Selasa, 19 Maret 2013

[Movie] Lincoln (2012)


Lincoln
(2012 - 20th Century Fox/DreamWorks/Touchstone)

Directed by Steven Spielberg
Screenplay by Tony Kushner
Based in part on the book "Team of Rivals: The Political Genius of Abraham Lincoln" by Doris Kearns Goodwin
Produced by Kathleen Kennedy, Steven Spielberg
Cast: Daniel Day-Lewis, Sally Field, Tommy Lee Jones, David Strathairn, James Spader, John Hawkes, Tim Blake Nelson, Hal Holbrook, Joseph Gordon-Levitt, Gulliver McGrath, Bruce McGill, Jackie Earle Haley, Jared Harris, Lee Pace, Peter McRobbie, Gloria Reuben, Walton Goggins, Michael Stuhlbarg, David Costabile


Selain George Washington yang menjadi presiden pertama negara Amerika Serikat, ada satu lagi nama presiden negara itu yang sering sekali disebut-sebut, Abraham Lincoln. Nama yang begitu terkenal sehingga banyak dipakai sebagai nama tempat di Amerika, sampai menginspirasi sebuah band rock untuk jadi nama mereka dengan sedikit pelesetan, Linkin Park. Baiklah, agak out of topic memang =P. Itu cuma gambaran bahwa kalaupun Anda (dan warga non-USA lainnya) nggak tahu-menahu mengenai kebesaran tokoh sejarah bernama Abraham Lincoln itu, di Amerika sebaliknya. Sebagai presiden ke-16 yang terpilih selama 2 periode selama tahun 1861-1865, Lincoln berada dalam situasi penting dan membuat sebuah keputusan yang terpenting dalam sejarah berdirinya bangsa Amerika Serikat, yaitu mengakhiri praktek perbudakan, menegaskan prinsip negara itu bahwa semua manusia diciptakan setara. Hal ini menjadi tonggak penting dan berpengaruh hingga sekarang, dan itulah sebabnya (konon) beliau adalah presiden yang paling dicintai Amerika sepanjang masa.

Film Lincoln ini adalah effort teranyar menggambarkan ketokohan Abraham Lincoln tersebut secara lebih mendekati sejarah, bukan kisah karang-karangan tentang pembasmian vampir. Tetapi ini bukan juga film riwayat hidup, melainkan sebuah episode penting dalam hidupnya. Sepanjang 2,5 jam, kita akan melihat bagaimana Lincoln berjuang agar amandemen ke-13 UUD yang dapat menghapuskan perbudakan di seluruh wilayah hukum Amerika Serikat bisa disahkan di DPR. Memangnya ada apa dengan perbudakan? Well, tonton aja Django Unchained, you'll get the picture. Lha terus udah tahu perbudakan (yang memperlakukan manusia yang dianggap kelas bawah sebagai barang hak milik) itu nggak bener kenapa mengesahkan pelarangannya itu susah? Nyatanya kala itu, tidak semua orang berpikiran demikian. Bahkan persoalan boleh enggaknya perbudakanlah yang memicu Perang Saudara Amerika selama Lincoln berkuasa. Negara-negara bagian di Utara menuruti dihilangkannya perbudakan, sedangkan negara-negara bagian di Selatan tidak terima dan menuntut pemisahan diri dari negara Amerika Serikat, kelompok ini kemudian dikenal sebagai Konfederasi.

Presiden Abraham Lincoln (Daniel Day-Lewis) sudah bertekad untuk menghapus perbudakan di negara yang dipimpinnya secara konstitusional, yang pada efeknya dapat mengakhiri perang. Tetapi di DPR, meskipun partai Lincoln bernaung yaitu Partai Republik jumlahnya mayoritas, tidak menjamin bisa memenuhi syarat pengesahan yang harus disetujui sedikitnya dua per tiga jumlah anggota DPR. Lawannya, Partai Demokrat jelas akan menjegal usulan ini...and basically apa pun yang diputuskan Lincoln. Namanya juga oposisi, apa aja pasti diprotes. Untuk mengatasi ini, Presiden Lincoln menugaskan William Seward (David Strathairn) sang Secretary of State (terjemahan resminya "Menteri Luar Negeri" tapi kok gw lebih sreg ke Menteri Sekretariat Negara ya?) untuk diam-diam membentuk tim yang dapat melobi dan memenangkan dukungan dari beberapa anggota fraksi Demokrat yang peragu. Fraksi Republik sendiri terjadi dualisme: ada kelompok radikal yang dimotori Thaddeus Stevens (Tommy Lee Jones) yang murni ingin penghapusan perbudakan, ada pula kelompok konservatif yang di-dewan-suro-i oleh Preston Blair (Hal Holbrook) yang lebih ingin menghentikan perang dan negara-negara Konfederasi bisa bersatu lagi dengan Serikat. Lobi kepada dua kubu ini pun bukan mudah. Stevens bukanlah simpatisan Lincoln, dan Blair hanya mau memenuhi permintaan Lincoln jika sudah ada usaha damai dan gencatan senjata dengan pihak Konfederasi, tak peduli amandemen UUD ke-13 itu tembus atau tidak.

With all sok-ngerti-ness aside, gw melihat cara film ini memaparkan proses politik serta intrik-intriknya dengan cukup jelas dan porsi seimbang. Seimbang dalam artian bisa menitikberatkan berbagai titik cerita tadi (lobi pihak ini pihak itu dan juga persidangan di gedung DPR) bisa berjalan beriringan dan cukup mudah dikaitkan satu dengan yang lain. Problemnya, durasinya jadi panjang. Set-up situasi seputar usaha pengesahan amandemen ke-13 UUD itu memang cukup panjang dan akan cukup menyulitkan untuk diikuti, apalagi bagi yang memang meh sama dunia hukum dan pemerintahan, alih-alih hukum dan pemerintahan negeri orang. But it did pay off, rasanya tidak ada yang mubazir karena semua unsur cerita terasa saling melengkapi. Dan untung saja khusus untuk versi bioskop luar Amerika (contohnya Indonesia), ada bagian prolog berisi penjelasan situasi di awal film sehingga dapat mengurangi kebingungan penonton awam tentang latar belakang sejarahnya.


Di saat yang bersamaan film ini juga mencoba menggambarkan kepribadian Presiden Lincoln, yang diperlihatkan begitu down to earth, ramah, gemar bercerita ngalor ngidul, tetapi bisa tegas dan keras demi hal yang diyakininya benar. Ideal sekali memang digambarkan, bahwa Lincoln tidak hanya mau menghapuskan perbudakan di negaranya karena tekanan sesaat saja, melainkan juga mempertimbangkan dampaknya hingga generasi-generasi selanjutnya. Ia tahu apa yang terbaik bagi rakyatnya, dan tak gentar memperjuangkannya, meskipun harus juga berkompromi dan memakai "akal-akalan", but again demi kebaikan semua. Tapi yang menurut gw menarik juga, adalah bagaimana film ini masih menyisakan ruang untuk menunjukkan sisi rapuh Lincoln, terutama berhubungan dengan keluarganya. Sang Ibu Negara, Mary "Molly" Lincoln (Sally Field) masih membawa kesedihan mendalam atas wafatnya salah satu anaknya ketika masih kecil, yang menyebabkan emosinya kurang stabil, sehingga pertengkaran sering tak terhindarkan. Hubungan Lincoln dengan sang putra sulung, Robert "Bobby" (Joseph Gordon-Levitt) juga kurang mesra akibat Lincoln yang seakan kurang perhatian dan Bobby yang tiba pada fase nggak mau nurut orang tua.

Mudah sekali menilai film Lincoln ini sebagai karya kolosal sejarah yang dikerjakan dengan sangat baik dan rapi. Lihat saja dari tampilan ruangnya yang otentik (gw suka lampu petromak kaca buletnya yang ada di mana-mana =)), tata visual yang ganteng, juga akting menawan dari deretan aktor jempolan yang (cukup) terkenal. Namun untuk menikmatinya memang tidak mudah, karena sifatnya yang drama berbalut politik. Pacing-nya tidak terlalu cepat, dan gw malah melihat tata adegannya banyak yang European-style, pun film ini nyaris tak punya adegan "gebyar" berskala besar. Publik Amerika jelas tetap akan lebih mudah menerimanya. Buktinya di antara 9 nomine Film Terbaik Oscar tahun ini, Lincoln adalah yang pendapatan peredaran bioskopnya paling tinggi di sana. Sedangkan bagi yang lain, film ini seakan jadi film "tersegmen" yang hanya akan menarik bagi penggemar sejarah dan politik, selain tentu saja penggemar film yang penasaran dengan 12 nominasi Oscar yang diterimanya serta performa teranyar dari aktor level dewata, Daniel Day-Lewis. 

Oh, hey, jangan lupa film ini adalah garapan Steven Spielberg yang sudah sangat fasih dalam menjalin momen demi momen dalam setiap filmnya agar dapat berkesan oleh penontonnya, seberat apa pun kontennya. Bahkan dalam film sejarah seperti ini, Spileberg tetap sukses menyematkan kehangatan di antara kisah pergolakan politik pada zaman itu. Percayalah, di permukaan mungkin akan sedikit menjemukan (apalagi kalau nontonnya tanpa sedikit pengetahuan tentang Perang Saudara Amerika...atau nontonnya di bajakan bukannya yang versi bioskop internasional =p), tetapi jika diperhatikan dengan seksama, Lincoln sama sekali tidak mengecewakan. Lincoln malahan jadi contoh film ketokohan *apa pula istilah ini* yang baik, terutama mengingat film ini nggak cuma mempertunjukkan yang baik-baiknya saja tentang tokoh yang dipuja-puja bangsa itu *senggol salah satu film biopik Indonesia baru-baru ini*. Jelas ada glorifikasi dan patriotisme, tetapi film ini juga tidak menutup-nutupi kondisi sosial politik masa lalu yang belum stabil, juga efek penghapusan perbudakan yang tak selamanya manis.




My score: 8/10

2 komentar:

  1. OLd Neptune! Shake thy hoary Locks!

    Baru kaLi ini nonton fiLm 'poLitik' dan ga bosen.. LincoLn bener-bener tampak seperti 'bapak bangsa' (bows deepLy to DanieL Day-Lewis), pengen deh punya presiden kaya' beLiau *eh*
    SaLah satu unsur kesukaan gwe: di seLa tema yang bikin aLis kusut, masih ada momen-momen ketawa yang pas, dan humornya ga cuma disuguhin Lewat tiga orang tukang suap itu (maaf maLes nge-googLe), tapi Pak Presiden sendiri juga bisa ngajak penonton ketawa (once again, bows deepLy to Mr. Day-Lewis. A god-actor, indeed)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul! bangsa kita butuh Abraham Lincoln banget!

      Tim pelobinya itu yang main James Spader+John Hawkes+Tim Blake Nelson. Kayaknya emang disengaja porsi mereka dibuat untuk memperingan tone film ini, dan berhasil =)

      Hapus