Jumat, 29 Maret 2013

[Movie] Argo (2012)


Argo
(2012 - Warner Bros.)

Directed by Ben Affleck
Screenplay by Chris Terrio
Based upon selections of the book "The Master of Disguise" by Antonio J. Mendez
and the article "Escape from Tehran" by Joshuah Bearman
Produced by Grant Heslov, George Clooney, Ben Affleck
Cast: Ben Affleck, John Goodman, Alan Arkin, Bryan Cranston, Victor Garber, Tate Donovan, Clea DuVall, Scoot McNairy, Rory Cochrane, Christopher Denham, Kerry Bishé, Kyle Chandler, Chris Messina, Željko Ivanek


Ketika uang dan so-called spekulasi bisnis berbicara, munculnya materi-materi promosi film Argo di bioskop kita di paruh kedua tahun lalu rupanya hanya janji janji tinggal janji. Argo, karya penyutradaraan ketiga dari the-better-looking-buddy-of-Matt-Damon, aktor Ben Affleck, rencananya udah mau tayang sekitar bulan Oktober 2012 lalu di negeri kita. Tetapi rupanya "seseorang" yang berwenang dalam pengedarannya menanggapnya nggak bakal laku, jadinya sekitar beberapa minggu sebelum hari-H penayangannya resmi dibatalin aja gitu. Enam bulan, 3 Piala Oscar, puluhan penghargaan lain, tumpukan keping DVD bajakan, dan jutaan kali download-an ilegal kemudian, film ini akhirnya "dipaksa" tayang di bioskop kita. Better late than never. Tapi doa si "spekulan" ternyata jadi kenyataan, filmnya nggak seberapa laku meski udah di-push citranya sebagai Best Picture di Oscar tempo hari. Yaeeeyalah, Oscar-nya kapan hare gene baru tayang!! Lalu sebenarnya apa istimewanya Argo sehingga bisa menang segudang penghargaan di award season baru lalu? 

Argo mengangkat sebuah kisah nyata tentang penyusupan enam orang WN Amerika Serikat keluar (exfil) dari Iran pada masa revolusi di negara Islam Syi'ah tersebut tahun 1979-1980. Enam orang ini berhasil lolos dari penyanderaan kedutaan besar AS di Teheran yang dilakukan oleh gerakan revolusi Iran yang menuntut esktradisi mantan pemimpin mereka supaya diadili, Shah Reza Pahlavi yang kala itu adalah "konco"-nya AS dan mendapat suaka di sana. Karena tak mungkin keluar dari negeri itu tanpa tertangkap pihak tentara revolusi, keenam orang ini bersembunyi di kediaman duta besar Kanada selama berbulan-bulan. Yang bikin "lucu" adalah penyamaran yang digunakan untuk mengeluarkan keenam orang berkode "tetamu" ini (suka-suka gw dong nerjemahin "houseguests" gimana =p), yaitu menjadikan mereka kru film fiksi ilmiah produksi Kanada yang sedang riset lokasi "eksotis" di Iran, dengan harapan bisa lolos pemeriksaan di bandara. Proses penyelamatan inilah yang diangkat dalam film ini.

Agen CIA spesialis exfil, Tony Mendez (Ben Affleck) mendapat mandat untuk membawa keluar keenam warga AS itu (yang belum diketahui keberadaannya oleh pihak penyandera). Mengetahui ketat dan jelinya pihak Iran mengenai mata-mata dan warga AS, sekalipun belum zaman internet, Tony harus membuat set-up semeyakinkan mungkin agar tidak dicurigai, termasuk mencari naskah, membuat rumah produksi, dan mempromosikan sebuah film fiksi ilmiah pengekor Star Wars yang berjudul "Argo" seakan-akan ini proyek  film betulan...padahal tentu saja tidak akan diproduksi. Bekerja sama dengan seniman rias ternama John Chambers (John Goodman) dan produser gaek Lester Siegel (Alan Arkin), mereka sukses membohongi publik Hollywood dan dunia tentang produksi film bohong-bohongan itu. Sisanya tinggal eksekusi. Resiko tetap besar, karena pihak revolusi Iran cepat atau lambat akan mengetahui mereka kekurangan 6 orang sandera dan akan mencarinya. Keenam "tetamu" itu juga hanya warga biasa yang tidak berpengalaman dalam penyamaran, dan Tony hanya bekerja sendirian.

Ben Affleck tampaknya memang lebih mumpuni sebagai orang di belakang layar ketimbang aktor. Sudah dua piala Oscar yang ia peroleh, tetapi masing-masing untuk penulis naskah (Good Will Hunting (1997)) dan produser untuk Argo ini. Sebagai sutradara, mas Ben sebelumnya mengarahkan Gone Baby Gone (2007) dan The Town (2010) yang masing-masing juga tersentuh nominasi Oscar (Best Supporting Actress dan Actor). Gw baru nonton The Town, dan itu film thriller yang bagus. Kini lewat Argo, mas Ben mencoba main di skala yang lebih besar, dengan setting internasional, masa lampau, dan latar belakang sejarah yang cukup kontroversial, berdasarkan kisah nyata pula. Hasilnya, Argo adalah film yang berhasil tampak sebagaimana seharusnya. Mas Ben berhasil mengumpulkan tim yang keren dalam membentuk film ini, mulai dari desain produksi (semua setting Iran kebanyakan syuting di Turki, gak mungkin lah di Iran, duh), tata kostum dan rias yang sukses ber-vintage ria, sinematografi, tata suara, musik, editing, serta tentu saja penulis naskah dan aktor-aktor ciamik yang sangat tepat menghidupkan kisah ini. Bagaimana setiap detil terkecil pun bisa difungsikan besar dalam plotnya (misalnya minuman beralkohol) adalah salah satu nilai unggul film ini. Demikian pula bagaimana setiap aktor yang banyak itu tampil prima, termasuk keenam "tetamu" yang somehow mudah dikenali, menjadi nilai unggul lainnya. Bahkan akting mas Ben sendiri cukup sesuai, apalagi setelah liat Tony Mendez aslinya yang emang datar dan agak kayak gak punya semangat hidup gitu. Semua tertata sangat rapi sampai-sampai hampir nggak nyangka film ini dikomandoi seseorang yang pernah jadi DareDevil dan tokoh pemanis di Armageddon.

Saat menonton pertama kali di unduhan bajakan, Argo menjadi sebuah film drama spionase yang membumi, masuk akal, dan sangat menegangkan, terutama di bagian klimaksnya yang bikin jantungan. Menonton kali kedua, mungkin ketegangan itu tidak sebrengsek ketika pertama kali, tetapi ada banyak yang bisa diulik yang tadinya gw nggak perhatikan. Gw nggak merasa Argo ini hanya mengagung-agungkan Amerika belaka, tetapi sebenarnya cukup seimbang dalam menampilkan isunya. Buktinya di bagian prolog (yang sangat menarik karena ditampilkan seperti storyboard film dan potongan gambar media) dijelaskan bahwa krisis penyanderaan ini salahnya Amerika juga, film ini tidak sepenuhnya mengantagonisir rakyat Iran kala itu. Pun bagaimana film ini mengatur tone di setiap bagian, dari proses pendudukan dan penyanderaan kedutaan yang seperti dokumenter, lalu proses "pembuatan" film yang lebih cerah bahkan jenaka akibat banyak sindiran tentang Hollywood, kemudian ketika misi dijalankan yang lebih tense, terlihat pas dan peralihannya rapi. Yah, mungkin kurang dieskposnya peran Kanada dalam kesuksesan misi ini akan menjengkelkan orang-orang Kanada, but I think Canadians aren't going to be that mad, right? *stereotipe*. Anyway, dramatisasi fakta yang dilakukan film ini, meskipun jatuhnya jadi film banget, juga rasanya tidak terlalu berlebihan. Semisal bagian klimaks memang kelihatan banget banyak "polesan"-nya, tetapi untuk menggambarkan dag-dig-dug-duerr para pelaku aslinya, it works great.

Sedangkan kenapa pada pemutaran di bioskop tanah air yang nggak terlalu laku? Well, selain karena TELAT BANGETT, mungkin karena film ini memang lebih banyak ngobrol daripada aksi, toh ini memang bukan film action. Tetapi yang tak keberatan dengan film thriller dan spionase yang nggak terlalu over-the-top, Argo adalah tontonan yang tepat, juga menghibur. Rasanya juga gw nantinya bakal menyaksikannya berulang-ulang di DVD, sebab nilai entertainment film ini cukup tinggi, isi yang ditampilkan juga tidak seberat yang dibayangkan. Harus diakui buat gw Argo bukanlah film yang TER-baik setahun belakangan ini, dan gw yakin mas Ben bakal sanggup bikin film yang lebih keren lagi, tetapi Argo layak diingat sebagai film yang unggul dalam berbagai lini yang disatukan dengan solid, dan yang penting, menghibur.




My score: 8/10

2 komentar:

  1. Ah Mas Ben cakep banget jenggotan begitu ^^
    Mungkin nanti si Mas bisa jadi caLon penerus Opa Eastwood?

    BalasHapus
    Balasan
    1. di-Amin-kan saja. semoga bukan "fluke" kayak Kevin Costner #eh

      Hapus