Rabu, 13 November 2013

[Movie] Adriana (2013)


Adriana
(2013 - Visi Lintas Films)

Directed by Fajar Nugros
Screenplay by Lele Leila
Based on the novel by Fajar Nugros
Produced by Eko Kristianto, Sophia Latjuba
Cast: Adipati Dolken, Kevin Julio, Eva Celia, Agus Kuncoro, Joshua Pandelaki, Soleh Solihun, Masayu Anastasia, Imey Liem


Katanya cewek itu makhluk yang penuh teka-teki, yang sering membuat kaum cowok frustrasi untuk menangkap apa yang sesungguhnya mereka mau. Film Adriana tampaknya ingin membawa persepsi itu ke level lebih tinggi, yaitu ketika seorang cewek, makhluk yang penuh teka-teki itu, menambah ketekatekiannya dengan memberikan teka-teki dalam arti kata sebenarnya. Emang dasar cari perkara aja sih =p. Tetapi demi sebuah film, itu justru sesuatu yang menarik. Apalagi, film Adriana memasukkan unsur sejarah ke dalam teka-teki si cewek, khususnya kota Jakarta.

Mamen (Adipati Dolken) dan Sobar (Kevin Julio) adalah dua orang bersahabat dekat namun berbeda sifat. Mamen orangnya tengil dan demen "berpetualang" dengan para cewek, kecuali cewek-cewek yang menghuni kost-kostan yang dikelolanya, somehow. Sedangkan Sobar adalah orang yang lebih resik, baik-baik, dan intelek, asisten dosen sejarah gitu. Suatu ketika, Mamen mengarahkan petualangannya pada seorang gadis cantik bermata besar (Eva Celia) yang dia lihat di perpustakaan. Ketika mau dimodusin, si cewek malah ngasih kalimat-kalimat aneh yang ternyata sebuah teka-teki, sebelum pergi meninggalkan Mamen. Mamen langsung kepincut saking penasarannya, tapi nyadar kalo dia nggak pinter, makanya langsung minta bantuan Sobar untuk memecahkan teka-teki cewek itu. Ternyata, jawaban teka-teki itu adalah tempat dan waktu yang harus didatangi Mamen. Namun, teka-teki tersebut hanyalah yang pertama dari rangkaian teka-teki dari gadis yang belakangan diketahui bernama Adriana itu, yang harus dipecahkan Mamen dan (turut menyeret) Sobar, untuk mendapatkan perhatiannya.

Emang macam apa sih teka-tekinya? Well, setelah dibongkar-bongkar, si Adriana memberi teka-teki yang berhubungan dengan sejarah di balik titik-titik ikonik Jakarta...yah, plus Bogor-lah dikit. Dengan teka-tekinya, Adriana memaksa Mamen dan Sobar, juga kita penontonnya, untuk ngecek lagi pengetahuan kita tentang tempat-tempat di Jakarta. Semacam fun trivia gitu, misalnya dua ular yang melilit pada satu tongkat (tadinya gw kira Harmoni, ternyata bukan =p), atau soal wilayah ekor dan kepala naga, yang akhirnya membuat gw ngeh sama yang selama ini disampaikan ibu Evelyn Setiawan dan Feni Rose di acara-acara properti di TV.

Lucu 'kan premisnya? Itu dia, buat gw, Adriana adalah salah satu dari sedikit film romansa Indonesia yang mau "susah payah" memasukkan hal-hal unik agar jalan ceritanya nggak gitu-gitu doang. Gw harus memberi kredit pada Fajar Nugros yang punya ide seperti ini--pertama kali dituangkan lewat cerita bersambung di Facebook, juga keberanian bapak ibu produser, Eko Kristianto dan Sophia Latjuba a.k.a. Sophia Mueller a.k.a. Emaknya Eva Celia (panggilan yang ketiga itu khusus bagi adek-adek yang lahir sesudah tahun 1998 =p) untuk merealisasikan ide ini dalam bentuk film yang produksinya cukup niat. Emang sangat menarik, dan seperti katanya bapak ibu produser di berbagai wawancara, seperti The Da Vinci Code tapi versi youtng romance. Pujian juga rela gw berikan buat tata musik dari Indra Lesmana a.k.a. Adeknya Mira Lesmana a.k.a. Bapaknya Eva Celia (panggilan yang ketiga itu khusus bagi adek-adek yang lahir sesudah tahun 1995 =p) yang memberi vibe yang sangat menarik, ada warna jazz tapi nggak berat. Demikian pula dengan tata sinematografi Yadi Sugandi yang terang dan segar di mata.

Nah, kita tiba pada bagian yang gw agak segan untuk kasih pujian, yaitu cara bercerita. Bagian awal-awalnya tuh fine-fine aja, tetapi ketika semakin terungkap rahasia demi rahasia, apalagi dengan adanya berbagai macam flashback dan reka ulang perstiwa sejarah, jadi agak-agak random gitu, kelihatan kurang rapi. Ada juga beberapa bagian yang sepertinya "ah lali aku", misalnya tidak ditunjukkannya Mamen nemu petunjuk di patung Hermes, masak tiba-tiba ada gitu. Dan bagian "lompat-lompat" ini nggak cuma sekali itu doang. Hal ini bikin gw ada kalanya merasa kehilangan informasi tentang apa yang terjadi, apa hubungan adegan itu dengan adegan ini, kenapa bisa tiba-tiba begini, dan sebagainya. Oh, kadang gags-nya juga garing, terkhusus ketika Mamen nyamar untuk ketemu Sobar di toko buku, yang terlalu seperti sketsa komedi.

Tapi gw tidak akan menarik kembali pujian gw bahwa Adriana ini film yang menarik dan segar, sesegar penampilan dek Eva Celia. Jika sanggup mengabaikan kekurangan-kekurangannya, Adriana juga adalah film yang menyenangkan dan lumayan bermanfaat karena memberi sejumput pengetahuan, mengajak keliling Jakarta sekaligus menambah wawasan tentang sejarahnya. Yup, Patung Dirgantara di Pancoran emang nunjuk pas ke Kemayoran. Cek aja di peta.




My score: 6,5/10

2 komentar:

  1. Yep tokoh2 nya bermain bagus utamanya Adipati. Di selingi sejarah yg mngkin gak semua orang tau membuat film ini jdi agak beda sma film2 drama kebanyakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, krn agak beda itu jadi lumayan asyik.
      terima kasih sudah mampir dan komen ya =)

      Hapus