Selasa, 07 Mei 2013

[Movie] Kisah 3 Titik (2013)


Kisah 3 Titik
(2013 - Lola Amaria Production/Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI)

Directed by Bobby Prabowo
Written by Charmantha Adjie
Produced by Lola Amaria
Cast: Ririn Ekawati, Maryam Supraba, Lola Amaria, Rangga Djoned, Dimas Hary CSP, Ingrid Widjanarko, Gesata Stella, Donny Alamsyah, Miea Kusuma, Arswendi Nasution, Gary Iskak, Joshua Pandelaki, Haffez Ali, Richa Novisa, Ella Hamid, Ence Bagus, Gia Partawinata


Dengan tema yang diusungnya, Kisah 3 Titik memang sengaja diputar berdekatan dengan Hari Pekerja (1 Mei), yang juga biasa dikenal sebagai hari banyak-banyaknya serikat buruh berunjuk rasa di kota-kota. Tetapi kita tahu sendiri bahwa unjuk rasa buruh itu nggak cuma tiap 1 Mei. Setidaknya setahunan terakhir ini sebagaimana terangkat di media massa nasional, unjuk rasa serikat buruh ini kayak kegiatan dwibulanan, sering banget, bahkan ampe ada yang nutup jalan tol segala. Isu yang sering diangkat adalah soal kenaikan upah dan penghapusan sistem outsourcing. Lalu biasanya “dilawan” oleh kaum pengusaha bahwa kenaikan upah dan penghapusan outsourcing artinya kenaikan ongkos produksi, sehingga secara pasif-agresif “mengancam” akan gulung tikar, PHK besar-besaran, atau investor pindah ke negara lain sehingga akan terjadi pengangguran masal di negeri kita ini. Orang yang (terlampau) awam pasti hanya bisa bereaksi “ih apaan sih bikin macet aja deh”, yang sebenarnya sama saja kayak bilang “ya udah terima aja nasib lo” atau “cari aja kerjaan lain napa sih *sambil sruput Starbucks*”, padahal permasalahan sebenarnya lebih besar dari yang kasat mata.

Setidaknya itulah yang coba diangkat dalam film produksi Lola Amaria ini. Lola yang sebelumnya sukses memotret kehidupan buruh migran/TKW Indonesia di Hong Kong dalam Minggu Pagi di Victoria Park, kali ini memotret perihal yang lebih pelik tentang dunia kerja dan berada tepat di tanah air. Beberapa permasalahan tenaga kerja di Indonesia ini diwakili oleh tiga karakter perempuan yang bernama—atau dipanggil—Titik, dalam keadaan lingkungan kerja yang berbeda satu dengan yang lain, namun memiliki tantangan dan permasalahan yang sama-sama pelik. Lumayanlah untuk menjawab keingintahuan tentang duduk perkara di balik—contohnya saja—demo-demo itu.

Titik Sulastri (Ririn Ekawati yang bermain gemilang) adalah janda miskin satu anak yang baru saja ditinggal wafat oleh suaminya dalam keadaan hamil. Tak punya siapa-siapa lagi di ibukota, demi menghidupi keluarga dan mempersiapkan kelahiran, Titik pun kemudian bekerja di sebuah pabrik, dan terpaksa merahasiakan kehamilannya. Namun, kebijakan, peraturan, serta pergaulan di tempat kerja tak menguntungkannya, khususnya sebagai perempuan hamil. Apalagi statusnya hanya sebagai buruh kontrak yang tidak punya tunjangan-tunjangan dan hak-hak layaknya pegawai tetap, libur tanpa digaji pun nggak bisa lama-lama, boro-boro cuti melahirkan. Mulut ember sesama rekannya membuatnya harus menghadapi personalia dan dihadapkan pada pilihan...well, bukan pilihan sih. Kontrak Titik diputus di tengah jalan, dan hanya dapat kembali lagi seandainya masih ada lowongan. (Inilah yang membuat karyawan kontrak/outsource lebih banyak dipakai perusahaan-perusahaan manufaktur ketimbang menerima karyawan tetap: lebih murah dan replacable. Kalau kontraknya habis tinggal cari yang lain atau perpanjang yang sudah ada, bila perlu kontrak terus sampai bertahun-tahun.)

Kisah kedua datang dari Kartika (Maryam Supraba), gadis berperawakan tomboy yang bekerja di pabrik sepatu rumahan. Datang dari latar belakang yang keras dan gelap, Kartika berharap dapat membangun kehidupan baru lewat pekerjaannya yang halal ini. Namun situasi tempat kerjanya begitu mengusiknya ketika perusahaan mem-PHK sejumlah pegawai akibat masalah keuangan, lalu mandornya memberi tugas yang lowong kepada anak-anak SD yang dikoordinir preman. Gimana nggak geram, anak-anak yang sepatutnya sudah ada di jalur yang benar untuk masa depan lebih baik malah dimanfaatkan, bahkan “diracuni” oleh pihak-pihak yang hanya mau ambil untung.

Di sisi yang agak kontras, ada Titik Dewanti (Lola Amaria), pegawai kantor manajemen perusahaan manufaktur yang selama ini merasa telah bekerja keras namun minim apresiasi, akhirnya diangkat sebagai manajer SDM untuk pabrik inner beauty alias pakaian dalam (tempat kerja Titik Sulastri) yang baru diakusisi perusahaan. Lewat jabatan barunya, Titik berusaha membuat penyesuaian regulasi ketenagakerjaan, mulai dari sistem kenaikan upah hingga jaminan sosial, sesuai peraturan pemerintahlah (ciee, titipan nih ye), pun dengan dukungan penelitian di lapangan. Namun apa yang didapat justru penolakan mentah-mentah, bahkan cenderung menindas, baik dari bawahannya maupun manajemen di atasnya, dan justru Titik-lah yang ujung-ujungnya diantagonisir. Ini orang-orang maunya apa sih! *ikutan emosi*

Yup, menyaksikan Kisah 3 Titik ini cukup bikin emosi saking nyatanya keadaan dan permasalahan yang digambarkannya. Pada titik ini—no pun intended—gw harus memuji kejelian dan ketelitian para pembuat film ini terhadap isu yang diusungnya. Permasalahan ketenagakerjaan dalam negeri, dari yang kecil sampai yang besar, dari buruh rendahan hingga manajemen di kantoran, disampaikan dengan komprehensif, lugas, dan nggak mengada-ada, mewakili banget deh (demikian kata seorang teman yang pernah kerja di pabrik). Pengetahuan-pengetahuan tentang buruh kontrak/outsourcing, hierarki kerja, "permainan" kotor, politik kantor, hingga apa pentingnya cuti melahirkan bagi perempuan, disampaikan dengan baik tanpa menggurui. Argumen kesejahteraan versi buruh vs versi pengusaha pun disematkan dengan cukup mudah dipahami, serta menguatkan kelebihan film ini yang melihat dari berbagai, err, titik pandang, tidak hanya pembelaan tak berimbang. Sebagai film yang dapat menambah wawasan, Kisah 3 Titik perlu diberi jempol.

Namun, sebuah film cerita yang baik tak cukup berhenti di menambah wawasan, tentu harus diimbangi dengan unsur naratif yang dapat membawa penonton terlibat di dalamnya. Untungnya, penceritaan film ini cukup memuluskan jalan bagi penonton untuk ikut mengalami apa yang dialami para tokohnya, semua ditampilkan tanpa dramatisasi yang terlampau nghayal. Mungkin yang jadi masalah, sesungguhnya arah penceritaan ketiga kisah ini tidak terlalu konkrit, kalau tidak mau dibilang nggak utuh. Ketiga cerita tampak seperti cuma perkenalan karakter dan lingkungannya, baru mengarah pada permasalahan utama di bagian akhir banget, lalu selesai. Hal ini paling kelihatan dari kisah Kartika yang konflik utamanya agak ketutup sama office romance dengan Anto (Donny Alamsyah), jadi peralihannya agak tiba-tiba. (Terlalu) Banyaknya karakter yang ditampilkan berpengaruh juga kali ya, jadi agak overload gitu, dan gw nggak tahu fungsi penting mereka selain tak lebih dari penegas deskripsi ruang dan sosial saja. Tetapi mungkin inilah visi kreatif film ini. Film ini hanya bercerita, hanya berkisah, serta, dengan akhiran yang ditampilkan, seperti bertanya kepada penonton "now that you know, how do we solve it?". Hanya ada bagian "diketahui" dan "ditanyakan", sedangkan jawabannya harus cari sendiri *berasa ujian IPA*. Jurus yang jitu, membuat film ini bukan cuma sebagai penambah pengetahuan, tetapi juga memancing diskusi, apalagi bagi yang memang berada dalam dunia kerja atau bidang-bidang yang ditunjukkan film ini. Ngerasa banget deh.

Setidaknya misi film ini untuk jadi "filmnya para pekerja" terbilang berhasil. Gw meskipun gak punya pengalaman di sektor manufaktur, tetap bisa mengerti kegelisahan dan motivasi tiap-tiap orang yang ada di sini, termasuk yang tukang jilat dan tukang tikung itu—walau masih heran aja kenapa ada orang-orang "sampe segitunya" pengen survive/naik kariernya, idih. Anyway, secara filmis pun film perdana sutradara Bobby Prabowo ini jauh dari kata jelek. Kemasan penceritaan dan audio visualnya mungkin sekilas tidak istimewa, tetapi masih efektif, terutama dalam hal menunjukkan sudut-sudut kontras kota Jakarta yang menegaskan gambaran realitas yang ada (sekalipun film ini fiksi). Gw juga senang dengan penggambaran tokohnya yang tidak all saints *pasang "Never Ever"* yang bisa dijadikan simbol tentang sulitnya jadi orang "bener" di dunia kerja. Plus gambaran bahwa di mana pun Anda berada, tukang gunjing itu pasti ada. Human nature yang satu itu...




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar