Senin, 01 Juli 2013

[Movie] Leher Angsa (2013)


Leher Angsa
(2013 - Alenia Pictures)

Directed and Produced by Ari Sihasale
Written by Musfar Yasin
Cast: Bintang Panglima, Lukman Sardi, Alexandra Gottardo, Yudi Miftahudin, Fachri Azhari, Agus Prasetyo, Ringgo Agus Rachman, Teuku Rifnu Wikana, Tike Priatnakusumah


Hmmm...Gw bingung harus mulai dari mana dalam menanggapi film produksi Alenia terbaru ini. Ini pertama kalinya gw nonton filmnya Alenia—yang setiap tahun konsisten merilis film dengan tema anak-anak berlatar berbagai daerah di Nusantara—sejak produksi perdana mereka, Denias Senandung di Atas Awan yang turut mempelopori film-film nasional dengan tema sejenis dan menurut gw juga filmnya emang bagus. Kali ini Alenia, yang adalah gabungan nama pendirinya, suami istri Ari "Ale" Sihasale dan Nia Zulkarnaen, menelurkan *no pun intended* Leher Angsa, yang disutradarai sendiri oleh Ari Sihasale (Di Timur Matahari, Tanah Air Beta, King) atas olahan naskah Musfar Yasin (Alangkah Lucunya Negeri Ini, Get Married, Nagabonar Jadi 2). Latar yang diambil adalah pulau Lombok provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di kecamatan Sembalun yang terletak di kaki gunung Rinjani yang permai. Penggerak ceritanya masih anak-anak usia SD, sedangkan isu yang diangkat adalah...emmm...apa ya? Well, jujur saja, "Apa ya?" adalah respons gw setelah film ini menyelesaikan durasi nyaris 2 jamnya yang terasa banget panjangnya itu.

Kalau dari judulnya, meski sekilas terdengar "puitis", film ini membahas isu sanitasi di pedesaan. Karena, "leher angsa" adalah istilah untuk kloset/WC yang biasa kita gunakan sehari-hari. Gak tau? Coba cek buku pelajaran SD-nya lagi ya. Anyway, di desa tokoh utama kita Aswin (Bintang Panglima), kloset leher angsa memang barang alien, warga tidak biasa atau mungkin tidak tahu. Selama ini mereka nyaman saja berbagi ruang tanpa sekat untuk membuang apapun-yang-perlu-dibuang di sungai mengalir, bahkan digambarkan di film ini mereka bisa berbaris ramai-ramai dan sambil ngobrol. Hanya Pak Kepala Desa (Ringgo Agus Rahman) yang punya WC leher angsa di rumahnya, eksklusif. Isu sanitasi ini awalnya muncul dari ibu tiri Aswin (Alexandra Gottardo), yang berasal dari luar daerah (kayaknya Jawa) yang menanyakan kepada Aswin di mana ada WC, hingga akhirnya beliau terpaksa membiasakan diri untuk buang hajat di sungai dengan berbagai penyesuaian. Isu ini muncul lagi ketika Pak Guru ngondek Haerul (Teuku Rifnu Wikana) sedang menyampaikan materi tentang sanitasi, murid-murid tidak mengerti karena tidak pernah lihat WC leher angsa yang diceritakannya. But to my surprise, isu ini tuh cuma seiprit porsinya dari keseluruhan cerita, malah kalau disatukan bisa kali selesai dalam 10 menit.

Gw pun kurang mampu mengaitkan esensi WC leher angsa dengan kisah-kisah lain di film ini. Film Leher Angsa seperti kepenuhan isu yang ingin disampaikan, sehingga jatuhnya tidak menyatu dan pecah-pecah. Pada awalnya sih dibuka dengan hubungan ayah dan anak, utamanya tentang kerenggangan hubungan Aswin dengan sang ayah (Lukman Sardi), yang dianggapnya bersalah atas musibah meninggalnya sang bunda (Tike Priatnakusumah). Tetapi setelah itu, film ini sangat, terlalu ke mana-mana. Kita kemudian diperkenalkan dengan tiga kawan Aswin yang unik-unik dan komikal, persoalan bisul, kepala desa arogan, kucing mutan, dan the Indonesian movie moment of the year: visualisasi karangan Aswin yang mencakup balapan feses berwajah *ini beneran*. Lalu di antaranya ada konflik keluarga dan juga satu lagi kematian yang tragis tetapi nggak berefek apa-apa buat kelanjutan kisahnya. Entah kenapa untuk membangun haru harus begitu caranya, bukankah ini untuk ditonton anak-anak? Entahlah, rasanya apa yang dipikirkan oleh para pembuat film ini sedang tidak klik dengan pikiran gw. Memang ada beberapa momen tawa menghibur, tetapi sisanya gw hanya bisa kebingungan apa sebenarnya yang mau disampaikan film ini. Kisahnya "bingung", pembangunan karakternya pun kurang mulus, seperti kenapa kesukaan Aswin membaca baru benar-benar dimunculkan setelah perkenalan para karakternya sudah beres, jadi seperti tempelan saja. 

Namun di sisi lain, harus diakui kualitas produksi film ini sangat baik. Sinematografinya gw suka banget, bersih dan nyaman dilihat, apalagi ada bonus pemandangan gunung Rinjani yang indah. Tata gambarnya ini setidaknya menyelamatkan film ini dengan sangat. Tata suara dan musiknya juga terpuji. Bahkan efek visual/animasinya salah satu yang paling niat dan efektif di perfilman Indonesia. Ngefek banget, sampe geli-geli gimana gitu =p. Kecuali itu, gw tidak sanggup menikmati film ini sebagaimana yang gw harapkan. Pace-nya bermasalah, kebanyakan isu dan keberatan subteks dalam rangka sindir-menyindir, "pesan pendidikan"-nya terajut kurang rapih, jadinya malah ribet, dan...well, kalau mau diinget-inget perihal paling menonjol film ini adalah  hal-hal "jorok"-nya, seperti BAB, bisul, korek mulut, dan lain sebagainya, yang sayangnya tanpa pengembangan yang memuaskan. Ini bukan film ancur, niatnya baik, tapi tetap terasa janggal...dan nggilani.




My score: 5,5/10

2 komentar:

  1. Jangan cuma bisa mengkritik dan mencela, Anda sudah bisa bikin film apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan cuma komentar, baca juga ulasan dengan lebih seksama. saya tidak mencela, saya hanya gagal memahami ketika menonton. masalah bukan selalu di filmnya, tapi bisa juga di saya yang wawasannya kurang.

      dan soal karya, saya beberapa kali bikin film dokumentasi kegiatan sekolah dan komunitas. hasilnya sangat jelek dan tidak bisa disebut film, tapi setidaknya saya sadar betul akan hal itu.

      Terima kasih sudah merespons.

      Hapus