Selasa, 18 Maret 2014

[Movie] Her (2013)


Her
(2013 - Panorama Media/Annapurna/Warner Bros.)

Written & Directed by Spike Jonze
Produced by Megan Ellison, Vincent Landay, Spike Jonze
Cast: Joaquin Phoenix, Scarlett Johansson, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, Chris Pratt, Matt Letscher


Jika hal-hal yang sekarang dianggap hipster kemudian jadi mainstream, mungkin keadaannya seperti di film Her. Well, Her yang katanya bersetting Los Angeles tahun 2025, digambarkan punya teknologi sedikit lebih canggih dari yang ada sekarang. Tetapi, segala kecanggihan itu didesain seolah-olah masyarakat saat itu merindukan hal-hal masa lampau. Misalkan pekerjaan Theodore (Joaquin Phoenix) sebagai juru tulis surat bagi orang lain. Teknologinya sih canggih, apapun yang dikatakan Theodore dapat ditangkap komputer menjadi bentuk tulisan. Tetapi, hasilnya tuh back to basic: komputer akan mencetak kata-kata itu dalam bentuk kertas surat dengan (seolah-olah) tulisan tangan orang yang diwakili Theodore. Dan dikirim via pos. Kurang hipster apa coba? Belum lagi gw memperhatikan fashion-nya yang sama sekali tidak futuristis, bahwa ternyata di masa depan orang-orang pake celana seperut ala Jojon lagi. Atau bentuk gadget/handphone yang seperti kotak set obeng, tidak terlihat techno sama sekali. Demikian juga, segala perintah nggak pakai visual atau sentuh, tetapi pakai suara. Mau baca SMS, atau e-mail, tinggal bilang "bacain" dan suara sistem operasi gadget-nya akan membacakannya buat kita. 

Looks convenient. Tetapi dipikir-pikir, jika semua orang melakukan itu, berarti semua orang bakal ngomong sendiri masing-masing dengan benda mati tanpa interaksi dengan orang lain. Eits, jangan sedih, sebuah perusahaan punya solusi untuk itu: membuat sistem operasi dengan artificial intelligence. Agak rumit kalau menjelaskan ini, tetapi anggak saja bahwa sistem operasi (macam Windows atau Apple) tersebut punya kemampuan seperti otak manusia: dapat berpikir, dapat belajar, bisa berpendapat, punya kemauan, punya kesukaan, punya perasaan, bahkan punya kemampuan mencipta. Ibaratnya, ia hidup, walau sebatas di dunia maya. Theodore memakai sistem operasi yang disebut OS1 ini, dan OS1 yang ia install bersuara perempuan bernama Samantha (Scarlett Johansson). Karena Samantha itu seperti hidup--dan mungkin karena suaranya serak-serak mendesah gitu--Theodore merasa cocok, bahkan mereka berdua saling mengerti, dan saling mencintai. Ibarat hubungan long distance relationship yang hanya terhubung lewat telepon, tetapi pihak sananya bukan orang, bahkan nggak punya wujud. And yes, they're able to "have sex".

Dari gambaran itu aja, Her bermain-main di batas antara film unik dan film aneh. Orang kok jatuh cinta sama mesin. Tetapi, itu bukanlah hal baru, banyak film yang punya premis demikian. Mungkin yang paling dekat dengan Her adalah manga dan anime Chobits, tentang personal computer (PC) yang berbentuk manusia (yang tombol on-nya di bagian anu), yang salah satu PC-nya punya intelligence yang canggih mirip manusia, bahkan di luar manusia. Tetapi, at least di Chobits, si mesin ada wujudnya, bisa digitu-gituin kalau memang niat begituan *apalah*. Di Her, si Samantha cuma ada suaranya. So weird. Tetapi, Spike Jonze tidak mau ambil pusing soal itu. Her tetap berjalan sebagai kisah romantis dari sebuah unlikely couple. Bisa-bisanya, buat gw, film ini terlihat sweet meski dengan segala keganjilan itu, dan itulah letak briliannya. Salah satu adegan yang merepresentasikan itu semua adalah ketika Samantha menggunakan "avatar" untuk bercumbu dengan Theodore. Aneh, geli, tetapi gw ngerti motivasinya. Brilliant scene.

Namun, seperti kemampuan Samantha yang terus ter-upgrade, film ini pun berjalan lebih dari soal hubungan asmara. Pada satu titik, mungkin ini terlalu berat, yaitu ketika film ini mengarah ke persoalan eksistensi *eaa* *keluarin modul Dasar-Dasar Filsafat*. Dan pada saat itu, pertanyaan yang sesungguhnya sudah merongrong dari awal, "apakah Samantha benar-benar punya perasaan atau itu hanya respons dari 'perintah' Theodore saja?", kembali muncul ke permukaan. Tetapi, lagi-lagi, Spike Jonze tidak mau tenggelam dalam hal itu, ia hanya mau menyelami soal perasaan itu sendiri, tentang senang dan sedih, tentang cinta dan sakit hati, entah itu dengan manusia atau dengan apapun. Dengan caranya sendiri, menurut gw film ini tetap brilian. Mungkin tidak serta merta timbul perasaan senang berbunga-bunga saat menontonnya--apalagi mood filmnya cenderung sendu, bisa jadi yang timbul malah bingung. Tapi dengan segala lapisan yang ditawarkan, dari soal masyarakat, teknologi, sampai yang rada berat filosofis, film ini seperti terus terngiang di pikiran gw. Intinya gw sukalah filmnya =).




My score: 8/10

2 komentar:

  1. I never thought I'd Like it as much as I do. I wish I couLd Live in Theodore's worLd ASAP, minus the ceLana Jojon though ^^

    (Btw, kaya'nya ga semua persocon (si PC berbentuk manusia) di Chobits punya tomboL switch di bagian anunya deh.. Seinget gwe umumnya di kuping (atau perut) dan cuma persocon super spesiaL aja yang switch-nya di..situ ^^ )

    BalasHapus
    Balasan
    1. musti baca ulang Chobits lagi nih saia =P

      Hapus