Selasa, 01 November 2011

[Movie] Real Steel (2011)


Real Steel
(2011 - Touchstone/DreamWorks)

Directed by Shawn Levy
Story by Dan Gilroy, Jeremy Leven
Screenplay by John Gatins
Based in part upon the short story "Steel" by Richard Matheson
Produced by Don Murphy, Susan Montford, Robert Zemeckis, Shawn Levy
Cast: Hugh Jackman, Dakota Goyo, Evangeline Lilly, Anthony Mackie, Kevin Durand, Hope Davis, Karl Yune, Olga Fonda


Berseting kira-kira sepuluh tahun mendatang, masyarakat lebih tertarik menyaksikan pertandingan tinju yang dilakoni oleh robot ketimbang manusia betulan. Charlie Kenton (Hugh Jackman) adalah mantan petinju profesional yang kini juga berurusan dengan robot petarung bersama cem-cemannya, Bailey (Evangeline Lilly *blush*) yang adalah putri dari almarhum pelatihnya dulu. Hidup dari satu pasar malam ke yang lain di kawasan Texas, belum lagi hutang yang menumpuk, suatu hari Charlie dikejutkan oleh berita meninggalnya sang mantan kekasih yang telah memberinya anak 11 tahun bernama Max (Dakota Goyo). Charlie menyerahkan hak asuh pada tantenya Max, Debra dan suaminya yang tajir (dengan imbalan, di bawah tangan tentu saja ^_^;), namun selama musim panas si oom dan tante Debra liburan ke Eropa, Max dititipkan pada Charlie. Meski awalnya sering berselisih paham, Max kemudian terpikat pada dunia tinju robot yang digeluti Charlie, bahkan anak otaku ini diajak Charlie dalam pertarungan underground demi dapet duit buat bayar utang. Kegagalan pada pertarungan menggunakan robot yang dibeli dari hasil "menjual" Max ini membawa mereka ke tempat rongsokan untuk cari sukucadang, dan di sanalah Max menemukan sebuah robot utuh dan lusuh—dirancang sebagai robot latihan yang bisa meniru gerakan dan anti-peyot—namun masih berfungsi dengan baik. Dengan sedikit perbaikan di sana sini, bersama robot yang dinama Atom ini, dimulailah perjalanan Max dan Charlie dalam kancah pertarungan robot, mulai dari yang underground, sampai pada tingkat liga nasional, bahkan hingga menantang petarung terkuat, Zeus, dan di saat yang sama lambat laun mempererat hubungan ayah-anak telat ketemu ini.

Real Steel (gw suka kepeleset nulisya reel steal =P) adalah sebuah film yang, hmmm, umum sekali, baik dari segi cerita maupun penceritaan—misalnya sudah pasti Charlie dan Max bakal akur di akhirnya, masak enggak sih =P. Lumrah kalau mudah disukai, karena berkonsep zero to hero beriringan dengan kisah ayah-anak. Sejak Rocky, Karate Kid, Bloodsport dan, err, "Glee", everyone likes underdog stories, I guess. Walaupun jualannya adalah pertarungan antar robot di atas ring (yang sama artinya dengan pertunjukan CGI), menurut gw film ini sejak awal telah menetapkan jalur pendekatan yang baik, yaitu soal manusianya. Jadi ya, kita akan disuguhi pertarungan "brutal" dan seru antar robot sekaligus menyaksikan kecanggihan teknologi efek visual, namun kita juga dibuat untuk memahami dan peduli pada manusia-manusia dibaliknya, terkhusus pada tokoh protagonis kita. Untungnya para pemeran menjalankan tugasnya masing-masing dengan cukup baik. Hugh Jackman tidak memalukan, dan Dakota Goyo cukup berhasil dalam membawakan perannya yang anak kecil banget (liat waktu dia cerita ke Charlie setelah abis nonton pertandingan Zeus, hehe) tapi nggak kekanak-kanakan menyebalkan, terlihat normal-normal saja. Nah, ngomong-ngomong soal itu, salah satu yang membuat film ini layak disimak adalah pembawaannya yang normal, membumi, nggak terlalu mengawang-awang. Segala sesuatu yang kita lihat di layar terbilang sangat plausible untuk ada di sekitar kita di masa datang, atau malah sudah ada (tampaknya handphone Nokia bakal dipake lagi, hihihi), cukup meyakinkan dan believable.

Akan tetapi, gw tidak melihat nilai lain lagi yang membuat Real Steel jadi favorit gw. Gw sih overall cukup terhibur, gw suka dengan perkembangan hubungan Charlie dan Max, gw suka dengan visual efeknya yang cukup nyaman disaksikan, adegan tarungnya pun tidak berantakan. Namun di saat yang sama gw tidak merasa terlalu excited, tidak juga merasa benar-benar tersentuh (baru paham dan peduli saja) dengan dramanya yang dihiasi dialog-dialog klise, serta konflik-konflik sampingan seperti dari tokohnya Kevin Durand yang agak buang-buang waktu—dimunculkan hanya supaya ada lagi tokoh antagonis menyebalkan ketika dirasa tokoh antagonis yang dingin dan keren seperti robot Zeus dan kroni-kroninya tidak cukup meramaikan filmnya. Plotnya sendiri dibangun dengan lambat di awalnya—ya bisa jadi dengan alasan memperdalam, terserah sih, malah Atom aja baru ditemukan setelah setengah jam film berjalan. Untuk film yang menjadikan robot Atom sebagai “jagoan”-nya, gw sih merasa itu agak kelamaan. Ini belum lagi menyinggung subteks kekerasan dan perjudian ya, hihihi *sokbermoral*, nggak lah, nyantai aja kale.

Namun lagi-lagi, bila sudi mengabaikan hal-hal itu, Real Steel tetaplah film yang tidak perlu dihindari. Banyak momen-momen yang dieksekusi dengan baik dan bikin senyum—misalnya adegan-adegan Atom dan Max yang joged bareng ^_^. Ia masih lebih baik daripada film-film futuristik lain yang keberatan di efek visual tapi masabodo sama cerita. Setidaknya, Real Steel justru menggunakan teknologi itu sebagai pendukung drama keluarga yang lebih dikedepankan. It is a nicely made film, a harmless entertainment. Itu dan melihat senyuman Evangeline Lilly? This film is not bad at all =D.



My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar