Kamis, 10 Oktober 2013

[Movie] Air Mata Terakhir Bunda (2013)


Air Mata Terakhir Bunda
(2013 - Rumah Kreatif 23 Pictures)

Directed by Endri Pelita
Screenplay by Endri Pelita, Danial Rifki
Based on the novel by Kirana Kejora
Produced by Endri Pelita
Cast: Vino G. Bastian, Happy Salma, Rizky Hanggono, Ilman Lazuvla, Sean Hasyim, Reza Farqan Bariqi, Mamiek Prakosa, Endi Arfian, Tabah Penemuan, Marsha Timothy


Meskipun gw sering kesrimpet kalau nyebut judulmya, antara Air Mata Terakhir Bunda atau Mata Air Bunda Terakhir =p, film ini tuh sesederhana tentang kenangan akan sosok bunda. Dikisahkan seorang lelaki berlogat Jawa di Jakarta, Delta (Vino G. Bastian) akan menikah dengan Lauren (Marsha Timothy), tapi anehnya Lauren tidak pernah diperkenalkan pada orang tua Delta. Delta selalu berdalih seakan ada sesuatu tentang ibunya yang bikin dia malu untuk memperkenalkannya pada Lauren. Ketika Lauren meminta break karena Delta tidak mau jujur, Delta kemudian mengingat kembali pada sosok Ibu (Happy Salma) di masa kecilnya ketika masih tinggal di pinggir ladang garam Sidoarjo, Jawa Timur.

Delta kecil (Ilman Lazuvla) dan abangnya, Iqbal (Reza Farqan Bariqi) tinggal bertiga saja bersama Ibunya yang menurut sinopsis resmi namanya Sriyani. Delta selalu dibilangin kalau ayahnya sudah meninggal, tetapi para tetangga selalu merongrong kepenasaranannya dengan bilang ayahnya masih hidup, sekarang jadi juragan sepatu yang kaya. Tetapi, Ibu selalu bersikeras bahwa ia sanggup mengurus kedua anaknya meskipun harus punya berbagai pekerjaan, dari jualan ketupat kupang (keong sawah) sampai jualan kain. Meski susah payah, Ibu senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan mereka, juga membekali dengan nasihat-nasihat, supaya Delta dan Iqbal ketika tumbuh dewasa (diperankan Vino dan Rizky Hanggono) dapat menjalani hidup yang lebih baik. 

Dan...well, that's pretty much it. Film ini tidak memuat banyak plot selain tentang kenangan Delta terhadap ibunya lewat berbagai peristiwa, mulai dari mencari ayah kandungnya, jadi pemimpin karnaval anak SD se-Sidoarjo, sampai pada kesampaiannya cita-cita ke perguruan tinggi. Hampir sepanjang film, tidak ada arah yang pasti dari kisah berlatar era 1990-2000-an ini, kecuali rasa penasaran yang sudah tertanam dari awal film: kenapa Delta enggan cerita soal ibunya kepada Lauren. Jawabannya mungkin agak abstrak, setidaknya sepenangkapan gw. Maksudnya, tinggal cerita aja gitu emaknya sekarang di mana dan gimana, emangnya kenapa? Detilnya mungkin kurang mengenakkan tapi garis besarnya 'kan tidak harus sesusah itu. Agak aneh sih, tapi kalo ceritanya udah di-set begitu, ya udahlah.

Gw berani bilang Air Mata Terakhir Bunda itu bukan film sembarangan. Ia punya production value yang cukup serius dan dituturkan dengan cukup enak. Gw suka sinematografinya yang ditata oleh Gunung Nusa Pelita, yang gw curigai ada pertalian darah dengan sutradaranya, Endri Pelita. Nah tapinya, film ini masih banyak tersandung di beberapa titik. Selain yang gw sebut tadi, ada beberapa kalimat-kalimat "nasihat" yang kurang smooth ketika dimasukkan dalam dialog dan situasinya. Dan juga yang paling kesandung adalah masalah latar waktu yang kurang konsisten. Yang gw tahu pasti di tahun 1990-an, batik guru sekolah negeri belum berwarna biru-kehijauan, dan, emang ini paling susah sih, motor-mobil beserta plat nomornya yang jelas-jelas dari tahun 2010-an.

Tapi sekali lagi, Air Mata Bund...eh Terakhir Bunda termasuk film drama sentimentil yang cukup enak ditonton. Juaranya ada pada penampilan aktornya yang tampil dengan usaha yang niat, mulai dari penjiwaan sampe dalam hal logat wicara yang cukup wajar. Pokoknya kalo niatnya baik pasti keluarnya juga baik. Vino G. Bastian tetap mampu tampil konsisten sebagai pemeran utama, chemistry-nya dengan Rizky Hanggono sebagai kakaknya juga tampak menyatu. Versi kecil mereka berdua, Ilman Lazuvla dan Reza Farqan Bariqi juga tampil natural dan efektif. Demikian pula Happy Salma yang sanggup tampil meyakinkan sebagai seorang single mother yang penuh kasih sayang dan pantang menyerah, dan "comeback" dari aktor Tabah Penemuan juga tidak mengecewakan. It's funny how seseorang bernama Happy dipasangkan dengan seseorang bernama Tabah =p. Thanks to them, sekalipun naskahnya masih belum yahud, film ini masih lolos sebagai film Indonesia yang layak tonton. Nggak mengecewakan lah.



My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar