Selasa, 15 Oktober 2013

[Movie] The Butler (2013)


The Butler
a.k.a Lee Daniels' The Butler
(2013 - AI Film/The Weinstein Company)

Directed by Lee Daniels
Written by Danny Strong
Inspired by the article "A Butler Well Served by This Election" by Wil Haygood
Produced by Pamela Oas Williams, Laura Ziskin, Lee Daniels, Buddy Patrick, Cassian Elwes
Cast: Forest Whitaker, Oprah Winfrey, David Oyelowo, Terrence Howard, Cuba Gooding Jr., Lenny Kravitz, Robin Williams, Liev Schreiber, James Marsden, Minka Kelly, John Cusack, Alan Rickman, Jane Fonda, Yaya Alafia, Colman Domingo, Elijah Kelley, Clarence Williams III, Vanessa Redgrave, Alex Pettyfer, Mariah Carey


Sentimen ras sepertinya memang sangat membekas di Amerika Serikat sehingga isu ini selalu hangat untuk diangkat dalam media film. Belum lama ini di ranah mainstream kita pernah lihat Django Unchained, Lincoln, dan sebelumnya ada pula The Help. Tahun ini muncul lagi film The Butler, mengangkat kisah seorang bulter (kepala pelayan) kulit hitam yang bekerja di istana kepresidenan AS, Gedung Putih. Meski bertema sejarah, The Butler bukanlah film tentang tokoh sejarah, melainkan tokoh fiksi yang terinspirasi dari kehidupan para butler kulit hitam di Gedung Putih yang tak banyak diketahui oleh orang banyak.

Dalam film ini, Cecil Gaines (Forest Whitaker) menjadi saksi perubahan politik dan sosial AS dalam masa pemerintahan 7 orang presiden (sejak tahun 1950-an hingga akhir 1980-an), sekaligus berusaha mempertahankan keutuhan keluarganya. Cecil datang dari keluarga pekerja kebun kapas di bagian South negeri AS yang pada awal hingga pertengahan abad ke-20 masih kental akan diskriminasi ras. Namun, berbekal tekad dan keberuntungan, Cecil akhirnya sukses menjadi seorang pelayan hingga naik jadi butler di hotel-hotel, dan akhirnya dipekerjakan melayani presiden di Gedung Putih. Kesuksesan Cecil di pekerjaan rupanya tidak dibarengi dengan kedamaian di keluarganya. Sang istri, Gloria (Oprah Winfrey) punya masalah dengan alkohol dan sedikit jablai. Sang putra tertua, Louis (David Oyelowo) bergabung dengan gerakan radikal antidiskriminasi yang sering jadi sasaran kekerasan masyarakat rasis (atau fasis?), padahal seumur hidupnya Cecil sudah susah payah membawa keluarganya keluar dari lingkungan yang rasis.


The Butler ini menarik karena tema yang diusungnya, seperti gw bilang tadi, jarang diketahui orang. Dan lebih menarik lagi, film ini ingin memberi gambaran tentang beberapa presiden AS dari sudut pandang seorang butler-nya, khususnya dalam hal kesetaraan ras. Ada yang tidak terlalu mementingkan, ada pula yang membela habis-habisan. Yah lumayan lah jadi semacam pelajaran sejarah dikit-dikit. Eh, diperankannya sama aktor-aktor kawakan pula, mulai dari Robin Williams (Dwight D. Eisenhower), Liev Schreiber (Lyndon B. Johnson), James Marsden (John F. Kennedy), John Cusack (Richard Nixon), hingga Alan Rickman (Ronald Reagan). Mungkin yang kurang familiar dengan sejarah Amerika, film The Butler awalnya mungkin akan sulit dinalar. Tapi kayaknya sih lama kelamaan akan bisa diikuti juga. Mungkin itulah gunanya adegan salah satu aksi protes antidiskriminasi di sebuah warung makan yang membedakan "meja kulit putih" dan "pojokan kulit berwarna" yang berujung pada kekerasan, yang bisa memberikan gambaran representatif tentang keadaan kala itu. Toh di negeri kita juga kerap terjadi, meski dalam konteks berbeda.

Di luar temanya yang cukup serius, keunggulan utama The Butler sebenarnya terletak pada deretan aktornya yang bermain apik. Khususnya tentu saja penampilan aktor watak Forest Whitaker yang "selesai" dah gak ada yang tandingin. Ini orang emang gila deh kalo bikin orang tersentuh secara emosional, tapi dengan cara yang beda dengan peran-peran sebelumnya. Kalo di The Last King of Scotland dia galaknya bikin serem, di sini galaknya bikin terenyuh. Oprah Winfrey yang kembali berakting setelah sekian tahun pun tampak sangat berkelas, dan cukup sanggup mengimbangi performa prima pak Whitaker. Sedangkan untuk para pemain pendukungnya menunaikan tugasnya dengan baik sekalipun dibilang mencuat juga gak terlalu. Mungkin penampilan kocak dari Elijah Kelley sebagai Charlie, putra bungsu Cecil yang menyegarkan suasana, tetapi porsinya terbilang sedikit.


Nah, sayangnya, selain mendapatkan performa ciamik dari pemainnya, gw tidak mendapatkan hal lain lagi yang mengesankan. Awalnya gw udah cukup terganggu dengan bagian pembukanya yang terlalu dipersingkat dan seakan "kok gampang banget ya?" gitu. Tetapi ketika gw udah maklum sama hal itu, mungkin itu demi membatasi durasi, gw masih kurang nangkep apa yang mau dijadikan statement film ini, selain bahwa rasisme itu menyakitkan. Cecil mungkin mewakili orang-orang yang sengaja pergi dari lingkungan rasis demi kehidupan lebih baik, namun panggilan untuk memperjuangkan hak-hak kaumnya tak pernah hilang. Atau film ini tentang harapan akan perubahan yang tak boleh sirna meski harus menanti berpuluh tahun (film ini berakhir ketika Barrack Obama, presiden AS berkulit hitam pertama, baru dilantik). Atau soal perbedaan pandangan ayah dan putranya tentang apa yang baik dan harus dilakukan. Jika memang benar itu semua maksudnya, gw merasa sutradara Lee Daniels terlalu kalap memasukkan banyak tokoh dan peristiwa sejarah yang dianggap penting tapi nggak mengerucut ke statement tertentu untuk menekankan maksudnya *ngatur*, jadi berasa lama. Atau, as usual, gw-nya aja yang kurang tanggap. Setelah muter-muter dan coba-coba bersinggungan dengan peristiwa sejarah, pada akhirnya gw cuma bisa menangkap The Butler tak lebih dari kisah hidup seseorang, semacam biografi biasa seorang tokoh yang bahkan tidak (sepenuhnya) ada di kenyataan. 




My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar