Senin, 12 Maret 2012

[Movie] Negeri 5 Menara (2012)


Negeri 5 Menara
(2012 - KG Production)

Directed by Affandi Abdul Rachman
Story by Salman Aristo
Screenplay by Salman Aristo, Rino Sarjono
Based on the novel by A. Fuadi
Produced by Salman Aristo, Auora Lovenson Chandra, Dinna Jasanti
Cast: Gazza Zubizzaretha, Billy Sandy, Ernest Samudera, Rizki Ramdani, Jiofani Lubis, Aris Adnanda Putra, Ikang Fawzi, Donny Alamsyah, Andhika Pratama, Sakurta Ginting, David Chalik, Lulu Tobing, Eriska Rein, Mario Irwinsyah, Rangga Djoned


Bila menyangka bahwa Negeri 5 Menara sebagai satu lagi film Indonesia yang menampilkan kisah penuh inspirasi serta pesan moral dengan pemeran di bawah umur sebagai protagonisnya layaknya yang telah dilakukan dalam Laskar Pelangi, well, memang bener, it is exactly that very same formula. Lucunya, kedua karya ini sama-sama diangkat dari novel yang agak semi...maksudnya semi-otobiorafi (ee, yg ketawa berarti perlu disapu tuh pikirannya) dari pengarangnya sendiri, pun sama-sama mengandung pesan motivasi meraih mimpi setinggi apapun itu. Berdasarkan info-info yang beredar (remember, gw nggak hobi baca buku), novel Negeri 5 Menara ditulis berdasarkan pengalaman pengarang A. (Ahmad) Fuadi, yang juga pernah menjadi wartawan di Voice of America, selama tinggal dan menuntut ilmu di sebuah pesantren ternama di Jawa Timur bernama Gontor pada akhir 1980-an, lalu dituangkannya dalam moda fiksi dengan nama-nama orang dan tempat yang di-altered.

Selepas lulus madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), dengan keterpaksaan Alif (Gazza Zubizzaretha) berangkat juga dari kampungnya di danau Maninjau, Sumatera Barat ke Ponorogo, Jawa Timur untuk mendaftarkan diri ke sebuah pesantren (untuk putra), atau istilahnya "pondok modern" bernama sebut saja Madani. Setelah diterima, dimulailah kehidupan Alif di rumah barunya, menjalani hari demi hari tinggal, belajar dan melakukan kegiatan lainnya, terutama bersama-sama teman sekamar asramanya: Baso (Billy Sandy) yang berasal dari Sulawesi Selatan (which of course explain the cameo of minyak tawon =D), Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Atang (Rizki Ramdani) dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, dan Dulmajid (Aris Adnanda Putra) dari Madura. Dari kegiatan pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler—Alif ikut di majalah internal pesantren, hingga cinta monyet, semua dialami Alif di tahun pertamanya. Akan tetapi terlepas dari segala suka duka yang dialami dan keeratan hubungan dengan "keluarga" barunya, keengganan Alif dalam menjalani pendidikan di pondok Madani yang "hanya" karena keinginan orang tuanya (David Chalik dan Lulu Tobing) masih bersarang. Keinginan itu semakin kuat ketika Alif cs diundang Atang ke rumah orang tuanya di Bandung, di sana Alif bertemu lagi dengan sahabat SMPnya (Sakurta Ginting) yang sedang menjalani apa yang diimpikan mereka berdua: SMA di Bandung lalu kuliah di ITB, seperti Habibie. Kebimbangan Alif inilah yang menjadi titik penentu arah plot film Negeri 5 Menara ini.

Meski gw sebut "plot", gw sebenarnya nggak melihat benar-benar muncul jalan cerita yang menyatukan peristiwa demi peristiwa. Film ini lebih ke penceritaan potongan-potongan kehidupan yang dijalani Alif di pesantren bersama 5 sahabatnya yang menamakan diri "geng" Sahibul Menara, yang punya perjanjian kelak akan pergi ke tempat impian masing-masing di seluruh dunia dan akan berkumpul lagi dengan membawa foto menara-menara ternama di negara-negara itu. Pun dengan cara penulisan dan penggarapan film ini, kita akan lebih banyak diperkenalkan pada karakter-karakter remaja penghuni pesantren serta perkenalan tentang kehidupan pesantren, ketimbang membuat penasaran dengan peristiwa atau konflik besar apa yang akan terjadi nanti, karena memang tidak ada yang benar-benar dinanti selain apakah Alif akan tetap di Madani atau akan pindah ke Bandung, serta berhasilkah keenam sahabat ini mewujudkan mimpi ngumpulin foto mereka di menara-menara di berbagai negara—ini pun porsinya kecil dari keseluruhan film. Akan tetapi, bukan berarti tidak menarik, justru kekuatan Negeri 5 Menara garapan Affandi Abdul Rachman ini terletak pada betapa asyik dan enjoyable-nya mengintip kehidupan Alif, meskipun tanpa konflik yang benar-benar utama. Pun film ini bertabur kelucuan-kelucuan yang menghibur, kepolosan-kepolosan yang bernada nostalgia meski bukan dari memori gw sendiri, serta manisnya persahabatan 6 sekawan Sahibul Menara ini. Naik-turun mood film ini ditata dengan baik sehingga walaupun tanpa konflik besar, film ini nggak datar-datar amat, malah terkesan bersahaja dan menyenangkan.

Karena tanpa plot besar pula, Negeri 5 Menara harus memperhatikan betul cara presentasi tokoh-tokohnya, karena di itulah kunci yang akan membuat penonton betah menyaksikan layar. Penokohannya terbilang baik, cukup distinctive dan konsisten satu dengan yang lain, termasuk dari bawaan suku dan bahasa sampai pada sifat masing-masing, ditampilkan dalam porsi yang mencukupi. Sutradara Affandi Abdul Rachman pun menjalankan tugas lumayan beratnya dengan cukup baik, yaitu mengarahkan 6 sekawan kita yang dimainkan oleh aktor-aktor remaja yang baru pertama kali main film, terutama sekali Gazza Zubizzaretha yang posisinya utama. Masih agak kaku sih, tapi yang penting presence mereka perlahan sanggup merenggut perhatian dan kepedulian penonton. Para pemeran dewasanya membawakan perannya dengan bijak dan pas, termasuk Donny Alamsyah dan Andhika Pratama yang cukup berkesan, serta Ikang Fawzi sebagai kyai kepala pondok yang bermain bagus sehingga gw serta-merta lupa akan asosiasi namanya dengan On Clinic. Oh, keseriusan tampilan visual ini juga perlu diacungi jempol dan senyum tulus lho. Oke, pesantrennya emang langsung di lokasi pesantren Gontor, Ponorogo yang namanya "cuman" tinggal diganti jadi Madani, namun tugas penata artistik yang cukup sulit adalah menampilkan seting 1989-1990-an setepat mungkin, dan itu sukses banget. Mulai dari penggunaan film buat kamera foto, lem Glukol, benda-benda pos, kaleng Susu Bendera logo jadul buat nyimpen rendang (oh sponsor ternyata =D), sampai hanya menampilkan mobil-mobil tua dalam gambar-gambar long-shot, quite meticulous indeed. Ditangkap juga oleh sinematografi yang jernih, editing enak, dan diiringi musik asik, begitu mudahnya memuji Negeri 5 Menara sebagai film yang dibuat dengan niat dan semangat yang positif.

Salah satu aspek yang gw suka dalam sebuah film adalah jika film bersangkutan memberi pengetahuan yang sebelumnya nggak gw punya, dan Negeri 5 Menara ini memberikannya, terutama soal pesantren, seperti kegiatan atau tidurnya para santri bagaimana. Boarding school ini, di luar citra dan prasangka khalayak bahwasanya hanya mengajarkan ajaran Islam, atau bahkan—seperti dalam percakapan orang tua Alif di awal film—semacam "pembuangan" anak-anak badung, kehidupan yang dijalani Alif dkk itu berbeda sama sekali dari bayangan itu. Well, pelajaran agama Islam, bahasa Arab, pencak silat, disiplin ibadah yang ketat pasti ada, tetapi mereka juga diajari ilmu eksakta, bahasa Inggris yang sesekali dipakai dalam percakapan dan media tulisan bahkan ada lomba speech-nya, juga ada  kegiatan ektrakurikuler yang mungkin banyak dari kita berpikir "emang boleh ya itu di pesantren?" seperti nge-band dan majalah internal yang terorganisir baik, para ustadz pun lebih sering terlihat memakai kemeja dan dasi. Jika benar otentik seperti di gambaran film ini, pendidikan yang dijalani pondok "Madani" ini mungkin malah lebih maju daripada sekolah negeri sekalipun pada zamannya. Mungkin ini agak promosi pondok pesantren Gontor sih, hehe, toh kayaknya juga nggak semua pesantren seperti di film ini, tetapi setidaknya ini memberikan gambaran bahwa pesantren pada dasarnya adalah lembaga pendidikan sebagaimana lembaga pendidikan formal lainnya di mana pun itu, hanya saja dengan cara berasrama dan berbasis Islam. Pada akhirnya juga ini menunjukkan bahwa lulusan pesantren nggak berarti bakal stuck di situ-situ aja, mimpi mereka apapun itu pasti akan terwujud kalau bersungguh-sungguh, sebagaimana semboyan yang didengungkan oleh Ustadz Salman (Donny Alamsyah), "man jadda wa jada".

Negeri 5 Menara tidak hadir sebagai sekedar Laskar Pelangi versi pesantren semata, tetapi menjadi satu lagi film yang digarap dengan baik, menghangatkan, a feel-good movie. Masih ada kesan kuat "film pendidikan", tapi menyenangkan. Pesan moralnya kadang terlalu frontal, tapi nggak menjengkelkan. Berlatar Islami tetapi bukan berarti film ini nggak bisa dinikmati oleh kalangan penonton seluas mungkin, toh ini lebih ke soal kehidupan dan persahabatan daripada soal agama, juga bukan hanya ber-gimmick religius layaknya sinetron bulan puasa yang nggak beda sama sinetron biasa cuman ditambahin kostum Islami, adegan doa, dan selipan bahasa Arab di dialognya. Nggak nyangka juga sih bahwa formula yang sudah pernah dipakai film lain bisa dibuat lagi dengan kualitas dan kenikmatan yang tidak kalah oke. Dengan setitik dua titik kelemahan (kadang dialognya agak berat mengawang-awang, dan adegan penutupnya juga kayak iklan provider telepon selular edisi Lebaran), namun dengan kelengkapan produksi yang sangat serius, Negeri 5 Menara dengan mudah melenggang jadi salah satu Indonesia's better films. Kalo katanya film ini laris ditonton masyarakat, memanglah pantas demikian =).



My score: 7,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar