Senin, 20 September 2010

[Movie] Sang Pencerah (2010)


Sang Pencerah
(2010 - MVP Pictures)

Written and Directed by Hanung Bramantyo
Produced by Raam Punjabi
Cast: Lukman Sardi, Zaskia Adya Mecca, Slamet Rahardjo Djarot, Agus Kuncoro, Giring Ganesha, Dennis Adhiswara, Mario Irwinsyah, Ricky Perdana, Ihsan Taroreh, Sudjiwo Tedjo, Ikranagara, Yati Surachman


Sebelum memulai review, gw kayaknya perlu mengangkat satu hal: Raam Punjabi itu menarik sekali. Produser "kawakan" negeri kita, sang dedengkot rumah produksi Multivision Plus, atau kalo bikin film labelnya jadi MVP Pictures ini bisa saja dituding sebagai perusak dunia pertelevisian Indonesia dengan sinetron2 komersil kreasinya yang memang serba berlebihan ala India dan berakting sampah itu. Namun, sepertinya sering luput dari perhatian publik bahwa pak Raam kadang eling untuk memproduksi karya2 yang agak idealis dan kualitasnya pun baik...dan memang tidak laku2 amat hehehe. Beberapa tahun belakangan pun pak Raam mulai rajin merambah layar lebar: ada model komersil semacam Kawin Kontrak atau Suami-Suami Takut Istri The Movie *go figure*, ada juga yang lebih "serius" seperti Belahan Jiwa, Selamanya, Jamila dan Sang Presiden (entry Indonesia buat kategori film berbahasa asing di Academy Awards tahun lalu), hingga terakhir Sang Pencerah ini. Ini membuktikan, bahwa pak Raam bukan cuma produser yang cari untung belaka, tapi punya sisi lain yaitu masih peduli sama film yang berpotensi mutu. Jadi, hati2 mencela Raam Punjabi, you might need him someday =).

Kenapa gw bilang gitu? Karena rasanya hanya pak Raam saat ini yang berani ngluarin duit buat film seperti Sang Pencerah, tanpa musti "nyari dana" sama sponsor2 dagang yang kadang cuman pengen sekedar masang logo di poster tanpa berbuat apa2 untuk kesuksesan filmnya. Kalo gw boleh berpura-pura jadi pak Raam, gw melihat bahwa Hanung Bramantyo, sutradara merangkap penulis naskah film ini, punya potensi membuat film yang direspek secara mutu sekaligus menarik banyak penonton seperti pada fenomena Ayat-Ayat Cinta (which, sorry to say, was a not-that-good film for me), asalkan "dibiayai" dengan sepantasnya. Sang Pencerah bisa dibilang passion project Hanung Bramantyo mengenai cikal bakal berdirinya organisasi Islam kedua terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, sekaligus dramatisasi kehidupan tokoh sejarah nasional K.H. Ahmad Dahlan. Entah apa jadinya bila proyek ini harus meminta sponsor...gw rasa malah gak ada sponsor yang mau mendukung film ini, apalagi ini film sejarah, gak komersil. Capitalism is evil. Dana pemerintah? Don't make me laugh =.='

Oke, kita sekarang fokus ke filmnya. Sang Pencerah, seperti gw singgung barusan adalah biopic tentah K.H. Ahmad Dahlan. Supaya lebih sinematik dan nggak kemana-mana, riwayat Ahmad Dahlan yang ini difokuskan pada berdirinya Muhammadiyah, jadi film diawali dengan benih2 motivasi, lalu dijejerkan beberapa momen dari hidup sang Kyai yang berkaitan dengan berdirinya Muhammadiyah di akhir film. Alkisah Yogyakarta (atau Jogjakarta sih? tentukan sikap dong plis) akhir abad ke-19, Muhammad Darwis (Ihsan Taroreh) lahir dan tumbuh di kalangan santri. Sejak remaja Darwis sudah merasakan bahwa praktek agama di sekitarnya sebenarnya sudah mengaburkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Ia pun memutuskan pergi haji ke Mekkah sekaligus belajar agama. Sekembalinya dari Mekkah, Darwis mendapat nama baru, Ahmad Dahlan (Lukman Sardi, yang lebih medok logat Jawanya daripada saat remaja...aneh), dan singkat cerita ia berusaha menawarkan wacana baru tentang ajaran Islam, yang lebih sesuai dengan ajaran yang murni, kepada lingkungan sekitarnya. Ia pun tak ragu mendobrak kebiasaan dan pemikiran yang sempit, menggunakan ilmu pengetahuan Barat--termasuk pake meja dan kursi untuk mengajar anak2 pribumi tak mampu, mengajar agama Islam di sekolah pemerintah, serta ikut dalam organisasi pergerakan nasional (Boedi Oetomo) yang di dalamnya tak melulu berisi penganut Islam.

Tak mudah, karena tentu saja ada perlawanan, siapa lagi kalo bukan dari petinggi agama, Kyai Penghulu (Slamet Rahardjo Djarot) bahkan dari kakak ipar Dahlan, Kyai Lurah (Agus Kuncoro), kakak dari sang istri Nyai Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) yang, istilahnya, pro status-quo, yang merasa Dahlan melangkahi wibawanya sebagai pemimpin umat Islam di keraton Yogyakarta, dan menyesatkan umat dengan mengajarkan hal2 yang bertentangan dengan yang dianut selama ini. Masyarakat pun terpancing dengan menuding Dahlan, ajaran serta pengikutnya adalah kafir (btw, Belanda dan apapun yang dibuatnya juga dibilang kafir). Bahkan kekerasan pun dialami diri serta para pengikutnya. Jatuh bangun Ahmad Dahlan menegakkan apa yang diyakininya mewarnai kisah Sang Pencerah ini, sampai pada akhirnya Muhammadiyah sebagai organisasi sosial dari pengikut ajaran Ahmad Dahlan berdiri, yang berawal dari 5 orang pengurus saja.

Sebagai sebuah film sejarah, Sang Pencerah sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan, terutama dari segi visual. Terlihat sekali bahwa departemen art direction bekerja keras untuk dapat menampilkan otentisitas Yogyakarta pada zaman itu, juga close-up Ka'Bah waktu adegan haji, bahkan pake teknologi CGI untuk memantapkannya (lumayan lah..walau masih keliatan banget sih hehehe). Bangunan, kostum, properti, make up yang meyakinkan menegaskan bahwa film ini memang dibuat dengan serius. Segi plotnya pun bisa dibilang lumayan rapih dan lancar. Pengetahuan yang diberikan terbilang cukup sekaligus mendukung kepentingan cerita filmnya. Penambahan emosi sebagai syarat dramatisasi pun disematkan dengan cukup baik (gw agak miris ketika mbakyunya Dahlan datang ke puing2 Langgar). Editing yang di beberapa tempat dibuat cepat juga rasanya efisien, nggak bikin gw merasa ketinggalan. Sinematografinya agak bernuansa Ayat-Ayat Cinta, miskin warna dan suram (karena proses film lab mungkin?) tapi tetap cantik dipandang mata, mirip2 film nasional produksi lawas.Memang frase "kayak film lama" terbesit di benak gw sejak awal film ini berjalan. Pengarahan akting serta dialog2nya memang seperti homage tak (atau memang) sengaja terhadap film2 berlatar Indonesia masa lalu produksi 1960-1980-an. Terlihat teatrikal, sandiwara banget lah, sehingga kurang terkesan alami atau realistis. Namun anehnya, gaya tersebut berhasil saja untuk film sejarah seperti ini, entah kenapa, mungkin karena kita (gw deing) kurang paham dengan suasana zaman itu, jadi terima2 aja =D.

Tak heran bila film ini mudah menuai pujian, karena dibuat dengan niat yang baik, produksi yang serius, serta memuat berbagai hal yang memang channeling kepada kehidupan masyarakat Indonesia hingga saat ini. Antara pemikiran baru vs pemikiran yang sudah ada yang dirasa sudah nyaman, muda vs tua (adu pinter gimana gitu deh), juga bagaimana fanatisme membuat manusia rela menghalalkan segala tindakannya, yang tercela sekalipun. Itu dan berbagai nilai2 lain yang patut direnungkan bersama ditawarkan dengan cukup baik dan tidak terlalu (mungkin hanya 'agak') menggurui. Kebenaran hanya milik Yang Maha Kuasa, tugas manusia adalah berusaha menuju ke sana (versi lain/original semboyan Dorce ^_^).

Nah, berkaitan dengan itu pula, apakah aspek2 positif film ini mampu menutupi ketidaksempurnaan film ini? Unfortunately, not that much. Para pemainnya sih cukup solid tapi tak lebih dari itu. Lukman Sardi cukup berhasil mengemban peran utama tetapi rasanya dia bisa lebih baik lagi. Ihsan Taroreh yg memerankan versi muda Ahmad Dahlan sebenarnya baik2 saja, tetapi Lukman dan Ihsan seakan memerankan dua karakter yang berbeda karena cara membawa peran mereka sama sekali nggak ada kesinambungannya. Gw pun menyayangkan performa Zaskia Addya Mecca yang udahlah terbatas, kurang berkesan pula *jadi jangan salahkan kami kalo bilang ini hanya nepotisme belaka*. Versi muda sang Nyai pun tidak lebih baik (btw, awal cinta Ahmad Dahlan/Nyai Walidah pun generik sekali, waktu ketemu si cowok ceweknya senyam-senyum malu-tapi-mau di belakang emaknya, hadeuh). Bahkan pada suatu momen aroma komersil seakan dipaksakan masuk, dengan munculnya lengkingan suara Rossa di lagu latar yang bikin gw hampir mengucap "whoa..slow down lady, lagi nonton nih kita..". Beberapa keanehan lain yang bisa2nya gw perhatikan, seperti kemunculan extras yg berulang, kerudung Zaskia Mecca yang dipaksakan sejak awal harus menutupi rambutnya, hingga anak laki-laki Ahmad Dahlan yang tidak bertambah besar juga sejak pulang haji meski ceritanya 5 tahun udah lewat ^_^;.

Namun demikian, Sang Pencerah tetaplah sebuah pencapaian sinema Indonesia yang patut dihargai terutama dari keseriusannya, juga dari caranya bercerita tentang sejarah Islam nasional secara awam dan tanpa kesan kuat propaganda, tanpa memasang portal buat penonton yang bukan Islam. Gw juga menghargai keputusan Hanung untuk menurunkan kadar melodrama-lebai-ala-India yang mendominasi Ayat-Ayat Cinta. Musik garapan Tya Subiakto (juga menggarap AAC) pun lebih bersahaja dan lebih sesuai waktu dan tempat dengan menurunkan frekuensi kemunculannya: di AAC rata2 10-detik sekali (=_="), di sini cuman rata2 2 menit sekali, dan alunan solo violinnya mantep sekali. Dan kalo pun ada 1 hal yang bikin gw girang saking bagusnya, adalah penampilan Sudjiwo Tedjo, sebagai salah satu pakde yang sepemikiran dengan Ahmad Dahlan. Biar porsinya sangat sedikit, tapi di antara pemeran lain yang tampak teatrikal, pak Djiwo justru stood out dengan permainan natural dan amat sangat meyakinkan. Bravo! Jadi kesimpulannya, Sang Pencerah, belum spektakuler gimana gitu, tapi very watchable tentu saja. Raam Punjabi gitu loh =P.




My score: 7,5/10

5 komentar:

  1. Film yang menurut gua cukup bagus dan berkesan buat gua. apalagi music scorenya yang bagus.

    BalasHapus
  2. setuju filmnya bagus.... dramatisasinya kena....
    tp untuk efek visulnya kurang menarik ... apalgi potongan-potongan gambar film jadul yang hitam putih itu... mengganggu banget ....
    cukup menarik dan komersil...

    BalasHapus
  3. @Bang Mupi, @mi: jadi at least kita sepakat ini salah satu film Indonesia yang (lebih) baik sepanjang tahun ini, ya kan? *padahal gw juga gak banyak nonton film indonesia yg judul2nya gak jelas itu hehehe*

    BalasHapus
  4. Terus terang, gue MANTAN penggemar Hanung. Setelah CAS dan Jomblo. Sayang, AAC, Doa yang Mengancam dan Perempuan Berkalung Sorban menghancurkannya. Jadi, setelah di mana-mana gue baca SEMUA orang memuji AAC (termasuk orang-orang terdekat gue), kalimat lo yang "Ayat-Ayat Cinta (which, sorry to say, was a not-that-good film for me)" bikin gue terharu (lebay^^). Kita pasti soulmate!! Hahaha.

    Sang Pencerah, gue sama sekali belum nonton. Skeptis adalah alasan utamanya. Mungkin nanti... kalo tayang di TV atau dalam keadaan terpaksa nonton^^

    BalasHapus
  5. @Frysta, Film ini lumayan kok, yah masih ada sih kekurangan seperti yg gw sebut di review, tapi gw selalu respek sama film nasional yang dibuat dengan niat baik (gw selalu nambah 1 point untuk niat baik di pontennya) =)

    BalasHapus