Senin, 06 Oktober 2014

[Movie] Tabula Rasa (2014)


Tabula Rasa
(2014 - Lifelike Pictures)

Directed by Adriyanto Dewo
Written by Tumpal Tampubolon
Produced by Sheila Timothy
Cast: Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, Ozzol Ramdan, Yayu Unru


Walau gw orangnya "lemah" sama production value yang besar-besar, gw juga selalu senang melihat sebuah film small and simple yang kelihatan banget dibuat dengan niat baik dan hasilnya bener. Film Tabula Rasa ini termasuk dalam jenis itu. Kisahnya mungkin hanya sebatas tentang seorang Papua bertemu tiga orang Minang di rumah makan Padang di Jakarta--well, not really--tetapi kelihatan kok betapa film ini teliti sekali dalam melengkapi kebutuhan ceritanya sehingga tak terkesan palsu dan mengada-ada.

Hans (Jimmy Kobogau), pemuda dari daerah Serui, Papua (di mana tuh hayoo?) yang punya bakat di bidang sepakbola dan berkesempatan ke Jakarta, tetapi karena cedera parah ia nggak bisa lanjut, sampai akhirnya hidup terkatung-katung bahkan jadi gelandangan. Di titik paling bawah, ia bertemu Mak (Dewi Irawan), yang mengajaknya untuk makan di warung Padang miliknya. Dari pertemuan sederhana itu, cerita pun bergulir. Hans mulai diminta Mak bantu-bantu di warung, yang juga dihuni pelayan Natsir (Ozzol Ramdan) dan juru masak Parmanto (Yayu Unru), dan lama-lama ia menjadi bagian penting dari warung sekaligus rumah itu. Tentu saja mengingat mereka berasal dari dua ujung Indonesia yang berbeda, ada proses penyesuaian yang berlangsung kikuk, jenaka, dan manis, tetapi ada juga penolakan yang bikin suasana jadi nggak nyaman.

Reaksi gw secara permukaan adalah Tabula Rasa ini adalah film yang ceritanya tidak terlalu mudah segera disimpulkan tetapi mampu membuat gw larut untuk ikutin terus kisahnya. Film ini mengalir saja, terdiri dari berbagai potongan kisah yang mungkin tidak bisa langsung dikaitkan hubungannya satu dengan yang lain, kecuali bahwa hal-hal itu terjadi sejak dan akibat Hans bertemu dengan Mak, Natsir, dan Parmanto. Mungkin sebenarnya kaitannya ada di judulnya, "tabula rasa", sebuah istilah Latin tentang "memulai dari awal". Kalau memerhatikan latar belakang Hans dan geng warung Padang-nya Mak, film ini pun jadi relevan.

Satu hal yang gw anggap menarik adalah premis film ini sekilas seperti tidak istimewa--makanya sulit dijual, apalagi pemainnya bukan "bintang", sebuah "drama keluarga" sederhana, mungkin seperti Jendela Rumah Kita atau Keluarga Cemara. Tetapi, toh kesederhanaan itu yang bikin film ini terasa dekat dengan penonton (gw). You know, hal-hal yang sebenarnya kita nggak pengen tahu banget, tetapi ketika mulai tahu kitanya jadi kepo =P. Film ini tidak menyampaikan segala sesuatunya dengan serba bombastis ataupun melankolis. Semua berjalan natural apa adanya, konflik-konfliknya tidak meledak-ledak tetapi terasa genting dan nyata, karena itu bisa dan sering terjadi di keseharian di sekeliling kita. Bisa jadi inilah yang terjadi di balik warung-warung Padang yang buka berdekatan/sederet/depan-depanan di kompleks rumah Anda =D. 

Dan satu lagi, ini film keluarga tapi anggotanya not necessarily bertalian darah--setidaknya itu interpretasi gw tentang hubungan Mak dengan Natsir dan Parmanto, plus Hans *yaiyalah*. Warung dan masakannya, yang jadi sumber penghidupan mereka, itulah yang menyatukan mereka. And I think that's brilliant.

Semua itu kemudian dikemas dengan sangat cantik oleh craftmanship pembuat film ini. Seneng banget memandang film ini di layar, sinematografinya segar dengan komposisi yang asyik, aktingnya keren sampai ke gestur memasak yang sangat lihai, penggunaan unsur kedaerahan yang believable dan teliti--sesimpel ondeh mak oy-nya Padang sampai yombeks-nya Papua =D, tata artistik yang detail sampai ke ulekannya, dan the vintage-esque music yang nyaman sekali didengar. Dan yang paling penting adalah pembawaan dari penuturan (itu istilah apa coba) film ini yang lemah lembut sekaligus playful, dan menggunakan prinsip to-show-not-to-tell dengan rapi dan mudah dimengerti. Contohnya? Well, kita nggak perlu dikasih tahu kenapa pas ketika Hans di Jakarta bukannya berlatih sepak bola malah jadi gelandangan, karena, berbeda dari adegan awal dia masih di Serui, sekarang kakinya sudah pincang. Just like that, and it worked.

Tabula Rasa adalah film yang will grow inside of you secara perlahan. Boleh saja merasa filmnya tidak menggedor emosi seperti film-film minta-banget-ditangisin macam yah-nggak-perlu-disebut-lah-ya-saking-banyaknya, setting-nya pun cuma di Papua dan the great land of Jonggol =p, gak sampe lhuarr neghri. Tetapi, gw sendiri sepertinya nggak akan lepas dari berbagai sisi film ini, entah itu bertemunya dua budaya ujung-ke-ujung, real-nya kisah yang disampaikan, compassion yang ditunjukkan tokoh-tokohnya, juga dari gambar-gambar indah menu rendang tacabiak dan dendeng balado bakar lado mudo yang akan sangat sulit ditemukan di sekitar gw. Itu musti cari di mana ya? *perutpunbersuara*.




My score: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar