Rabu, 08 September 2010

[Movie] Gosford Park (2001)


Gosford Park
(2001 - USA Films/Capitol)

Directed by Robert Altman
Screenplay by Julian Fellowes
Based on an idea by Robert Altman, Bob Balaban
Produced by Robert Altman, Bob Balaban, David Levy
Cast: Maggie Smith, Michael Gambon, Helen Mirren, Kristin Scott Thomas, Kelly Macdonald, Clive Owen, Ryan Phillippe, Jeremy Northam, Emily Watson, Eileen Atkins, Bob Balaban, Stephen Fry, Geraldine Somerville, Charles Dance, Camilla Rutherford, Tom Hollander, Derek Jacobi, Alan Bates


Gosford Park adalah sebuah parade naskah, akting dan pengarahan yang berkualitas. Bagaimana tidak, banyaknya tokoh (bener2 banyak) yang porsinya rata2 sama dengan latar belakang dan konflik yang beraneka ragam, dicampuradukkan dalam satu tempat, waktu dan peristiwa, namun berhasil disajikan menjadi tontonan yang memikat hanya dalam durasi 2 jam saja. Kok bisa? Nah itu dia keistimewaannya. Naskah yg cerdik pandai, akting yang kompak tanpa cela, dan kepiawaian sang sutradara alm. Robert Altman dalam merangkum semuanya, adalah daya tarik utama film ini.

Berseting di Inggris pasca perang dunia I (mungkin), Lord William McCordle (Michael Gambon) mengadakan acara berburu (shooting party) di lahan kediamannya yg dinamakan "Gosford Park", mengundang kerabat dan rekan2 bisnisnya. Namun di malam terakhir, tak diduga (?) Lord William terbunuh di meja kerjanya, dan setiap tamu bahkan keluarganya sendiri tak luput dari kecurigaan. Itu aja sih benang merahnya. Tetapi Gosford Park menyajikan lebih dari itu. Banyak banget sub-plot yang kalo meleng sedikit akan bikin bingung, namun anehnya penyajiannya sangat menghibur. Gosford Park menampilkan dua dunia: majikan (Upstairs) dan pelayan (Downstairs) yang masing2 punya kompleksitas tersendiri namun juga terkait bak jaring laba-laba. Awal dan akhir kisah kita merujuk pada si pelayan Scottish yg lugu Mary Maceachran (Kelly Macdonald) dan majikannya si nenek tua cerewet nan sinis Lady Constance Trentham (Maggie Smith) yang adalah bibi mertua dari Lord William. Perlahan tapi pasti penonton diperkenalkan pada setiap tokoh yang kumpul di Gosford Park dengan motivasinya masing2.

Berawal dari Lady Trentham, mulai dijabarkan hubungan Lord William dengan keluarga dan tamu2nya. Hubungan Lord William dan istirnya, Lady Sylvia (Kristin Scott Thomas) hanyalah sebatas formalitas, mungkin mereka saling benci, karena sebenarnya Lord William lebih mencintai adik Lady Sylvia, Lady Louisa (Geraldine Somerville), istri dari Lord Raymond Stockbridge (Charles Dance). Selanjutnya ada Anthony Meredith (Tom Hollander) yang (kalo gak salah) ingin mencegah Lord William membatalkan investasinya; Freddie Nesbitt (James Wilby) yang pecicilan pengen dapet kerjaan dengan cara merayu anak Lord William, Isobel (Camilla Rutherford); tak ketinggalan ada aktor Hollywood Ivor Novello (Jeremy Northam) yang berkunjung bersama seorang produser, Morris Weissman (Bob Balaban) untuk riset film terbaru.

Di "bawah", Mary yang jadi "pelayan pendatang" (bawaan tamu) jadi penghantar penonton menyelami dunia servant yang lumayan hectic. Setiap pelayanan di Gosford Park dikelola oleh head sevant yang tegas, Mrs. Wilson (Helen Mirren), kecuali untuk bagian dapur yang dikomandoi oleh head cook, Mrs. Croft, keduanya kayak dua kubu bertentangan. Mary sendiri sekamar dengan Elsie (Emily Watson) yang orangnya asik tapi entah kenapa selalu ngomong baik soal Lord William tapi ngomong jelek soal Lady Sylvia (ups). 2 pelayan pendatang lain juga hadir namun menyimpan misteri: pelayan Lord Stockbridge, Ray Parks (Clive Owen) yang kelihatannya naksir Mary, serta Henry Denton (Ryan Phillippe) bawaan Morris Weissman yg tindak tanduknya serta cara bicaranya mengundang tanda tanya. Dan sebagaimana diketahui, para pelayan ini tau lebih banyak tentang permasalahan majikan2nya daripada orang lain.

Sepintas terdengar seperti opera sabun berepisode panjang, tetapi Robert Altman yg sudah berpengalaman mengarahkan film dengan ensemble cast (banyak aktor tanpa ada yg benar2 utama) mengambil gaya yang berbeda. Nggak perlu membuat segmen2, narasi, atau mengutamakan tokoh tertentu sebagai pegangan, cerita semua dilebur secara silih berganti dan berlapis-lapis, bahkan saling timpang dalam satu timeline *kebanyakan main twitter*. Altman seakan membiarkan para aktornya "berkeliaran" dalam frame sehingga justru menciptakan suasana yg believable dan natural. Bukannya gak fokus, Gosford Park malah sukses dalam merangkai pelbagai permasalahan karakter dalam satu kesatuan lewat adegan2 dan dialog yang sangat efektif dan efisien, nggak buru-buru maupun terlalu lambat, tanpa menelantarkan benang merah plot...atau mungkin sebenarnya benang merahnya gak sepenting itu ^_^;. Setiap potong adegan dan dialog (bahkan hanya lewat satu kata) pasti mengandung maksud tertentu, dan mungkin saja baru benar2 dipahami setelah menonton beberapa kali, which is nggak apa-apa buat gw, lagian dialognya lucu2, nggak membosankan. Kudos buat Altman sebagai sutradara dan Julian Fellowes sebagai penulis naskah yg menang Academy Awards lewat karyanya ini.


Sebagaimana gw sebut di awal, Gosford Park menampilkan banyak karakter yang semuanya, semuanya dimainkan dengan skill berkelas dan berkualitas dari deretan aktornya yang 90% British ini. Nggak ada yang over atau under acting *istilah darimana lagi nih?*, semua sangat pas dan men-deliver performanya dengan gemilang *waduh tinggi banget tuh bahasanya*. Yang jadi bangsawan dengan keangkuhannya yang khas, sedangkan yang jadi pelayan terlihat begitu mahir meski bisa norak juga dengan kehadiran bintang film terkenal macam Ivor Novello. Kehadiran Stephen Fry sebagai polisi penyelidik pun terbilang menyegarkan dengan kekonyolannya meledek film2 misteri. Mungkin yang paling gw bilang istimewa adalah Maggie Smith sebagai Lady Constance Trentham yang bermulut usil. Satu dialognya dengan tokoh Morris Weissman yang jadi gong paling nyaring di film ini:
Morris Weissman: (tentang rencana pembuatan film detective Charlie Chan In London) "Most of it takes place at a shooting party in a country house. Sort of like this one, actually. Murder in the middle of the night, a lot of guests for the weekend, everyone's a suspect. You know, that sort of thing." (Sebagian besar latarnya di acara berburu di rumah pedesaan. Kayak rumah ini lah. Malam2 ada pembunuhan, ada banyak tamu, semuanya tersangka. Gitu deh.)
Constance: "How horrid. And who turns out to have done it?" (Serem amat. Jadi nanti siapa pelaku sebenarnya?)
Morris Weissman: "Oh, I couldn't tell you that. It would spoil it for you." (Wah, saya nggak bisa bilang. Nanti filmnya nggak seru lagi)
Constance: "Oh, but none of us will see it." (kita nggak bakalan ada yang nonton kok) (^m^)

Gosford Park makin dipercantik dengan dukungan art direction yang otentik, costum yang elegan serta sektor musik yang tepat takarannya, dilengkapi dengan editing yang mulus dan sinematografi yang lumayan menarik. Film ini contoh film yang bagus namun sepertinya kurang diminati karena cara menghiburnya yang tidak standar atau ringan. Mungkin akan banyak juga penonton yang kesal karena terlalu banyak sesuatu dalam film ini yang nggak bisa langsung diketahui maksudnya (kebanyakan anak cerita) serta kurang dramatis gimana gitu, tapi gw sendiri tidak bermasalah dengan itu. Sampai tulisan ini diposting, gw udah nonton kurang lebih 5 kali, dan sampai di kali terakhir gw masih menemukan sesuatu yang baru yang gw nggak ngeh tadinya. Film ini tampaknya cocok juga bagi yang ingin menyaksikan visualisasi feodalisme ala Inggris dalam rumah tangga bangsawan ^o^.



my score: 8/10

2 komentar:

  1. Heh...sudah 5 kali?! Aku sukaaaaa film ini, tapi kayaknya belum sampe 3 kali nonton ;)

    BalasHapus
  2. @curhatsinema-ex-gilasinema, hehe, kurang lebih mas, saya gak inget, yg pasti lebih dari 3 kali. Nonton 1 kali dijamin nggak cukup, selalu ada yang baru setiap kali nonton ^_^;

    BalasHapus