Sabtu, 18 Juni 2011

[Movie] Black Swan (2010)


Black Swan
(2010 - Fox Searchlight/Cross Creek Pictures)

Directed by Darren Aronofsky
Story by Andrés Heinz
Screenplay by Mark Heyman, Andrés Heinz, John McLaughlin
Produced by Mike Medavoy, Arnold W. Messer, Brian Oliver, Scott Franklin
Cast: Natalie Portman, Vincent Cassel, Mila Kunis, Barbara Hershey, Winona Ryder


Boleh percaya atau tidak, ketika membaca premis Black Swan (film yg jadi korban pertama permasalahan krisis film impor di negeri kita sekitar 4 bulan lalu, bete saiah, may you all burn in hell lah *kasar*), juga dari review2 yang beredar, gw agak membayangkan film ini akan jadi versi film dari kisah2 pelakon/penari/penampil/apapun itu yang sering dijumpai di komik2 Jepang, contoh yang paling gw inget adalah Topeng Kaca. You know, di komik itu digambarkan perjuangan seorang aktris panggung muda yang berusaha mendapat peran bergengsi namun harus tetap serius dalam peran apa saja sebelum memperoleh kesempatan prestisius itu, semisal peran jadi tembok atau pohon, bah gambaran perjuangannya lebaynya minta ampun dah, sampe ada momen transformasi dirinya jadi tembok atau pohon segala. Well, those sort of things did work on comic form, tapi apakah visualisasi semacam itu akan sukses juga jika memang ada yang menampilkannya dalam live action? Untuk Black Swan, jawabannya: BISA!

Plot Black Swan terlihat sederhana awalnya. Company balet di New York pimpinan Thomas Leroy (Vincent Cassel) akan memulai seri pertunjukan di musim yang baru dengan menggelar sendratari klasik Swan Lake karya Tchaikovsy. Untuk peran utama, si Swan Queen, Thomas membuka audisi bagi anak2 didiknya untuk menggantikan Beth Macintyre (Winona Ryder) yang "dipensiunkan" karena faktor usia *mungkin, and Beth seemed nggak ridho over it*. Nina Sayers (Natalie Portman) lah yang kemudian terpilih. Jadi ceritanya kita akan melihat suka duka seorang balerina dalam berlatih, mendalami, menghadapi senior resek dan rival yang menjegal, benih2 cinta dengan sang pelatih, hingga berhasil memerankan tugasnya...not! Tantangan yang harus dihadapi Nina dalam meraih spotlight di pentas balet ini sungguh bukan hal yang mudah dan tidak seremeh hal2 yang biasa ada di film2 bertema olahraga atau roman remaja itu. Nina dituntut harus bisa memerankan si angsa putih—jelmaan putri yang dikutuk—sekaligus kembaran jahatnya, angsa hitam yang merayu kekasih si angsa putih, dengan sama baiknya. Untuk 2 peran itu harus satu orang ya? Yah, di situlah letak permasalahan Nina. Thomas menilai Nina bagus sekali sebagai angsa putih, namun tidak sebagai angsa hitam. Kesempurnaan teknik dan ketelitian Nina rupanya belum cukup untuk menopang perannya sebagai angsa hitam yang penggoda. Thomas malah merujuk pada anak pindahan dari San Francisco, Lily (Mila Kunis) yang terlihat cuek, lepas, tanpa beban, santai, bahkan cenderung sembrono, walau secara teknik tidaklah sempurna, tapi yang kayak ginilah yang pas jadi angsa hitam. Nina, demi peran utama perdananya ini, kemudian mulai menggali dirinya sendiri untuk memunculkan sisi "hitam" dari dalam dirinya seperti yang diinginkan Thomas, yang pada perkembangannya malah lebih cenderung merusak jiwanya sendiri, jiwa yang seumur hidup dibentuk dan dipasung pada definisi kesempurnaan yang semu.

Oleh ibunya (Barbara Hershey), Nina selalu ditanamkan sebagai “sweet girl”. Meski secara screen time sang ibu porsinya sedikit, namun gw menebak iniliah titik tolak dari obsesi tak sehat Nina pada peran Swan Queen ini. Ketika Nina sudah “terbentuk” sebagai anak rumahan yang alim dan berprestasi membanggakan, dihadapi pada kenyataan bahwa itu tidaklah cukup untuk memerankan Swan Queen dengan “sempurna”, maka terpiculah Nina untuk berusaha mengorek sisi lain dari dirinya yang selama ini terepresi pada label “sweet girl” tadi. Ia mulai melawan apa kemauan ibu bahkan sampai pada titik cukup ekstrem, ia mulai coba2 “pergaulan malam” yang dianut Lily, dan lebih parahnya lagi ia mulai berhalusinasi, dari tumbuh bulu sayap di punggung dan jari jemarinya yang menyatu—mulai bertransformasi jadi angsa hitam, like, figuratively, ketakutan tak beralasan bahwa Lily hendak merenggut posisi primadona dari dirinya, hingga berkali-kali berhadapan dengan dirinya sendiri dalam tubuh yang berbeda dimanapun itu. Parahnya Nina semakin lama semakin tak bisa sadar mana yang nyata dan mana yang perasaan-dik-Nina-sadja. Ketika sisi kelamnya coba dikorek, ternyata muncrat tak terkendali. Ketika sisi gelapnya makin muncul dan terbentuk, akibat yang tak diantisipasi adalah bahwa jiwanya seakan menjadi terpecah, sehingga tinggal tunggu waktu yang mana yang akan ambil alih tubuh balerinanya itu. All for the sake of perfection.

Black Swan mengajak penonton untuk menyelami diri Nina dalam menanggung beban sebagai bentuk “pertanggungjawaban” atas impian, or should I say, ambisinya menjadi bintang—atau malah ambisi ibunya? Tak hanya satu sisi saja sebetulnya, akan tetapi semua melebur jadi satu, mulai dari tekanan yang pasif-agresif dari sang ibu, kekaguman yang intimidatif terhadap sang senior Beth, keinginan untuk memuaskan Thomas, juga usaha untuk “membebaskan” diri yang rtak dinyana sangat menyakitkan. Namun satu sisi yang gw cukup paham jelas karena terlihat dari awal hingga klimaks film adalah “rivalitas” yang "dibikin" Nina terhadap Lily—Lilly-nya sih baik2 aja, Nina-nya tuh—yang diawali pada saat Nina menyangka Lily sekilas adalah dirinya sendiri versi berbaju gelap, ditambah lagi kemudian Lily adalah pesaing kuatnya dalam peran Swan Queen dan Thomas ingin supaya Nina mencontoh Lily dalam menyelami peran angsa hitam. Persaingan sepihak ini mulai meruncing pada saat Nina ingin melihat gaya hidup Lily, mengikutinya, bahkan “mengambil sari” dari Lily—ehem, ini “kode” sebuah adegan =D—yang akan menyempurnakan transformasinya menjadi angsa hitam, lalu memuncak pada malam pementasan Swan Lake yang “berdarah-darah”, ketika bagi Nina, Lily seperti hendak mengambil apapun yang ada padanya saat itu.

Letak keberhasilan Black Swan—yang didengungkan sebagai psychological thriller—bagi gw adalah penggambaran persepsi Nina yang ditampilkan lewat visual2 dan adegan2 yang di atas kertas “komik banget”, tapi ternyata smooth dan tidak canggung pada hasil akhirnya, malah membuat gw larut dalam dunia kecil nan kelam milik Nina Sayers ini tanpa terpancing sedikitpun untuk mentertawakan. Obsesi terhadap kesempurnaan Nina diterjemahakan oleh sutradara Darren Aronofsky dengan intens, nggak berbelit juga nggak memanjakan, malah sesekali mengerikan. Keberhasilan ini juga tak lepas dari lokomotif akting Natalie Portman yang wonderfully meyakinkan lewat ekspresi dan emosi yang tepat, sebagai seorang “sweet girl” yang berusaha membangkitkan sisi “bad girl” yang justru membuatnya kena kayak gangguan jiwa gitu—terlepas dari gerakan baletnya yang mungkin masih belum terlihat seperti pro banget, tapi gw suka deh trik kamera yang kalo Portman nari pasti telapak kakinya nggak pernah keliatan =). Belum lagi cara pengambilan gambar yang terkesan agak “indie” tetapi begitu intim dengan sudut dan pergerakan sinematografinya yang menawan dan elok dipandang—banyak yang kayak jalan ngikutin tokohnya dari belakang. Gw suka pada saat kamera mengikuti adegan2 tari, pas ngelompat, kameramannya kayak ikutan lompat juga ^_^. Pun penggunaan CGI yang memang punya efek pendukung cerita bukan sekedar pamer canggih2an belaka ditampilkan dengan baik sekali.

Tak salah bila Black Swan menjadi pembicaraan, menjadi pilihan beberapa banyak orang sebagai film ter-oke tahun 2010. Menurut gw pribadi pun film ini keren sekali. Mulai dari cerita hingga pengemasannya, dari akting sampai gaya visualnya. Intensitas dan thrill-nya tidak pernah kendor sedikitpun. Sebuah film yang istimewa dan somehow sarat makna. Dan yang paling penting, Black Swan adalah sebuah contoh film yang menampilkan “keberlebihan” lewat cara yang anggun nan artistik dan kekinian. Bravo.




My score: 8,5/10

2 komentar:

  1. Very nice...

    Walopun saya rada nggak setuju Anda bilang Topeng Kaca itu lebay. Toh penjelasan tentang akting nasih bisa masuk akal (bagiku) Dan lagi, seingat saya nggak ada tuh peran jadi tembok.

    BalasHapus
  2. @anonim, halo dan thank you.
    Jujur saya sih dulu baca Topeng Kaca punya kakak saya sekelabat aja sih, jadi nggak inget2 amat, mungkin memang nggak ada jadi tembok hehehe, maaf ya.
    Tapi soal lebay bukan ceritanya, tetapi penggambarannya, yang seakan-akan dia berubah jadi seseorang atau sesuatu dibuat secara visual itu kan komik banget, sama seperti cerita masak-memasak ketika ada yang melayang-layang menaiki ular naga setelah mencicip suatu masakan yang super enak =D. Jangan salah, penggambaran lebay dalam komik2 itu sangatlah efektif, jadi saya nggak bermaksud jelek kok. Nah, Black Swan ini malah membuktikan bahwa cara seperti itu juga bisa sama efektifnya dalam media film, bila ditangani secara tepat =). Cheers

    BalasHapus