Rabu, 19 Januari 2011

[Movie] Let Me In (2010)


Let Me In
(2010 - Overture Films/Icon Film)

Directed by Matt Reeves
Screenplay by Matt Reeves
Based on the film "Låt Den Rätte Komma In" (Let The Right One In) written by John Ajvide Lindqvist based on his novel
Produced by Alexander Yves Brunner, Guy East, Carl Molinder, John Nordling, Simon Oakes, Nigel Sinclair
Cast: Kodi Smit-McPhee, Chloë Grace Moretz, Elias Koteas, Richard Jenkins, Cara Buono, Dylan Minnette


Entah ada yang perhatiin atau enggak, gw jarang banget yah posting ulasan film horor. Well, alasannya memang sederhana: penakut *malu*. Atau versi rumitnya, malu ketahuan kalo gw orangnya kagetan ^_^; . Gw mau nonton film jenis apa aja, tapi yang paling gw hindari adalah horor. Kecuali kalau itu film bener2 bagus (berdasarkan rekomendasi orang lain tentu saja), gw nggak akan mau nonton horor. Males rasanya kalo gw udah ditakut-takutin dan dikaget-kagetin tapi filmnya secara keseluruhan ya gitu2 doang, like, say, Exorcist The Beginning =_=". Gw lebih suka modelnya The Sixth Sense, yang horor tapi penekanannya bukan di situ, bukan sekedar menakuti-nakuti. Dan untunglah, Let Me In ini pun memang modelnya kayak gitu: horor tapi juga fokus ke arah romansa cinta monyet ^_^".

Let Me In adalah adaptasi versi Amerika dari novel Swedia yang juga telah dibuat filmnya di sana, Let The Right One In (belum nonton). Ceritanya bertumpu pada seorang anak cowok 12 tahun, Owen (Kodi Smit-McPhee) yang sering dibully oleh teman sekelasnya di sekolah, pun tak terlalu diperhatikan di rumah, lebih sering main sendirian, yang kesengsem sama sesosok anak cewek seumurannya, Abby (Chloë Grace Moretz) yang baru pindah ke sebelah rumah kontrakannya (agak males nyebut "apartemen" ^_^;) . Sebuah kisah yang umum, kecuali bahwa si anak cewek itu sebenarnya adalah makhluk peminum darah! Cerita pun bergulir antara persahabatan dan kedekatan mereka berdua yang tentu saja ganjil, diselingi juga dengan banyaknya kejadian orang2 hilang atau tewas secara misterius di kota kecil tempat mereka tinggal, which of course we all know why.

Gw menemukan banyak hal menarik dari film yang kelam-muram jarang dialog namun tidak sendu ini. Entah bagaimana dengan versi film Swedianya yg lebih dahulu (dan terkenal), gw suka dengan cara bertutur dan mengambil gambar dari sudut pandang anak-anak yang dicoba ditampilkan dalam Let Me In ini. Malah kayaknya level ketinggian kamera (mulai sok tau deh) lebih banyak dipas-pasin sama tinggi badan anak2, dalam hal ini paling sering si pasangan tokoh utama Owen dan Abby, sehingga terkesan bahwa merekalah yang utama, bukan dari cara pandang orang dewasa yang ada di sekelilingnya (bahkan wajah ibu Owen pun nggak pernah ditampilkan jelas) yang seringkali "merendahkan" anak2. Mnurut gw cara ini cukup berhasil dalam menerjemahkan ketakutan, kegelisahan, kepenasaranan, serta innocence dari anak2 ini yang dituntut oleh naskahnya—atau mungkin novelnya. Tidak terlihat ingin "mendewasakan" (a.k.a. sok serius) apalagi menjadikannya konyol kekanak-kanakan, semua terasa—I know it's odd to say—wajar.

Dari yang gw saksikan, Let Me In ini blasteran drama romansa (pra)remaja dan horor yang tak dinyana dirangkum dengan pas menjadi tontonan yang memikat. Sektor dramanya mengikat kuat tanpa paksaan, gw bisa bersimpati pada tokoh Owen juga Abby, bahkan pada tokoh "ayah"nya Abby (Richard Jenkins), lewat interaksi, motivasi, dan emosi mereka yang made sense dan apa adanya—ehem, meski agak dibantu sama review2 yg gw baca sebelum nonton, terutama soal "ayah" Abby, ups ^_^". Sebagai contoh, segala tindakan Owen sebagai manifestasi perasaan sukanya pada Abby pun tidak berlebihan: anak remaja tanggung—di era masih belum punya handphone atau video game di rumah—kalo naksir cewek ngapain lagi kalo nggak jadi "tuyul" dompet emaknya, ngajak ceweknya ke tempat yg dia sukai yang dia anggap keren dan berharap bakal mengundang decak kagum ceweknya, mendadak "kreatif" sampe belajar kode Morse, beliin permen, dsb dsb, dan nggak banyak tanya. Sounds natural, doesn't it? =). Dan untungnya hal ini diperkuat oleh deretan akting yang believable dari semua pemerannya.

Namun hakikatnya pula Let Me In adalah film horor. Nuansa ngeri jelas tetap mengintip dan sekali-sekali muncul di sepanjang film. Keberadaan Abby yang seorang vampir senantiasa mengintimidasi gw, kapan, dimana, dan apa yang bakal dia lakukan demi "sesuap" darah...dan sektor sound sangat mendukung itu (>_<). Meski wujud "asli" Abby nggak serem2 amat (dan masih keliatan banget bantuan CGI), namun gw lumayan ter-teror dengan suasana spooky dan menegangkan yang dibangun oleh sang sutradara Matt Reeves dalam film ini. Yup, gw masih kaget2an (dan beberapa kali tutup kuping *malu*) tapi bagi gw ditakutin dan dikagetinnya gak percuma karena film ini nggak hanya berisi parade seseraman semata, tapi punya hati dengan cinta monyet yang tetap so sweet sebagai motornya—meski gw pun masih ada keraguan sama motivasi Abby untuk mau bergaul sama Owen, apa memang simply tak ingin sendiri atau yang lain...hmmm.

But basically, gw suka film ini. Selain dari kisah dan gaya penuturannya (yang lebih banyak menunjukkan daripada memberitahu secara verbal, termasuk relasi vampir dan matahari ^_^, cool), gw juga puas dengan apa yang gw lihat di layar. Sinematografinya cakep deh, banyak main close-up dan fokus sehingga terkesan lebih personal. Selain itu, gw suka banget pada tata adegan kecelakaan mobil yang diambil dari dalem mobil *awesomeness!* dan adegan klimaks yang mirip klimaks Twilight tapi versi jauh lebih keren (mungkin di film aslinya juga ada, entahlah, still, keren!). Eh, gw juga suka adegan sentuhan siku Abby dan "ayah"nya itu, brilliant! =). Baik drama romansa maupun horor, dua2anya berhasil dikawinkan di Let Me In ini, dan hasilnya ternyata cakep. Nggak menyesal rasanya biarpun udah ditakut2in sepanjang film =P.



My score 8/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar