Minggu, 14 November 2010

[Album] Linkin Park - A Thousand Suns



Linkin Park – A Thousand Suns
(2010 – Warner Bros. Records)

Tracklist:
1. The Requiem
2. The Radiance
3. Burning The Skies
4. Empty Spaces
5. When They Come For Me
6. Robot Boy
7. Jornada del Muerto
8. Waiting for the End
9. Blackout
10. Wretches and Kings
11. Wisdom, Justice, and Love
12. Iridescent
13. Fallout
14. The Catalyst
15. The Messenger


Lewat album keempatnya ini Linkin Park, band yg sempet jadi paporit gw jaman SMA, menegaskan keputusannya untuk mengambil resiko dalam melanjutkan eksistensinya di dunia musik. A Thousand Suns bukanlah album yang berisi deretan lagu2 keren dan enak sebagaimana album2 awal mereka Hybrid Theory dan Meteora, yang karena kekerenan dan keenakan musik (a.ka. gampang diterima publik) itulah Linkin Park jadi salah satu band rock generasi 2000-an yang paling populer di dunia. Dan meskipun bertema mirip, album ini juga nggak sama dengan album ketiga mereka, Minutes to Midnight, yg masih berisi deretan lagu2 meski bukan lagi bertema rage dan insecurity diri, tapi lebih kepada dukacita terhadap kehancuran bumi perlahan-lahan. A Thousand Suns adalah model album yang “satu album”, yang tiap2 tracknya berkesinambungan baik bunyi maupun liriknya, nggak boleh asal skip, serta nggak bisa didenger sambil lalu atau sambil nyetir, harus didengar secara seksama dari awal sampe akhir.

Sebagai seorang pengulas abal2, gw merasa mengulas A Thousand Suns milik Linkin Park adalah yang paling sulit, gw masih nggak bisa menggambarkan dengan baik bagaimana album ini. Linkin Park yang gw kenal sekarang benar2 mengubah cara bermusik mereka. Mereka memilih untuk tidak mengulangi “masa kejayaan”, lagu2 yang ada di album ini bisa dibilang nggak ada mirip2nya sama lagu2 mereka sebelumnya kecuali di bagian melodi mungkin. Meskipun tetap dengan konsep campursari rock-hiphop-techno, kali ini Linkin Park lebih dan LEBIH banyak bereksperimen di bagian techno nya. Dari single andalan mereka “The Catalyst” juga udah ketauan, begitulah kira2 yang ditawarkan di album ini, bukan bunyi2annya yang kayak lagu itu, cuman cara bereksperimennya seperti demikian.

Tapi di sinilah masalah “menikmati” menjadi konflik dalam batin *ih apaan sih*. Dari 15 track yang ada, hanya 9 track yang benar2 “lagu” berlirik, sisanya adalah interlude, berisi sedikit atau tanpa lirik, juga rekaman pidato2 terkenal dari J. Robert Oppenheimer, Mario Savio, dan Martin Luther King, Jr. Inilah yang mengusik gw karena rangkaian track dalam A Thousand Suns sebenarnya memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, bukan sekadar jualan lagu semata, nggak mungkin interlude yang banyak itu cuman buat iseng doang. Gw udah berusaha mendengarkan sambil baca liriknya (di album kurang jelas, bisa ke situs resmi mereka), juga liat review2 resmi dan mbak Wiki, tapi tampaknya gw masih agak kurang puas dalam memahami betul2 apa maksud 45-menit durasi A Thousand Suns ini.

Mbak Wiki bilang album ini tentang senjata nuklir (karena ada Oppenheimer yg seorang fisikawan), majalah Rolling Stone bilang album ini menggambarkan apa2 saja yang ditakutkan manusia mengenai zaman akhir. Kalo gw bilang, sejauh ini dengan hikmat dan pengetahuan terbatas, A Thousand Suns lebih mirip film tentang bencana zaman akhir/kiamat, lengkap dengan segala dinamikanya. Beginilah interpretasi gw: “The Requiem” yang berisi penggalan lirik yang juga ditemukan dalam “The Catalyst” di track 14 nanti, adalah pesan berita tentang akhir dunia dan kesudahan umat manusia, sebagai prolognya. Lalu rangkaian track2 selanjutnya adalah penyesalan karena menyadari kehancuran dipicu oleh manusia itu sendiri, usaha menyelamatkan diri, keputusasaan karena segala usaha terasa sia-sia, kemarahan dan saling menyalahkan, hingga pada satu titik pencerahan bahwa kehancuran tak mungkin dicegah atau dihindari, namun harus disambut dengan harapan instead of kekhawatiran (“The Catalyst” mengulang lirik di “The Requiem”, tapi dengan tambahan “no!”), lalu epos akhir zaman ala Linkin Park ini ditutup lewat nomer akustik “The Messenger” yang mengingatkan apa yang jadi kunci hidup manusia, “life leaves us blind, love keeps us kind”. Diawali dengan desperation, namun diakhiri dengan kelegaan. Hei Linkin Park akhirnya bisa juga bikin karya bernada optimis (frase “let go” bertebaran dimana-mana). Well, itu kalo gw, agak ngasal dan belum tentu benar, tapi yah…biarin aja lah segini dulu kemampuan gw, hehe.

Segitu ribet dan sulitnya kah album A Thousand Suns ini dicerna? Hmm, tergantung juga. Bagi yang hanya suka pada Linkin Park pra Minutes To Midnight, ini album nggak jelas. Bagi yang sudah ridho dengan apapun yg dilakukan Linkin Park, album ini jenius. Bagi yang sekadar suka musik album ini bisa jadi di antara kedua kubu tadi: interesting, beda—musiknya nggak ada yang terlalu digeber dan nuansanya beragam, “lagu”2nya tetap enak di kuping (seriously, all 9 of them), bagus secara teknis termasuk vokal Chester Bennington (yg kembali berteriak di 2 lagu “Blackout” dan “The Messenger”) dan Mike Shinoda, namun bisa jadi tak semua bisa menikmati album ini secara keseluruhan, karena menikmati “lagu”nya semata berarti hanya menikmati separuh album. Gw sendiri sih masih bisa menerima detik demi detik suara yang keluar di album A Thousand Suns ini, karena masih masuk di kuping dan nggak terlalu aneh2 banget, tapi gw nggak tau apakah gw “benar2 suka” sama album ini. Yang pasti, A Thousand Suns sama sekali bukan album yang buruk, I think it’s better than Minutes to Midnight. Linkin Park memang berubah dan berangsur tua, namun alih-alih jadi melempem, mereka tetap berjuang untuk selalu menawarkan hal2 baru bagi pendengarnya—it kinda worked though, dan itu langkah yang bagus.

Oh, btw, secara “lagu”, gw paling suka “Burning The Skies”, “When They Come For Me”, “Waiting For The End”, “The Messenger” dan “The Catalyst”. Lewat posisinya di track 14, “The Catalyst” jadi terkesan lebih megah dan anthemic lho di album ini. Lift me up, let me go…



My score: 7,5/10


NB: di track 7 “Jordana del Muerto” berisi 2 kalimat berbahasa Jepang yg dinyanyikan Mike Shinoda “mochiagete, tokihanashite”, yang artinya…”lift me up, let me go” =).

Linkin Park
Previews
courtesy of YouTube

The Catalyst



Waiting for The End

5 komentar:

  1. Gue setuju ama review lo, yg jelas LP tetep salah satu musisi yg jenius :)

    BalasHapus
  2. Lathifatul Afifah13 Oktober 2011 21.05

    a thousand suns makna lagunya masukk ke hati...... kalau diresapi rasanya inget pd hari akhir....

    BalasHapus
  3. @Lathifatul Afifah: setuju, liriknya gak cuman asal ngomel. LP semakin dewasa sehingga pada 2 album terakhir ini berusaha memberi nuansa baru pada penggemarnya, dan album ini cukup berhasil.

    Terima kasih sudah mampir =)

    BalasHapus
  4. Like for Linkin Park Forever

    BalasHapus