Senin, 15 April 2013

[Movie] Finding Srimulat (2013)


Finding Srimulat
(2013 - MagMA Entertainment)

Written & Directed by Charles Gozali
Produced by Hendrick Gozali, Yusuf Hamdani
Cast: Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Kadir Mubarak, Kabul "Tessy" Basuki, Mamiek Prakoso, Gogon Margono, Djujuk Djuwariah, Nadila Ernesta, Butet Kartaredjasa, Fauzi Baadila, Ray Sahetapy, Nungky Kusumastuti, Adi Kurdi, Tri Retno "Nunung" Prayudati, Mongol, Insan Nur Akbar


Bagi *uhuk* adik-adik yang mungkin kurang familiar, Srimulat itu adalah grup pertunjukkan komedi a.k.a. lawak yang bermula di Solo, Jawa Tengah sekitar tahun 1950-an, yang kemudian berjaya di jagat hiburan Nusantara lewat penampilan di televisi nasional dan (kalo nggak salah) beberapa film layar lebar. Anggotanya terbilang sangat banyak dan bergenerasi-generasi bahkan bercabang (ada cabang Solo, Jakarta dsb.), dengan karakteristik dan penggemar masing-masing, sampai kadang ada yang bikin sub-grup atau solo karier atau mungkin keluar dari kelompok Srimulat membentuk grup baru. Yah macem versi sepuh dari AKB48. Nothing is original under the sun. Gw sendiri sempet "akrab" dengan Srimulat lewat acara TV "Aneka Ria Srimulat" yang ditayangkan Indosiar pada era 1990-an, yah gara-gara ortu juga sih yang rajin nonton, hehe. 

Tetapi lewat itu gw jadi bisa menangkap sedikit demi sedikit karakteristik pertunjukan Srimulat dan juga pemainnya. Meski dengan set-up bermacam-macam, setting panggung tak pernah jauh dari ruang tamu sebuah rumah, ada pembantu dan majikan (dan ibu Djujuk selalu jadi majikan, kebalikan dengan Nunung =D), lalu kalau ada twist horor di akhir yang jadi demit selalu yang namanya Yongki atau Paul (keduanya sekarang sudah wafat). Penonton kerap melempari bingkisan ke panggung, umumnya rokok, yang pasti akan ditanggapi spontan oleh para pelakon, misalnya "sekali-sekali lempar duit dong"—and sometimes they really got thrown some money. Pakemnya memang seragam, toh yang jadi hiburan utama adalah lawakan-lawakan dari para pelakon yang umumnya berupa spontanitas yang hidup. Gags yang sederhana, akrab, membumi, slapstick tapi tak lepas dari kesan cerdas menjadi ciri khas Srimulat yang tidak pernah dirasa membosankan. Mungkin justru anggota Srimulatnya yang letih dengan itu semua, sehingga kerap terjadi naik-turun performa dan eksistensi. 

Sutradara dan penulis Charles Gozali mencoba mengangkat sejarah dan kondisi grup Srimulat itu dalam kisah film Finding Srimulat. Sesosok event organizer muda bernama Adi (diperankan oleh everybody's favorite actor Reza Rahadian) harus menghadapi beban bertubi ketika kantornya tutup dan otomatis tak punya biaya untuk kelahiran anak sulungnya dari sang istri, Astrid (Rianti Cartwright) yang di-insist oleh dokternya untuk operasi Caesar (tentu saja). Perhatikan korelasi operasi Caesar dan biaya =p. Namun, justru di kondisi seperti ini, Adi melihat peluang dalam pahlawan masa kecilnya, Srimulat, sekalipun grup ini sudah menua. Ia menggagas sebuah pertunjukan comeback Srimulat sebagai sebuah grup instead of terpisah-pisah seperti saat ini. Lalu dimulailah usaha untuk mengumpulkan anggota-anggota Srimulat yang tersebar, mulai dari Kadir, Tessy, Mamiek Prakoso, hingga Gogon, yang mewakili anggota-anggota Srimulat yang "sepi job" di dunia hiburan, dan terakhir sang pemimpin, ibu Djujuk. Masalahnya tentu saja mengenai pembiayaan, serta apakah benar-benar revival panggung Srimulat yang tradisional ini akan ada yang nonton di era busway. Ditambah lagi Adi melakukan ini tanpa sepengetahuan istrinya yang sebentar lagi melahirkan, termasuk dalam penggunaan dana pribadi.

Ada kesan kuat bahwa film ini adalah passion project dari Charles Gozali. Ini terlihat dari isi ceritanya yang memuat pengetahuan tentang Srimulat dengan cukup teliti dan lengkap, pun memasukkan beberapa unsur kisah nyata pengalaman dan keadaan para anggota Srimulat, sehingga bukan tak mungkin sosok Adi juga adalah cerminan Charles yang antusias ingin menghidupkan Srimulat lagi. Untungnya, passion itu tersalurkan dengan baik lewat konsep dan naskah yang menurut gw ditata cerdas. Tone absurd film ini memang sudah ditekankan lewat pembukaan ketika Adi ngomong langsung ke kamera dan juga cerita proses kelahiran dirinya yang lain dari yang lain. Akan tetapi film ini tak terus berkutat di sana, karena nyatanya keseluruhan plot dan peristiwa-peristiwa yang dirangkum dalam ceritanya tidaklah asal masuk, justru sangat rapi dan logis. Salah satu contohnya ketika film ini mengakali sulitnya mengumpulkan sebanyak mungkin anggota Srimulat terutama yang lagi padat jadwal untuk ikut main, poin ini dengan mulus dimasukkan ke dalam cerita yang diwakili oleh tokoh Nunung. Gags klasik khas Srimulat pun ditaruh tidak salah tempat dan tetap mampu memancing tawa sekalipun sudah familiar bagi penggemarnya (like my Mum correctly guessed the cigarette gag =D). Adegan flash mob di Stasiun Balapan, Solo juga termasuk cara jitu menginklusi sentuhan kekinian dengan Srimulat, dan bermanfaat juga bagi jalan cerita. Kayak konyol, tapi tidak tak mungkin.

Jalan ceritanya gw kasih jempol deh, tapi soal presentasi keseluruhan itu beda cerita ya, hehe. Eksekusi Finding Srimulat memang kebanyakan absurd dan komedi Indonesia banget yang memang agak alon-alon temponya. Bagi generasi yang lebih muda mungkin akan merasa film komedi ini kurang "meledak" tawanya, ya karena leluconnya memang termasuk klasik nyaris out-of-fashion kalau nggak mau disebut segmented  atau angkatan-babe-guwe (dan lagi yang bahasa Jawa nggak pake subtitel, hehe), tapi gw yakin pasti masih ada yang bikin ketawa bagi angkatan ini. Problem utama gw sebenarnya di tata adegannya yang tidak terlampau istimewa, malah cenderung kaku. Beberapa adegan masih kelihatan banget "syutingnya nggak barengan" sehingga kesannya kurang tek-tok atau editing-nya kurang mantep gitu (cth: adegan si Mongol di bengkel atau Dion di panggung). Akan tetapi, atas nama absurditas, itu tak selamanya menganggu. Toh, nilai hiburan film ini jauh melebihi nilai-nilai teknisnya itu.

Penampilan Reza sebagai tulang punggung cerita tidak tercela, demikian juga Rianti (yang makin ke sini malah makin bagus mainnya) jika mengabaikan palsunya perut dan gerak-gerik hamilnya =P. Sedikitnya, mereka mampu mengimbangi kharisma senior mereka anggota Srimulat yang seperti biasa dapat diandalkan untuk tampil dengan sungguh-sungguh, dalam adegan dramatis sekalipun. Tessy mungkin yang paling lemah di antara kawan-kawannya (terutama Mamiek dan Gogon) tetapi usahanya dalam peran dramatis tetap patut diapresiasi. And to my surprise, ibu Djujuk ternyata menjadi pelakon Srimulat yang menurut gw paling meyakinkan di film ini, sebab untuk pertama kalinya gw melihat dimensi ketokohan ibu Djujuk selain citra pipih "nyonya majikan"-nya selama ini.

Film ini memang komedi-drama (dan semi-dokumenter?) yang berniat menghibur sekaligus membangkitkan nostalgia. Kelihatan betul bahwa film ini dibuat oleh orang-orang yang peduli dan menyayangi Srimulat, bukan justru mempermalukannya dan memperlakukannya asal-asalan sebagai alat jualan semata (eh, ini ada di ceritanya juga =)). Salut atas bagaimana film ini menggabungkan modernitas dan tradisi, tua dan muda, komedi dan drama, kecerdasan dan keabsurdan menjadi sebuah tontonan yang enak dan nggak terlalu maksa. Well, beberapa adegan emosionalnya mungkin agak dipaksa, tetapi porsinya tidak sampai "mencemari" hakikat film ini yang harusnya menggelakkan penonton dengan tulus sekaligus menyentuh hati. Finding Srimulat adalah sebuah tontonan yang tepat sebagaimana janjinya, sederhana namun cerdik dan berselera humor yang pas. Mungkin tidak sempurna, namun tidak bisa dipungkiri ia tak bisa dipandang sebelah mata. Mungkin juga film ini akan lebih meriah seandainya lebih banyak lagi anggota Srimulat yang bergabung, misalnya Tarsan atau Eko DJ, atau porsi Nunung yang diperbanyak. Tetapi dengan anggota Srimulat yang tidak terlalu banyak pun Charles Gozali berhasil menyajikan sebuah tribute yang penuh hormat, kekaguman, harapan, dan kasih sayang, serta penegasan bahwa sesungguhnya Srimulat tidak pernah kehilangan pecintanya.




My score: 7/10


NB: anggota Srimulat terfavorit gw adalah alm. Triman, yang jago tap dance, dan gag andalannya adalah mengucapkan nama aliasnya dengan mulut terbuka lebar, "Bambaaaang...." XD

4 komentar:

  1. Jadi pengen nonton, secara aku wong Solo #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. nonton dong.
      sama istri-istrinya ya *eh *bukan Wong Solo yg itu ya? =D

      Hapus
  2. Bammbhaaaangggg....... wkwkwkwkwkwkw.... nostalgic banget dah ni pelem.... nice reviewww!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, legend ya. bless his soul.
      terima kasih sudah mampir dan berkomentar ^_^

      Hapus