Minggu, 18 Oktober 2009

[Movie] Taken (2008)


Taken
(2008 – EuropaCorp)


Directed by Pierre Morel

Written by Luc Besson, Robert Mark Kamen

Produced by Luc Besson

Cast: Liam Neeson, Maggie Grace, Famke Janssen, Olivier Rabourdin, Xander Berkeley



Entah datang dari mana, Taken pelan2 menjadi salah satu film yg sukses selama setahun lebih di seluruh dunia. Taken adalah film produksi Prancis dengan maksud dan tujuan sbagai konsumsi internasional dengan cara memakai aktor non-Prancis dan dialog berbahasa Inggris, terima kasih kepada nama yg sudah sering melakukan hal semacam itu, Luc Besson (sutradara The Fifth Element dan produser Leon/The Professional, 3 seri The Transporter, serta Kiss of the Dragon nya Jet Li). Peredarannya di dunia pun sangat bersahaja dengan cara bergiliran. Di bioskop Prancis tayang sekitar Februari 2008, di Indonesia sendiri (di jaringan Blitz Megaplex) skitar bulan Juli 2008, di AS malah Januari 2009 dan tak dinyana menjadi salah satu film pertama di 2009 yg pendapatannya tembus 100 juta dolar AS! Demi kepenasaranan gw atas prestasinya, Taken menjadi salah satu pilihan VCD yg gw sewa untuk ditonton marathon barengan Garuda di Dadaku, Coraline, dan Gran Torino kira2 seminggu sebelum tulisan ini terbit.


Cerita Taken sebenernya biasa saja, klasik. Bryan Mills (Liam Neeson) adalah mantan agen CIA yg sedang berusaha mempererat tali kasih dengan putri remajanya, Kim (Maggie Grace) yg kini tinggal di Los Angeles bersama mantan istrinya, Lenore (Famke Janssen) dan suami barunya, Stuart (Xander Berkeley) yg kaya raya. Suatu hari Kim minta persetujuan sang ayah agar bisa liburan sambil mengunjugi berbagai museum di Paris bareng temannya, Amanda (Katie Cassidy)—katanya di sana tinggal di apartemen sodara, jadi gak sendirian. Bryan khawatir dong, anaknya baru genap 17 taun udah jalan2 ke luar negeri tanpa pengawasan orang dewasa. Dicap “parno amat sih loe” sama mantan istrinya, dan Kim yg minta2 sambil mewek, Bryan pun mengizinkan. Namun, yg dikhawatirkan Bryan terjadi juga. Kim hanya berdua dan apartemen sodaranya Amanda ternyata lagi kosong. Tak hanya itu, tiba2 apartemen Paris itu dimasuki orang2 asing yg membawa paksa Amanda dan akhirnya Kim. Untungnya Kim sebelum diculik sedang menelepon Bryan sehingga dengan cara yg keren, Bryan punya petunjuk awal bagaimana cara utk menemukan putrinya. Bryan bergegas ke Paris dan menelusuri jejak putrinya yg telah diculik berkat sisa2
skill nya sebagai agen misi rahasia, yg ternyata membawanya pada seluk beluk gangster Albania dan penjualan perempuan di Paris. Tapi kali ini ia bertindak bukan untuk tugas negara, ini urusan pribadi, dan Bryan tidak akan sungkan untuk menghabisi si pelaku maupun siapapun yg menghalangi demi mendapatkan putrinya kembali dengan selamat.

Harapan untuk mendapatkan tembak2an, berantem2an, kejar2an dan ketegangan seperti film2 spionase macam trilogi Bourne atau Mission:Impossible, ada banget. Eksekusinya mungkin tidak spektakuler, tapi nggak cupu. Akan tetapi, nilai plus dari film ini terletak pada oom Liam Neeson yg bisa menyeimbangkan kekuatan akting dengan kemampuan
action (sesuatu yg tidak bisa dilakukannya di Star Wars Episode I, hehe). Sejak awal gw udah diajak simpati abis sama si bapak ini, apalagi melihat bahwa kemampuan spionase (seakan-akan) masih 100% mantap. Dengan motivasi utamanya adalah urusan pribadi, rasa2nya penonton bisa memaklumi apapun yg dilakukan oleh Bryan Mills, termasuk interogasi+penyiksaan kepada tersangka penculik, sampai menyerempet lengan istri Jean-Claude (Olivier Rabourdin), inspektur polisi Prancis kenalannya, dengan peluru!( gw shock waktu liat adegan ini), dan oom Liam sukses berat membawakan karakternya. Lewat alur yg sebenernya gak ribet atau terlalu gimanaa gitu, Taken ternyata dipoles cukup oke dengan unsur drama dan beberapa adegan aksi yg lumayan menegangkan (tapi kalo di VCD soundnya loyo banget).

Kekurangan? Selain bahwa jalan ceritanya serta sinematografinya terbilang standar, tak terkecuali pas adegan penutupnya (
B-movie banget deh), sebenernya film ini terbilang aman. Tidak istimewa, tapi sama sekali tidak jelek. Detail2 yg nggak masuk akal mungkin agak mengusik, dari Bryan Mills yg tampak terlalu jago (Roger Ebert malah bilang, kalo semua agen CIA kayak Bryan Mills, Al Qaeda udah pasti dibasmi dari kapan tau), bagaimana bisa dia bisa bawa senjata banyak ke negara orang padahal dia tidak datang atas nama negara, sampai dia masuk ke “sarang penyamun” ganster Albania di Paris dengan bahasa Inggris namun tidak dicurigai (?), tapi dengan jika ditonton dengan toleransi tinggi (ini bukan Hollywood), Taken rupanya lumayan enak dinikmati. It won’t hurt to watch.


My score:
6,5/10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar