Minggu, 30 November 2014

[Movie] The Imitation Game (2014)


The Imitation Game
(2014 - Black Bear Pictures/Filmnation/Studiocanal/The Weinstein Company)

Directed by Morten Tyldum
Written by Graham Moore
Based on the book "Alan Turing: The Enigma" by Andrew Hodges
Produced by Nora Gorssman, Ido Ostrowsky, Teddy Schwarzman
Cast: Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, Charles Dance, Mark Strong, Rory Kinnear, Allen Leech, Matthew Beard


--Ulasan dari Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2014--

Mengangkat sosok ilmuwan Inggris, Alan Turing, ke layar lebar bisa jadi sesuatu yang sangat menarik, sekaligus menanggung beban. Alasannya, Turing adalah sosok yang punya banyak sisi untuk digali. Di satu sisi, ia adalah ahli sains yang berjasa membuat berbagai terobosan, seperti mesin pemecah sandi di masa Perang Dunia II dan memelopori teknologi komputer. Namun, di sisi lain Turing juga dikenal sebagai ilmuwan yang dipidana oleh pengadilan karena ia adalah seorang homoseksual.

Film drama biografi The Imitation Game, digarap oleh sutradara Norwegia, Morten Tyldum (Headhunters) berdasarkan skenario karya Graham Moore, mencoba mengangkat dua hal terpenting dari Turing, yaitu jasanya terhadap kemenangan negara-negara Sekutu di Perang Dunia II, serta permasalahan jati dirinya yang dianggap ilegal oleh negara pada zamannya. Berfokus pada dua hal saja bukan berarti membuat penceritaan filmnya jadi lebih mudah, namun kalau melihat hasil akhir film ini, tantangan itu bisa diatasi dengan cukup baik.

Film ini dibuka dengan pengaduan adanya kemungkinan perampokan di rumah Turing (Benedict Cumberbatch) di kota Manchester pada tahun 1951. Turing menolak untuk melanjutkan proses di kepolisian, yang menimbulkan kecurigaan Detective Knock (Rory Kinnear) bahwa Turing menyembunyikan sesuatu. Penyelidikan pun mengarahkan Knock pada kesimpulan bahwa Turing memegang rahasia negara, atau bahkan seorang mata-mata bagi Uni Soviet.

Film ini kemudian berpindah ke awal mula Turing bergabung di lembaga pemecah sandi rahasia milik negara pada tahun 1939. Setelah meyakinkan para petinggi di sana, Turing ditempatkan dalam satu tim yang bertugas khusus untuk mempelajari Enigma, mesin canggih yang digunakan Nazi Jerman untuk berkomunikasi dalam bentuk kode-kode yang sulit dipecahkan. Tetapi, ketika anggota tim yang lain berupaya memecahkan kode lewat rumus-rumus ilmiah, Turing malah sibuk merancang mesin yang bisa langsung mengartikan setiap kode yang dipancarkan Enigma, yang ia beri nama Christopher.

The Imitation Game memang seolah berjalan dalam dua plot yang disajikan silih berganti. Kedua cerita ini pun punya pertaruhan dan misterinya sendiri-sendiri: apa yang disembunyikan Turing sehingga tak melaporkan kasus perampokan, dan apakah Turing akan berhasil memfungsikan mesin Christopher lalu memenangkan peperangan. Ditambah lagi, film ini mundur sejenak ke masa Turing remaja (Alex Lawther), yang sudah gemar bermain kode sandi bersama satu-satunya kawan di sekolahnya, Christopher Morcom (Jack Bannon). Ini menambah satu misteri lagi: apa arti Christopher bagi Turing sehingga ia mengambil nama itu untuk mesin ciptaannya?

Di atas kertas, apa yang disajikan The Imitation Game memang seakan terlalu banyak dan penuh, bahkan rumit. Dan, itu pun masih ditambah lagi beberapa subplot tentang kedekatan Turing dengan rekan wanita satu timnya, Joan Clarke (Keira Knightley) yang tak biasa, ketegangan Turing dengan Commander Denniston (Charles Dance) karena Turing tak kunjung membuahkan hasil nyata, serta kecurigaan adanya mata-mata Uni Soviet di dalam tim Turing.

Akan tetapi, The Imitation Game justru tidak disajikan dengan cara yang rumit atau berat. Bahkan, film ini tanpa diduga memunculkan banyak sekali humor. Sutradara Tyldum dan penulis skenario Moore tampak memanfaatkan betul situasi-situasi ketika sifat Turing yang kikuk tapi sombong dihadapkan dengan beberapa karakter lain yang sarkastis, sehingga menimbulkan kelucuan-kelucuan berkelas. Unsur humor yang disajikan ini sedikitnya sukses membuat sebuah film yang mengangkat tema perang dunia, sains, konspirasi, dan lain sebagainya ini lebih mudah diserap, atau setidaknya lebih menghibur.

Memang, bila dilihat di sisi lain, hadirnya unsur humor menyebabkan apa yang diceritakan sulit dipercaya sebagai kisah nyata, dan mungkin bagi sebagian lagi akan memandang film ini terlalu menganggap enteng. Apakah benar Turing dan karakter-karakter lainnya memang "selucu" itu? Apakah benar berbagai keadaan-keadaan yang menimbulkan tawa di film ini memang demikian? Dilihat dari penyajiannya yang agak "terlalu" humoris untuk ukuran film biografi yang bukan komedi, jelas kelihatan bahwa film ini memuat banyak artistic license (yang biasanya digunakan seniman untuk mendistorsi fakta) demi dramatisasi dari kisah aslinya.

Akan tetapi, mungkin memang itulah kesan yang ditangkap oleh para pembuat film ini tentang karakter dan situasi saat itu, dalam pandangan masa kini. Misalkan saja, Turing tak bisa bahasa Jerman tetapi ia berani melamar jadi pemecah sandi Nazi, atau Joan yang melamar ikut tim Turing tetapi disangka melamar jadi sekretaris hanya karena dia wanita. Setengah abad yang lalu itu hal-hal yang mungkin dianggap serius, sekarang justru terlihat betapa konyolnya pemikiran-pemikiran itu. Langkah untuk menyajikannya dalam bentuk yang humoris pun sebenarnya tidak salah juga, lagipula film ini cukup bertanggung jawab ketika harus kembali pada sisi yang lebih emosional.

The Imitation Game memang punya kekuatan di banyak segi. Mulai dari akting yang kompak dari para pemainnya, desain produksi yang menimbulkan kesan yang akurat tentang zamannya, sampai pada tata musik yang sukses membangun mood di berbagai momen film ini. Akan tetapi, kekuatan yang paling menonjol di film ini adalah penuturannya, mengatasi kisah yang sebenarnya rumit dan penuh bobot menjadi sajian yang menghibur, lancar, dan ringan.

Pemilihan untuk menuturkan dua sampai tiga plot dari tiga periode waktu berbeda dari tokoh yang sama memang berisiko, tapi nyatanya dapat dengan mulus membangun gambaran siapa itu Turing dengan utuh, dan juga ampuh membangun rasa penasaran penonton tentang apa yang bakal terjadi pada karakternya hingga akhir. Benang merahnya pun tetap jelas, bahwa kejeniusan Turing terbukti berjasa menyelamatkan banyak orang (meski harus dirahasiakan cukup lama demi keamanan negara), tetapi ironisnya orang-orang tak mau menerima jati diri Turing yang seutuhnya.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar