Rabu, 07 Agustus 2013

[Movie] La Tahzan (2013)


La Tahzan
(2013 - Falcon Pictures)

Directed by Danial Rifki
Written by Jujur Prananto
Based on the memoir "Pelajar Setengah TKI" by Ellnovianty Nine in the book "La Tahzan for Students"
Produced by Frederica
Cast: Atiqah Hasiholan, Ario Bayu, Joe Taslim, Dewi Irawan, Martina Tesela Panjaitan, Nobuyuki Suzuki, Piet Pagau, Early Ashyla, Prilly Latuconsina


Jika Anda menyukai cerita romansa dengan adegan-adegan berkeju nan gombal, tontonlah La Tahzan. Jika Anda tidak keberatan dengan kisah cinta manusia tanpa terlalu propaganda nilai-nilai tertentu, tontonlah La Tahzan. Tetapi jika Anda tidak mau kedua unsur itu digabungkan dalam satu film, then we have a problem. Hell, bahkan jika dikatakan debut film panjang Danial Rifki (penulis naskah Tanah Surga...Katanya) ini sebuah film drama percintaan Islami, hanya karena judul dan theme song dan penekanan plot pada trailer-nya, juga rilis menjelang Lebaran, La Tahzan bisa dibilang agak melakukan "penipuan". Film yang tadinya mau diberi judul Orenji (ejaan Jepang untuk "orange") ini layaknya sebuah kisah percintaan berseting luar negeri yang lumayan, tetapi dinodai oleh marketing yang keliru, yang menekankan bukan pada hal utama yang terdapat dalam filmnya sendiri.

Viona (Atiqah Hasiholan) dan Hasan (Ario Bayu) adalah dua sahabat-sejak-kecil-kayak-pacaran-tapi-nggak-jadian, yang punya impian yang sama untuk tinggal di Jepang. Keadaan memaksa Hasan untuk tiba-tiba duluan bekerja ke Jepang dan tidak pernah memberi kabar sejak berangkat. Berkat tekun belajar di tempat kursus bahasa Jepangnya, beberapa bulan kemudian Viona, yang anak orang kaya baru lulus S1 desain grafis, mendapatkan program belajar bahasa sambil kerja sambilan alias "arubaito" (kata serapan Jepang untuk bahasa Jerman "arbeit" yang artinya..err..kerja) ke "Surabaya"-nya Jepang, Osaka. Sekalian menghidupi kehidupan di negeri impian, sesuai titipan ibunda Hasan (Dewi Irawan), Viona diharapkan menemukan Hasan yang menghilang. Dalam rangka tribute cerita-cerita FTV siang-siang, dalam perjalanan menuju tempat kerja Viona tak sengaja bertemu seorang fotografer lepas bernama Satoshi Yamada (Joe Taslim), yang tak seperti orang Jepang kebanyakan langsung aja gitu memperkenalkan namanya pada orang asing. Mungkin ini karena kebetulan Yamada ngerti bahasa Indonesia, karena kebetulan juga ibunya orang Indonesia. Viona dan Yamada jadi sering jalan bareng sambil minta tolong cariin Hasan yang sudah tidak tinggal di alamat yang dipegang Viona. Seiring kebersamaan mereka, Yamada jatuh cinta sama Viona, berniat melamar, bahkan bilang mau masuk Islam demi Viona. Melihat keseriusan Yamada, Viona tetap dirundung ragu karena hatinya masih tertambat pada Hasan yang tidak jelas keberadaan maupun isi hatinya *tsaaah*.

Iya, filmnya bukan soal ada orang Jepang masuk Islam, tetapi lebih tentang seorang cewek yang harus memilih antara dua orang cowok, yang satunya baru kenal tapi selalu ada dan sangat berusaha untuk mendapatkan hatinya, yang satu lagi udah dapet hatinya cuma nggak pernah daftar ulang. Silakan aja bayangkan ada berbagai gombalan dan tindakan yang "penuh cinta" yang kadang akan bikin penonton jengah dan berseru "hadeeeuh". Atau justru tersentuh, tergantung sih. Dan yang cukup disayangkan adalah pembuat film seperti gegabah membuat La Tahzan sebagai film beruansa Islami. Setelah film berakhir pun, pasti banyak yang bertanya apa hubungan keseluruhan film ini dengan judul dan penggalan ayat yang dimunculkan di awal film. Nyatanya unsur religi dalam film ini benar-benar hanya "nuansa", sedikit saja, bahkan baru muncul kurang dari setengah jam sebelum film berakhir. Terlihat sekali unsur religi hanya tempelan saja, soal Yamada yang minta diajari Islam. Menurut gw bagian itu bukannya nggak perlu, tetapi soundtrack lagu rohani yang melatarinyalah yang nggak perlu, salah konteks dengan keseluruhan cerita film. Film ini sudah berjalan "fine-fine" saja sebagai kisah cinta picisan, terus tiba-tiba berbalik arah selama 5 menit jadi film "religi" berhias lagu dan antribut Islami, eh terus balik ke jalur yang sebelumnya seakan nggak terjadi apa-apa. Maksa deh.

Well, tapi di antara adegan-adegan payah, first act/set-up cerita yang berantakan, dan sedikit "filosofi" yang kurang kena, setidaknya La Tahzan masih punya beberapa titik yang tidak membuatnya jatuh sebagai film yang sia-sia. Setidaknya...emm...apa ya...oh, setidaknya pilihan yang dibuat oleh ketiga karakter utamanya pada bagian konklusi terasa cukup wajar dan nggak dibikin-bikin, nilai yang ingin disampaikan lumayan bisa diterimalah, kayak gw bilang sebelumnya, tidak terasa unsur propaganda tertentu. Dan lagipula film ini punya penampilan yang oke dari Atiqah dan Ario, juga dari effort yang luar biasa niat dari Joe Taslim. Terlepas dari aksen wicara yang masih terpeleset di sana sini, dan outfit yang kurang "ngondek", gestur mas Joe bisa lolos sebagai orang Jepang, you know, suka ngangguk-ngangguk sendiri dan ngomong rada monyong-monyong miring gitu. Sedikit hiburan juga ditampilkan Martina Tesela sebagai roommate Viona yang tak bernama (atau gw kelewatan aja), juga akting komikal Nobuyuki Suzuki yang akhirnya berakting di negeri asalnya, untungnya bukan sebagai tentara zaman Jepang di Indonesia lagi =)).

Nah, sebenarnya alasan utama gw nonton La Tahzan ini karena filmnya mengambil latar dan syuting langsung di Osaka, Kobe dan sekitarnya, 'kan ceritanya eike pernah di sana sebentar, huwehehehe *pamer* *belagu* *minta dilemparin shuriken*. Meskipun harus menghadapi berbagai ke-"hadeuh"-an film ini, setidaknya gw bisa "temu kangen" sama Oosaka tercinta. Wah betapa hebohnya gw ketika muncul gambar kawasan belanja Shinsaibashi, Dotonbori, dan Umeda, sambil nunjuk-nunjuk toko-toko dan tempat makan mana aja yang pernah gw kunjunginTsutaya! Kinryu Ramen! Don Quixote! Bikkuri Donkey! Takoyaki! Iklan Glico! *norak*. Tapi di luar hal personal itu, sebenarnya film ini udah menunjukkan beberapa knowledge yang memang benar, mulai dari "agama"-nya orang Jepang, pilihan memakai sepeda sebagai moda transportasi di Osaka, orang-orang yang biar udah belajar bahasa Jepang di Indonesia tapi waktu di Jepang langsung hancur semua ilmu *curhat*, tentang tenaga kerja Indonesia, juga pandangan umum tentang kenapa orang Indonesia pengen ke Jepang. Jika ada yang mungkin "nggak benar" adalah ketika Viona bilang masakan buatan Yamada enak. Nggak mungkin enaklah, wong nggak pake sambel =pp.

Anyway, film ini juga dengan oke menunjukkan Osaka sebagai kota yang agak "menghancurkan" bayangan orang tentang Jepang, karena kotanya nggak megah, nggak fotogenik, dan termasuk jorok untuk ukuran Jepang =)). Tapi nggak apa-apa, itu bener dan komprehensif kok, tanpa harus ada kewajiban memunculkan landmark ternama macam Osaka Castle atau menara Tsutenkaku yang membuatnya hanya jadi film wisata—atau mungkin izinnya sulit, hehe. Sayangnya, film ini masih terjebak generalisasi "Jepang itu homogen" dengan kurang ditunjukkannya sifat-sifat khas Osaka, utamanya soal dialek bahasa, sesuatu yang tak mungkin terhindarkan bila berkunjung ke sana. Mungkin ini demi penyederhanaan, daripada membuat pelajaran bahasa Viona dkk jadi tambah sulit. Tapi ya kasihan aja, Osaka selama ini kalah pamor dari Tokyo sang rival, dan film ini nggak membantu *ya nggak harus ngebantu juga sih*. 

So, setidaknya (lagi), film ini memenuhi apa yang gw cari, semacam mengobati kekangenan gw terhadap salah satu periode favorit dalam hidup gw—kasih ponten tambah deh. Tetapi selebihnya, well, palingan buat ketawa-ketawa aja, nggak ada kesan lebih. Maksud gw, kalau mau jadi film dengan unsur religi kental, permasalahin juga dong soal kehalalan makan-minum atau bagaimana cara cari waktu dan kiblat salat. Dan kalau mau (dan seharusnya) unsur agama ini hanya satu bagian dari kehidupan tokohnya, ya lebih baik jangan pasang theme song rohani, judul dan materi promosinya juga jangan misleading begini. Sayang potensi film yang kayaknya baru ganti judul beberapa bulan sebelum beredar ini tampak buyar dengan last minute decision dari siapapun itu yang bertanggungjawab, wakarahen lah gw. Well, paling enggak, film ini sudah mempromosikan Kaiyukan (Osaka Aquarium) dan Umeda Sky Building (gedung ada observatoriumnya) sebagai tempat janjian, pacaran, bahkan lamaran kalau ke Osaka =P. Ookini...




My score: 6/10


NB:
- Trivia nggak penting: lagu yang disenandungkan temannya Viona (Martina Tesela) waktu bersih-bersih kamar adalah hit "Sakuranbo" milik Ai Otsuka, yang adalah penyanyi J-Pop terkenal asal Osaka. Aah, details =).
- Arubaito adalah istilah di Jepang untuk kerja sambilan, biasanya untuk kerja praktis macam kasir di minimarket/convenience store, pegawai restoran dan lain-lainnya. Ini lazim ini dilakukan oleh mahasiswa termasuk mahasiswa asing, karena hanya perlu persetujuan yang punya/pengelola tempat, hanya digaji tunai, nggak perlu ada jaminan, tunjangan, atau asuransi apalagi pensiun. Mahasiswa asing menggunakan ini untuk menambah biaya hidup sekaligus kesempatan berlatih bahasa, sedangkan untuk orang-orang lokal sebagai tambahan uang jajan atau biaya buat liburan. =))

4 komentar:

  1. Termasuk yg nunggu film ini since trailernya wara wiri muluk ya, I mean... who couldn't klepek2 liat combo Joe Taslim sama Ario Bayu? *tendang Atiqah ke rel kereta api* anyway itu part yang bagiansnob gue-pernah-stay-diosaka sih lucu, at least ada faktor proximity ke elonya ya....
    Anyway kk aji renji yang caem, I just tagged you to this kind of blogathon, seruuu kok seruuui, hahahs, I mean if you have a time, yuk ikutan, you could check my post on http://moviegasm.wordpress.com/2013/08/09/i-got-the-liebster-and-sunshine-awards-yay/#more-4128

    Ditunggu kakaaaa *terus yg ngajakin malah kabur* :))

    Happy holiday! Hope you have a blessed one!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you, Anggie atas tag-annya. kayaknya gw bakal bikin juga, tunggu tanggal mainnya *tsaah*

      Hapus
  2. Judul ama film nya gk sinkron,petikan ayat qur'an di opening nya kesan nya maksa bgt pdahal ini bukan film 100%islam lgian sya prhatikan gk ada tokoh2nya yg sedih2 amat dlm hidup nya! Dan atiqah nya ketuaan jdi tokoh viona,ngomong nya sok di imut2in..tpi bhsa japan nya lmayan fasih!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, sama dong, saya juga menduga tema Islami-nya hanya strategi marketing saja.

      Soal Atiqah sebagai Viona banyak yg bilang ngeselin, tapi jagan salah, ke-sok-imut-an juga adalah salah satu sifat khas sebagian wanita Jepang berbagai usia. Mengingat Viona pengagum Jepang, agak bisa dimaklumi sih dia begitu mungkin mau meniru sifat orang sono =P

      Hapus