Senin, 03 November 2014

[Movie] The Book of Life (2014)


The Book of Life
(2014 - 20th Century Fox)

Directed by Jorge R. Guiterrez
Screenplay by Jorge R. Guiterrez Doug Langdale
Produced by Guillermo del Toro, Brad Booker, Aaron D. Berger, Carina Schulze
Cast: Diego Luna, Zoe Saldana, Channing Tatum, Ron Perlman, Kate del Castillo, Christina Applegate, Ice Cube, Hector Elizondo, Danny Trejo


Kalau ada nama Guillermo del Toro, gw akan langsung ngebayangin desain visual yang "kriting" tapi keren, apa pun itu. Sekalipun nggak terlibat first hand--kayak jadi creative consultant atau executive producer-nya film-film animasi DreamWorks macam Kung Fu Panda 2 dan Rise of the Guardians, gw langsung meyakinkan diri bahwa desain-desain di film-film tersebut pasti sudah di-approve sama del Toro, sineas ber-taste seni visual yang istimewa yang menghasilkan film-film berdesain keren macam Hellboy, Pan's Labyrinth, dan Pacific Rim. Kalau ternyata keterlibatannya di film animasi The Book of Life sudah dalam tahap produser, berarti ke-del-Toro-annya bakal makin kental. Dan memang terbukti.

Gw suka banget sama visual The Book of Life ini. Selain teknik animasinya yang mulus (padahal studio Reel FX ini masih terbilang baru di kancah per-animasi-an Hollywood), segala desain tokoh, benda, dan tempat di film ini tampak lucu dan berwarrrrna-warrrrni, tapi waktu dilihat closely, sebenarnya rumit sekali desainnya. Para tokoh utamanya aja berbentuk boneka kayu yang rada aneh, belum lagi ketika sampai di "akhirat" yang bentuknya jadi tengkorak dan rangka yang dibikin fancy. Kalau produsernya bukan del Toro, mungkin desain-desain rumit ini nggak bakal di-approve. Untung aja.

Okay, cukup dengan antusiasme gw sama visualnya, mari kita membahas cerita dan penuturannya. Satu hal yang gw dapatkan, waktu gw nonton ini gw sibuk mengagumi visualnya dan sibuk ketawa-ketawa terhadap humornya yang bervariasi dari yang slapstick sampai yang self-mocking--bahkan yang sekonyol setiap ucapan para biarawati selalu dinyanyikan secara choral. Tetapi, ketika gw pikir-pikir tentang ceritanya, film ini lumayan padat juga ya.

Hal pertama yang langsung gw tangkep adalah film ini semacam "jembatan budaya" bagi penonton awam seperti gw untuk mengetahui esensi perayaan Dia de Muertos (Hari Arwah Orang Mati) yang dirayakan meriah di Meksiko. Meriah di sini bukan cuma karena banyak orang, tapi sampe bentuk-bentuk tengkorak pun dipakai dalam berbagai benda termasuk makanan (!) tanpa rasa ngeri sedikitpun. Orang luar mungkin kurang memahami kenapa ngerayain arwah orang mati kok girang amat. Well, kalau arwahnya tinggal di alam kayak di film ini, apa yang perlu ditakutkan? Itu sih. Dan bentuk penuturannya pun seakan memperjelas fungsi itu, yaitu sekelompok anak kecil Amerika yang diceritakan tentang Dia de Muertos oleh guide di museum, dan mereka sebagai wakil penonton dalam merespons ceritanya (the "What is it with Mexicans and death?" line just cracked me out =D).

Di sisi lain, film ini ternyata dengan mulus memasukkan "plot ala Disney" tentang pencarian jati diri dan, well let's just say, pemberdayaan perempuan. Di sini ada Manolo (Diego Luna) yang dibesarkan oleh keluarga matador, dan ia juga berbakat jadi matador, tetapi sebenarnya passion-nya di musik, sebuah profesi yang tidak terhormat di mata orang tuanya. Plus, perempuan yang dicintainya, yang of course namanya Maria (Zoe Saldana), adalah pecinta hewan yang tak mau Manolo membunuh banteng di arena bullfighting. Maria juga digambarkan bukan damsel in distress, seorang yang dididik di Eropa yang membuatnya berpikiran modern, termasuk mempertanyakan kenapa dia jauh-jauh sekolah di Eropa tapi pas pulang cuma buat dikawinin buat masak dan nyuci. 

Tetapi, The Book of Life juga sedikit "menyimpang" dari pakem standar film animasi keluarga Hollywood. Tokoh pesaing cinta Manolo, Joaquin (Channing Tatum) digambarkan narsis dan konyol, tetapi tidak mengesalkan. Atau juga tokoh magical yang diwakili penguasa alam orang terkenang, La Muerta (Kate del Castillo) dan penguasa alam orang terlupakan, Xibalba (Ron Perlman) yang tidak sekadar hitam dan putih. Heck, they're even dating. Seakan mengajarkan bahwa there's always good inside everyone walaupun ada di pihak yang berseberangan. Well, kecuali tokoh si bandit ganas yang memang cuma alat untuk memperuncing plot aja sih. Btw, tokoh itu juga sebuah marvel dalam desainnya.

Kayaknya masih banyak yang bisa dibahas dari The Book of Life ini, tetapi intinya adalah film ini indah, keren, berbobot, dan punya keunikan, and I like it. Oh ya, soal pilihan lagu-lagu yang dinyanyikan juga cukup bikin senyam-senyum, entah itu lagu-lagu yang udah populer (lagu Elvis Presley, Mumford & Sons, sampai Radiohead!), maupun lagu orisinalnya yang sangat memikat (khususnya "I Love You Too Much" dan lagu minta maaf ke banteng itu). Palingan yang bikin rada nggak enak ya suaranya si Luna =p. Meriah dan menyenangkanlah film ini, mungkin persis seperti spirit perayaan Dia de Muertos *sotoy aja sih ini*.




My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar