cast: Miles Teller, J.K. Simmons, Paul Reiser, Melissa Benoist, Austin Stowell, Nate Lang


Kesan inspiratif harus dibuang jauh-jauh dari Whiplash, sebuah film independen Amerika Serikat yang ditulis dan disutradarai Damien Chazelle. Premisnya memang "cuma" tentang seorang pemuda yang berusaha keras menggapai impiannya di dunia musik. Tetapi, proses menuju ke sana tidak bisa dikatakan inspiratif, apalagi memotivasi. Sebab, untuk menggapainya, tokoh utama kita harus membangkitkan sisi gelap dari dirinya.

Dari set up-nya, Whiplash sangat simpel dalam bertutur. Film ini tidak membuat kehidupan tokohnya ribet hanya untuk menambah dramatisasi. Sang tokoh utama, Andrew (Miles Teller) adalah drummer berbakat di sebuah sekolah musik (fiktif) Shaffer Conservatory di New York. Ia anak tunggal dari keluarga berada. Yang disebut "keluarga" pun hanyalah sang ayah (Paul Reiser). Ia tak punya beban apa-apa, tak ada nasib yang harus diubah, hanya ada cita-cita jadi yang terhebat. Memang ada taruhan lain, yaitu hubungan cintanya dengan Nicole (Melissa Benoist), tetapi itu pun tak terlalu menambah beban cerita film ini.

Keseluruhan film ini hanya ingin bercerita tentang Andrew, pemuda 19 tahun yang ingin jadi drummer jazz terhebat. Bagi Andrew, itu bisa digapai bila ia berada di bawah ajaran Fletcher (J.K. Simmons), pengajar paling killer di sekolah itu. Itu saja. Tetapi, dari sana pun dramatisasinya tetap bisa dihidupkan. Sebab, satu orang Fletcher saja sudah merupakan perwujudan segala macam hal yang mungkin bisa jadi penghalang bagi Andrew. Ajaran keras Fletcher yang tak ragu memaki dan tak ingin dibantah benar-benar menguras emosi Andrew, bahkan membuatnya perlahan jadi orang yang berbeda.

Apa yang ditampilkan di film Whiplash mungkin agak asing bagi kita di Indonesia, yang terbiasa melihat para musisi bisa sukses dan kaya hanya lewat teknik-teknik sederhana yang dipelajari otodidak. Bahkan, mungkin konsep "pendidikan musik" akan lebih diasosiasikan dengan kursus dan ekstrakurikuler ketimbang sekolah tinggi. Memangnya ada orang yang begitu kerasnya ingin jadi pemusik sampai stres, berkeringat, dan berdarah-darah, serta harus tahan ajaran keras menyerempet bullying dari pelatihnya? Jawabannya, bisa saja, setidaknya menurut film ini.

Whiplash pada dasarnya mengajak penontonnya menyelami sisi terdalam dari Andrew, khususnya sebagai musisi bercita-cita besar. Andrew memang bukan orang yang paling sosial, tidak bisa dibilang ramah, dan itu pula yang menyebabkannya tak punya teman. Namun, itulah yang membuatnya makin terobsesi untuk jadi yang terhebat. Ia tak mudah terima jika dirinya diremehkan atau disaingi, apalagi menyangkut dunia musik yang jadi kebanggaan satu-satunya.

Kebanggaan itu pun makin timbul ketika ia diajak masuk band jazz asuhan Fletcher. Siapa yang tak bangga, Fletcher si dosen killer malah memberi pujian pada bakat Andrew. Namun, tentu saja itu tak bertahan lama. Kebanggaan yang terangkat itu malah dijatuhkan dengan cepat oleh metode Fletcher yang keras. Semakin Andrew berusaha keras, semakin tak akan pernah cukup bagi Fletcher. Kebanggaan itu berganti jadi kebencian, menggerogoti Andrew dan berimbas orang-orang terdekatnya yang tidak banyak itu. Padahal, di sisi lain, cara mengajar Fletcher tampaknya tidak sejauh itu pengaruhnya bagi anggota band lain. Mungkin masalahnya ada pada Andrew?

Fokus Chazelle pada apa yang dirasakan tokoh Andrew terbilang sangat menarik. Ia menunjukkan bahwa tanpa hal-hal bombastis pun, sebuah film tentang seseorang menggapai cita-cita juga tetap bisa mengaduk-aduk emosi. Tidak ada yang terlalu dilebih-lebihkan di sini, hanya proses Andrew berlatih dan bermain drum, ditabrakkan dengan karakter Fletcher yang menggemblengnya tanpa ampun. Well, ada sedikit aksesori tambahan seperti tangan berdarah-darah dan kecelakaan, tetapi semuanya hanya untuk menunjukkan betapa besar tekad Andrew.

Hal yang juga menarik adalah bagaimana film ini memaksimalkan sesi latihan dan pertunjukan di panggung untuk adegan-adegan pentingnya, termasuk di adegan pamungkasnya. Lagi-lagi sebenarnya tidak ada yang berlebihan atau menyimpang secara logika dari adegan-adegan itu, tapi tetap punya dampak luar biasa lewat intensitas dialog dan gestur, serta permainan emosinya. Ini terutama dibantu oleh performa bagus dari Teller (yang memang punya dasar bermain drum) dan Simmons. Seolah-olah, ketika Simmons sebagai Fletcher mendamprat Andrew, penonton juga ikut tertampar. Ketika Andrew berlaku ceroboh, penonton bisa ikut waswas.

Ditambah kemasan audio visual yang lincah—serta alunan musik jazz yang asyik, akan sangat mudah untuk menikmati Whiplash dari awal hingga akhir. Sebuah film yang sederhana, clean and simple, tak terlalu banyak bicara, tak terlalu panjang lebar juga. Tetapi, bisa langsung mengena berkat keterampilannya dalam mempermainkan emosi, menuturkan plot, dan memasukkan unsur black comedy tanpa merusak mood keseluruhan filmnya.

Problem film ini cuma satu, yaitu dari permukaan mungkin kurang bisa menarik minat orang banyak. Premisnya terdengar sangat tidak istimewa, seseorang belajar main musik dari guru galak. Apalagi, jenis musik yang diangkat di sini adalah jazz, yang bisa dikatakan punya segmen tidak terlalu luas. Dan, tentu saja, anggapan "main musik kok begitu amat?" mungkin masih menimbulkan keraguan bagi beberapa orang untuk coba menonton film ini. Padahal, isi filmnya sendiri sanggup mematahkan keraguan itu.

Well, mudah-mudahan fakta bahwa film ini masuk lima nominasi Oscar tahun ini (Best Picture, Best Adapted Screenplay, Best Film Editing, Best Sound Mixing, dan Best Supporting Actor untuk Simmons), juga menang penghargaan tertinggi dari juri dan penonton sekaligus di Sundance Film Festival tahun lalu, bisa cukup meyakinkan lebih banyak orang untuk menyaksikannya. Menyaksikannya entah untuk menikmati ceritanya, performa pemainnya, atau pun musiknya. Semoga bukan untuk terinspirasi Andrew.




My score: 8/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

2 komentar:

  1. Suka banget sama kalimat terakhir review ini, "Semoga bukan untuk terinspirasi Andrew"
    Hahaha...

    Secara pribadi, suka banget sama filmnya :)

    BalasHapus
  2. I. Freakin'. Love. This. One.
    'Nuff said.

    BalasHapus