Sabtu, 19 Juni 2010

[Movie] Where The Wild Things Are (2009)



Where The Wild Things Are
(2009 - Warner Bros.)

Directed by Spike Jonze

Screenplay by Spike Jonze, David Eggers

Based on the book by Maurice Sendak

Produced by Tom Hanks, Gary Goetzman, John Carls, Vincent Landay, Maurice Sendak

Cast: Max Records, Catherine Keener, Mark Ruffalo, James Gandolfini, Catherine O'Hara,
Forest Whitaker, Chris Cooper, Lauren Ambrose, Paul Dano


Meski bertokoh utama seorang anak yang berinteraksi dengan makhluk2 besar serupa (lagi males pake kata "mirip" =P) boneka berbulu seperti badut Dufan, nyatanya Where The Wild Things Are bukanlah semata-mata tontonan kanak2. Merujuk pada satu ayat trivia di IMDB.com, memang film ini berdasarkan buku bergambar untuk anak2 (yang konon cuman ada 9 kalimat), namun dibuat oleh sutradara Spike Jonze dengan orientasi dewasa, dalam artian—jangan ngeres—melihat kembali masa kanak2 dalam pola pikir yang dewasa. Bukan film anak2, melainkan "tentang anak2".
Instead of fantasi penuh keheranan dengan warna warni keceriaan, Where The Wild Things Are berani mengemas film dengan monokromatis, gersang, tapi justru lebih bermakna.

Secara garis besar Where Wild Things Are berkisah mengenai Max (Max Records, sodaraan sama Tower?), bocah 10 tahunan yang ngambek sama emaknya (Catherine Keener) karena dimarahin, lalu kabur ke sebuah pulau antah berantah—yang bisa jadi hanya imajinasinya sendiri—yang dihuni oleh 7 makhluk serupa boneka yang gw singgung tadi. Di sana Max berhasil meyakinkan ke-7 makhluk bongsor itu sedemikian rupa sehingga ia diangkat jadi raja atas mereka, hingga pada suatu titik Max merasa harus pulang, namun dengan membawa pembelajaran dari negeri ajaib itu menjadi orang yang berbeda dari yang sebelumnya.


Sebagaimana gw bilang sebelumnya, film ini tentang anak2. Gw diajak masuk ke dunia Max yang notabene masih anak2, tapi penyampaiannya begitu mengena bagi gw yang merasa suda
h melewati masa kanak2 (dewasa? Belum tentu ^_^). Kita lihat Max adalah anak yang penuh khayalan, cenderung nakal, kesepian dan cari perhatian, di tengah2 situasi keluarga yang kurang..err..mendukung—hanya punya ibu tunggal yg bekerja plus punya pacar baru (Mark Ruffalo), serta kakak remaja perempuan (Pepita Emmerichs) yg tentu sedang masanya mementingkan teman2nya daripada adiknya yang nakal. Jelas Max bukan anak teladan, tapi buat gw dia adalah refleksi dari setiap anak yang belum mengerti posisi diri dan orang lain, ia belum paham dampak dari apapun perbuatannya, dan terutama ia belum paham sama keadaan di sekitarnya. Max kabur ke dunia “where the wild things are” setelah dimarahi keras oleh sang ibu (eh si pacar ibu ikut2 lagi), padahal itu karena Max bertingkah aneh2 dan bahkan gigit pundak ibunya, namun lagi2, Max masih terbilang kecil dan self-centered, yang ia mengerti hanya sesimpel ini: "they treated me like a bad person". Salah? Nggak lah, itu reaksi yang jujur.



Di negeri imajiner inilah Max seharusnya merasa bebas, namun lambat laun dia sadar bahwa tidak mudah menjadi raja dari 7 makhluk yang sifatnya berbeda-beda. Ada Carol (James Gandolfini) yang kreatif sekaligus mudah terpancing emosi; Douglas (Chris Cooper) sahabat sekaligus penasihat yg bijak bagi Carol; Judith (Catherine O’Hara) yang cerewet dan gemar mengritik; Ira (Forest Whitaker) yg lembut dan sabar, agak oon juga kayaknya, pacar Judith; Alexander (Paul Dano) yang fisiknya kecil dan lindah namun sering tidak diacuhkan baik tindakan maupun perkataannya; KW (Lauren Ambrose) yang kalem,ramah dan penyendiri; lalu ada The Bull (Michael Berry, Jr.) yang seram, intimidatif, namun pasif dan hampir nggak pernah ngomong. Ke-7 makhluk ini sebenarnya bertingkah, berinteraksi, bermain, juga berantem layaknya anak2 kecil (lihat adegan perang lumpur hehehe). Max sebagai raja harusnya membuat mereka akur, namun apa daya karena malah konflik yang terjadi. Max seperti dihadapkan pada sifat2 kekanakannya sendiri yang tercermin lewat ke-7 makhluk ini, semisal susahnya mengakurkan Carol dan KW (yang kayaknya saling suka ^_^), karena Carol orangnya ambekan sama KW yang punya “teman lain”, dan KW yang merasa lebih baik main sendiri daripada capek ngumpul sama Carol yang terlalu “drama”. Pun soal ia paling akrab sama Carol dibandingkan yang lain, kenyataan bahwa ia nggak punya kekuatan ajaib—yang membuatnya diangkat jadi raja, serta beberapa “janji” Max yang ketika ditagih ternyata nggak bisa ditepati, ini menjadi titik2 dimana Max harus belajar bertanggung jawab atas setiap perbuatannya…dan betapa tidak mudahnya jadi pemimpin, jadi raja, jadi orang tua.

Berat ya? ^_^; Oh tenang, itu mungkin cara nulis gw aja yang agak terlalu serius dan sok tau *mohon maaf*. Secara filmis, film ini sendiri berjalan tak seberat esensi yang dikandung, kayak main2 saja layaknya melihat dari sudut pandang Max. Sangat berbeda dengan gaya film2 “anak” atau film Hollywood biasanya yang terlalu "memanjakan" penonton dalam bercerita, namun adegan demi adegan di Where The Wild Things Are dibuat rapih dan apik. Karakterisasinya dibuat sedemikian rupa sehingga gw cepat untuk mengenal dan bersimpati tanpa mengganggu laju ceritanya. Secara teknis banyak yang mau gw bicarakan di sini (efek visual, musik, desain karakter “wild things”, editing,
art direction dan lain2 yg semuanya jempolan sekaligus unik), namun perhatian gw terutama tertuju pada sinematografi yang tampak ringan dan biasa, dan warnanya pun tidak meriah, namun sebenarnya menangkap setiap momen lewat sudut2 yang cakep dan unik, serta riil dan bermakna (gw paling suka setiap kamera nyorot matahari langsung). Jadi secara visual, film ini keren dengan gayanya sendiri—sayang segi akting yg hampir sepenuhnya ditanggung oleh si aktor cilik Max Records kurang dapat disebut istimewa.

Harus diakui memang film ini akan sulit disukai apalagi dimengerti, mengingat kisahnya mengalir seakan tanpa benang merah cerita yang jelas. Gw butuh 2 kali untuk memastikan gw benar2 nangkep maknanya, dan mungkin butuh nonton lagi untuk paham lebih jauh. Namun demikian, Where The Wild Things Are berhasil menjadi suguhan film yang membuat gw merasa bercermin, kayaknya ada “saya” juga di dalam film itu. Tanpa perlu spesifik (malu ah), gw seperti menyaksikan representasi diri gw di sana, dan untuk itu gw merasa jadi Max yang harus sadar dan belajar, serta lebih bijak lagi ketika kembali ke alam nyata. Max mungkin belum akan langsung berubah, tapi setidaknya ia mulai mengerti posisi orang lain ketika menghadapi dirinya, sebagai langkah awal menuju kedewasaan sekaligus pengenalan akan diri sendiri,
and so should we.



My score:
7,5/10


2 komentar:

  1. sy suka bagian ouuuuwwww-nya
    hehe.. filmnya bener2 unik,idenya fresh bgt..
    endingnya keren pas di pantai.. nice review..

    BalasHapus
  2. @kreshnahary
    thanx *jadi malu*

    BalasHapus