Rabu, 19 Juni 2013

[Movie] Cinta dalam Kardus (2013)


Cinta dalam Kardus
(2013 - KG Studio)

Directed by Salman Aristo
Written by Raditya Dika, Salman Aristo
Produced by Salman Aristo, Ruben Adrian S.
Cast: Raditya Dika, Anizabella Lesmana, Ryan Adriandhy, Hadian Saputra, Dahlia Poland, Fauzan Nasrul, Lukman Sardi, Tony Taulo, Tina Toon, Sharena Gunawan


Meskipun bukan "penganut" Raditya Dika sebagaimana banyak remaja dan pemuda urban masa kini, gw cukup tertarik dengan film kedua dari tiga (!) film layar lebar Dika yang dirilis tahun 2013 ini, Cinta dalam Kardus. Pasalnya, film ini semacam edisi khusus dari "Malam Minggu Miko", sebuah serial komedi yang tayang di jaringan Kompas TV, yang gw cukup sukai. Pada akhirnya memang film ini bukan "Malam Minggu Miko: The Movie" karena pendekatan yang dilakukan sama sekali berbeda, nggak ada tuh gaya dokumenter dengan testimoni dari masing-masing tokohnya. Namun, film ini tetap "meminjam" tokoh dari serial tersebut, yakni Miko (Raditya Dika), si pemuda awkward pencari cinta, versi innocent-nya Dika lah kira-kira, dan teman sekontrakannya yang sok kegantengan, Rian (Ryan Adriandhy), serta tak lupa pembantu lugu (banget) mereka Mas Anca (Hadian Saputra). Akan tetapi, fokus film ini tetap pada Miko, yang kali ini sedang gundah karena hubungan dengan kekasihnya yang seorang graphic artist/designer/semacam itulah, Putri (Anizabella Lesman) kini tak seperti dulu lagi, lebih banyak berantemnya, layaknya salah satu mereka sudah berubah jadi orang yang berbeda. Miko menyebutnya "sindrom BTB", berubah tidak baik.

Di suatu malam minggu, Miko pun mencoba melampiaskan kegundahannya lewat stand-up comedy night di sebuah kafe. Awalnya gagal, karena tak satu pun pengunjung kafe yang tampak terhibur dengan keberadaannya di panggung. Namun kemudian Miko membuka ruang obrolan dengan beberapa pengunjungnya, terutama perihal pandangannya tentang cinta yang kebanyakan bernada sinis dan negatif. Berawal dari menggugat "keanehan" cinta remaja kepada sepasang anak SMA labil Caca (Dahlia Poland) dan Kiplik (Fauzan Nasrul) yang sudah saling memanggil ayah-bunda padahal belum sebulan jadian, stand-up Miko bukannya jadi ajang menghibur audiens kafe dengan kelucuan, malah jadi ajang pembongkaran diri Miko, terutama perihal kehidupan cintanya yang tak pernah berjalan mulus dan atau langgeng. Miko pun kemudian bercerita mengenai setiap benda "peninggalan" dari mantan pacar/gebetan yang ia simpan di dalam sebuah kardus, yang tadinya mau dibuang, menceritakan satu per satu pengalamannya yang pahit hingga aneh, sebagai bentuk pembelaannya terhadap teori sindrom BTB-nya itu, yang kerap didebat audiensnya yang menganggap Miko-lah yang salah menyikapi cinta.

Di luar ekspektasi gw, ternyata Cinta dalam Kardus ini sebuah sajian yang agak surreal. Tak hanya dari premisnya yang "harusnya stand-up kok malah ngobrol serius sama penonton" sehingga sama sekali tidak terkesan seperti stand-up comedy night betulan *kayak pernah liat aja*, tetapi presentasinya pun cukup eksperimental, terutama dengan cara sutradara Salman Aristo membuat peragaan/imaji kenangan setiap kisah mantan Miko dengan properti dan dekorasi dari bahan kardus. The whole set-up is a bit weird, tetapi bukan berarti jelek, malahan membuatnya berbeda dari komedi kebanyakan. Toh film ini memang bukan komedi biasa, gw pun ragu kalau film ini bisa dideskripsikan sebagai "lucu", setidaknya bukan lucu huakakakak gitu. Meski diisi dengan berbagai dialog dan gags yang mengundang tawa, nyatanya inti cerita film ini...well...galau. Rasanya feel "galau" ini lebih mendominasi, apalagi dengan pernyataan-pernyataan dan teori-teori Miko (atau Dika) yang bawel tetapi banyak kali menyindir downside dari hubungan percintaan dengan jitu, khususnya di kalangan muda-mudi. Namun, semuanya dibungkus dengan berbagai keabsurdan (khususnya kisah tentang para mantan Miko), sehingga kesannya film ini ya tetap komedi. Perpaduan ini menurut gw cukup berhasil dan menghibur, walaupun ada saatnya pula gw merasa pembuat film ini terlalu berusaha dalam membuat momen emosional/sentimental di antaranya.

Di luar penuturannya yang menarik, Cinta dalam Kardus didukung dengan mantap oleh production value yang menambah daya tariknya. Set design-nya yang memakai kardus itu cukup berhasil dan tidak terkesan asal-asalan, sinematografinya pun berhasil menangkapnya dengan tata gambar dann warna yang menarik, ditambah dengan musik latar yang terasa pas. Dari permainan aktor tidak ada yang bisa dikatakan istimewa, mungkin yang paling menarik adalah Dahlia Poland yang bermain natural, yah selain si Mas Anca yang selalu bikin geleng-geleng. Namun rasanya mereka semua sudah terbantu dengan rancangan karakter yang kuat dari dalam naskahnya, jadi setiap tokoh yang muncul di film ini tetap terkesan menarik, bagaimanapun konyolnya. Oh ya, jangan lupa menyimak lagu tema "Cinta dalam Kardus" dari Endah N Rhesa yang ringan, quirky, dan jenaka tapi menyimpan kegundahan, pretty much describes the film =).

So, yeah, gw menikmati Cinta dalam Kardus yang adalah produksi layar lebar perdana KG (Kompas Gramedia) Studio ini. Jujur sih kalau dari ceritanya film ini nggak terlalu lingering ke gw setelah nonton, mungkin karena kurang relate, tetapi setidaknya konsep dan presentasi keseluruhannya bisa membuatnya tak mudah dilupakan begitu saja. Ini film yang digarap dengan baik, tahu apa yang mau disampaikan, tetap bisa fokus walaupun berisi potongan-potongan kisah berbeda, pacing-nya juga cukup enak dan pas dalam durasi 88 menit. Mungkin masih ada timing komedinya yang meleset, tetapi frekuensi tertawa gw terhadap humornya lumayan sering, jadi nggak ada masalah sebenarnya, oke kok. Dan sekalipun tokoh Miko di sini banyak "menggugat" tingkah laku muda-mudi yang bercinta dengan segala keanehannya, dari gombal-gombal lebay pas baru jadian sampe bertengkar atas persoalan kecil karena si cowok dianggap gagal untuk baca pikiran si cewek (ingat bahwa film ini dari sudut pandang cowok), Cinta dalam Kardus tetap menyimpan sweetness yang, well, mungkin bisa dianggap terlalu teoritis, tetapi tidak keliru juga. Sebuah sajian cukup unik dalam mendewasakan tokoh Miko yang sedang dalam masa transisi cinta-cintaan anak muda penuh ego menuju yang lebih hakiki. Nice.




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar