Selasa, 26 Juli 2011

[Movie] Harry Potter and the Deathly Hallows - Part II (2011)


Harry Potter and The Deathly Hallows - Part II
(2011 - Warner Bros.)

Directed by David Yates
Screenplay by Steve Kloves
Based on the novel by J.K. Rowling
Produced by David Heyman, David Barron
Cast: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Alan Rickman, Warwick Davis, Helena Bonham Carter, Maggie Smith, Tom Felton, Matthew Lewis, Julie Walters, Bonnie Wright, Jason Isaacs, Evanna Lynch, Kelly Macdonald, John Hurt, David Thewlis, Ciarán Hinds, Michael Gambon


Boleh sebut ini keberuntungan atau anugerah ilahi atau law of attraction atau apapun, namun alangkah bersyukurnya diriquh, tanpa gw minta ataupun usaha secara sadar (paling ngarep2 dikit lah), gw berkesmpatan menjalani kegiatan "outing" alias liburan bareng se-kantor gw yang ternyata tahun ini bertempat di negeri sebelah, Singapura *dancedance*. So, nope, gw bukan bela2in ke sono cuman buat ke bioskop, kelewat niat kalo itu mah...tapi tentu saja kesempatan ini tidak gw sia-siakan, thus gw berhasil meluangkan waktu untuk nonton 3 film di bioskop sana, mumpung euy =). Film pertama yang gw tonton adalah Harry Potter and The Deathly Hallows Part II bareng 2 teman gw. Lucu, kedua part film Harry Potter jilid pamungkas gw tonton tidak di tanah air dan tanpa subtitle *soook, sombooong, timpukin rame2 nyook*, dan mungkin itu sedikit banyak mempengaruhi gw untuk menikmati filmnya, mungkin juga tidak, entahlah, ya sudahlah *apa sih?*.

Karena emang tinggal bagian terakhir, plot Part II ini hanya soal Harry Potter (Daniel Radcliffe) beserta Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson) mencari dan menghancurkan sisa 4 Horcrux—benda2 yang menyimpan kepingan jiwa Voldermort (Ralph Fiennes) agar dapat memusnahkan sang pangeran kegelapan—termasuk masuk kembali ke sekolah sihir Hogwarts yang dikuasai Death Eaters akibat Profesor Snape (Alan Rickman) menjadi kepala sekolahnya. Maka tujuan Voldermort membunuh Harry demi memenuhi dunia dengan kegelapan, dan sebaliknya Harry untuk menghancurkan Voldermort demi membebaskan dunia dari kegelapan bermuara di sekolah Hogwarts yang tadinya magis nan permai namun kini suram dan mencekam. Sekolah sihir ini menjadi arena pertarungan Death Eaters vs Order of the Phoenix, dan duel final Voldermort vs Harry, ketika takdir keduanya bakal ditentukan, yang juga menjadi kunci masa depan dunia sihir maupun non-sihir. Kalo gw seperti memanjang-manjangkan sinopsis, itu karena gw mengikuti gaya pembuat film ini yang memanjang-manjangkan cerita jilid ke-7 hingga dipaksakan jadi 2 film terpisah ini. Uh-huh, yea.

Reaksi gw setelah film (dan seri) ini berakhir adalah: tuh 'kan, dibikin 2 part tuh cuman strategi marketing doang, sialan. Bisa lho sebenernya dipadatkan jadi satu film 3 jam-an gitu, penonton juga bakal maklum kok kalo durasi panjang, pamungkas gitu loh, The Lord of the Rings filmnya 3,5 jam aja pada nyantai...tapi ya sudahlah kalo memang itu maunya. Just like bread, money talks *halah*. Bila ditilik kembali Harry Potter and The Deathly Hallows Part I seperti dibuat sebagai ancang2 bagian penutup kisah Harry Potter ini, karena lebih banyak misteri dan drama, actionnya tidak banyak dan ketika ada jaraknya jauh antara satu dengan yang lain. Harapan gw tentu saja, Part II ini akan menggempur habis2an dengan adegan epik nan megah...weelll...ternyata nggak juga, walaupun actionnya terasa lebih banyak tapi masih ada aja bagian2 yang menurut gw lambat dan terasa dipanjang-panjangin di luar fakta bahwa film ini jadi film Harry Potter berdurasi tersingkat (2 jam lebih dikit). Alhasil dibilang menggelegar ya nggak juga, dibilang episode terbaik tentu tidak, tetapi dibilang mengecewakan, ya nggak juga.

Walau terlihat agak kering warna secara gambar, namun visualisasi film ini terbilang cukup bagus lho. Art direction yang sejak awal jadi garda terdepan seri Harry Potter bekerja maksimal, mulai dari rumah persembunyian di awal film, hingga suasana Hogwarts baru yang terlihat kaku (tangganya lurus2 dan gak gerak2 lagi). Visual effectnya pun tampil memuaskan dan tampak megah, ambilah contoh ketika Hogwarts diberi tabir pelindung, atau ketika pasukan semacam terakota mulai begerak hidup. Cukup banyak bagian2 yang menurut gw bagus secara sinematografi, yang dengan adil menunjukkan skala cerita film ini, nggak busuk lah. Pokoknya secara visual Part II udah beres. Kini tinggal pembawaan ceritanya. Adegan "perang"nya lumayan, ada momen2 yang dibuat cukup menengangkan, pun karakter2 dimunculkan sesuai dengan keperluan dan tidak terlampau sia2. Kematian beberapa karakter cukup dramatis, dan pembongkaran rahasia keterkaitan Harry dan Voldermort dibuat dengan cukup smooth. Hanya saja, seperti udah gw singgung, pacenya secara keseluruhan nggak lebih "gerak" daripada Part I, inilah yg cukup menganggu gw, karena membuat kegentingannya nggak berasa, terkikis entah kemana.

Akan tetapi Part II masih punya kekuatan yang dimiliki Part I, yaitu performa akting yang tidak memalukan. Sudah hilang sirna kekakuan Daniel Radcliffe yang harus memikul peran utama Harry Potter selama 10 tahun ini, aktor2 senior bermain baik, bahkan sepertinya ada pahlawan baru yang selama ini dicitrakan cupu dan gak pernah tampil, Neville Longbottom yang diperankan Matthew Lewis—yang jadi mirip Clive Owen ^_^;—dengan sangat baik, go Neville! Di film ini juga, gw perlu memberi pujian khusus kepada Warwick Davis yang tampil gemilang di awal film sebagai goblin pegawai bank sihir Gringotts, Griphook (dia juga memerankan Profesor Flitwick ), keren banget cara ngomong dan gayanye, menurut gw dialah penampil terbaik di Part II ini =). Kemunculan karakter2 lama tapi dengan porsi yang lebih menonjol rupanya ampuh untuk mencegah kemonotonan cerita. Bagi yang menonton 7 film sebelumnya, apalagi yang udah baca novel2nya, pasti ada perasaan senang ketika karakter yang tadinya sambil lalu jadi punya peranan penting di bagian akhir ini. Ke-familiar-an penonton pada karakter2 yang ada pun turut andil dalam menimbulkan simpati atau bahkan benci, meski kali ini mereka munculnya sekelebat saja, malah kayak cameo belaka, reaksi "eh ada dia" atau "mampus mati aja loe" pun akan tetap muncul akibat perkenalan selama sepuluh tahun terakhir itu. Jadi yang baru nonton episod ujung ini aja, selamet ye...

Dengan ini berakhirlah sudah serial Harry Potter versi layar lebar. Diakhiri dengan, well, "oke" dan "gakpapa" lewat Deathly Hallows Part II ini. Tidak sepenuhnya memberi kesan grand, mempesona atau keterkesimaan bagi gw, tidak sampai memuaskan, namun yang pasti melegakan. Gw udah menyaksikan kedelapan filmnya, ada ups and downs, diawali sebagai film anak2 ala Hollywood, lambat laun jadi semakin suram bagaikan film independen bergaya Eropa. Puncaknya bagi gw tetep di film ketiga, Prisoner of Azkaban, slumpnya di film keenam, Half-Blood Prince *dull*. Bagian terakhir ini kira2 tingkat kepuasannya hampir setara sama film pertama, cukup memenuhi ekspektasi, tidak lebih tidak kurang. Andai jadi satu film saja...



My score: 6,5/10

2 komentar:

  1. deathly hallows dibuat jadi dua itu untuk memperpanjang nyawa si harry potter sendiri jadi setahun sehingga penggemar fanatiknya gak cepet2 kehilangan bocah ini, walaupun ini juga termasuk strategi marketing

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar, argumennya sih seperti itu. tapi kalo penggemar fanatik gak mau kehilangan Potter dkk, kan bisa baca bukunya lagi =P

      Hapus