Sabtu, 11 Juli 2009

[Movie] Blood: The Last Vampire (2009)


Blood: The Last Vampire
(2009 - Samuel Goldwyn Films (USA))

Directed by Chris Nahon
Screenplay by Chris Chow
Based on the anime by Production I.G.

Created by Kenji Kamiyama, Katsuya Terada

Produced by Bill Kong, Abel Nahmias

Cast: Gianna (Jun Ji-hyun), Allison Miller, Koyuki, Liam Cunningham, Yasuaki Kurata


Film anime tak selesai (durasi cuman 50 menit krn kurang dana, kalo gak salah) yg menjadi salah satu anime paling dipuji krn gambarnya bagus banget, kini dibuat versi live actionnya dengan judul yg sama. Bukan produksi Jepang ataupun Hollywood (
at least tidak murni), tapi 2 orang produsernya dari China dan Prancis, meskipun film ini memakai bahasa Inggris hampir seluruhnya. Tidak ada ekspektasi apa-apa waktu gw mau nonton ini, dan memang tidak perlu, karena jujur gw juga kurang begitu nge-fans sama versi animenya (akhir2 ini sering diputar ulang di Animax), yg dengan soknya hampir semua dialog berbahasa Inggris, tapi diucapkan kayak orang keterbelakangan mental (lambaaat banget). Cerita versi anime, dan film ini juga, sangat sederhana. Jadi menurut gw nilai plus Blood versi anime hanyalah di sektor gambar animasinya. Versi live actionnya, sayangnya gak beranjak jauh dari situ.

Adalah makhluk setan yg disebut
bloodsuckers (vampir? mungkin, di film sih gak disebut begitu ^^) yg bisa menyamar jadi manusia dan hidup ditengah-tengah masyarakat sekaligus cari mangsa. Saya (bukan "aku", tapi namanya emang gitu), seorang pemburu bloodsuckers bertampang gadis muda berseragam sailor, menghabiskan hidup hanya untuk mencari dan membunuh dedengkot makhluk2 itu, disebut Onigen, yg telah membunuh orang yg telah merawatnya dulu, Kato (Yasuaki Kurata) (btw maksudnya dulu adalah duluuuuuu banget). Untuk mencapai tujuan itu, Saya menjadi eksekutor, mencari dan membantai para bloodsuckers dengan pedangnya, untuk sebuah organisasi rahasia yg disebut The Council, yg menangani perang antara manusia dan bloodsuckers sekaligus menutupinya agar perang turun temurun ini tetap tidak diketahui oleh siapapun. Imbalannya adalah Saya mendapat apa yg ia butuhkan agar bertahan hidup: minuman cairan kental merah dalam botol (aha! ^0^).

Tahun 1970, The Council membawa Saya (Gianna) kepada petunjuk bahwa Onigen (Koyuki) sudah siap eksis lagi, karena para
bloodsuckers aksinya makin brutal dan berkumpul di satu tempat, pangkalan militer Amerika di wilayah Kanto, Jepang (emang ada ya? Kalo di anime aslinya kan di Okinawa). Saya pun menyamar jadi siswi SMA Amerika di pangkalan tersebut. Hari pertama, Saya langsung nemu aja gitu bloodsuckers yg nyamar jadi anak sekolahan yg mau memangsa seorang putri Jenderal, Alice (Allison Miller). Alice yg agak rebelious ini melihat aksi Saya, nantinya dia tau keberadaan makhluk2 ini (bahkan dia diincar, entah kenapa), dan sampai akhir film Alice ikut nimbrung dalam setiap aksi Saya menumpas para bloodsuckers, hingga pertarungan melawan Onigen. Oh ya, asal usul Saya juga dikupas lho...dan rada2 Star Wars: The Empire Strikes Back gimanaaa gitu (^o^).

Penting gw garisbawahi bahwa menonton film ini memang beda banget jika dibandingin sama film sejenis produksi Hollywood yg serba klise ataupun Jepang yg terlalu "tradisional". Mengingat sutradaranya orang Prancis, maka gw merasa memang sinematografinya bercitarasa Eropa (gambar banyak
close up, banyak noise dan lighting yg berani). Tapi melihat produser dan koreografer silatnya, gw pun mengakui bahwa film ini juga cukup dekat sama film2 silat Mandarin (lompat2, terbang2, gitu deh). Dua hal ini menurut gw yg menjadi kekuatan positif film ini. Pertarungannya seru-seru euy (terutama adegan flashback ketika Kato dikeroyok sama anak buah Onigen, nice). Adegan ala Hong Kong direkam dengan cara Prancis...hmm...@_@

Akan tetapi di luar itu, film ini banyak sekali kurangnya. Ceritanya cukup koheren dan amanlah walaupun emang biasa aja, tapi naskahnya kurang digarap dengan baik. Banyak dialog janggal dan konyol yg keliatan banget dibuat oleh orang yg bukan penutur asli bahasa Inggris terutama Inggris-Amerika. Ada juga "tambahan" plot seorang agen The Council yg selama ini jadi
L.O. Saya, malah pecicilan membunuh ayah Alice dan agen partnernya (motifnya apa juga gak jelas) sehingga memaksa Saya dan Alice kabur dari pangkalan militer. Endingnya pun kurang konklusif dan cenderung kurang wah untuk klimaks. Dan yg paaaling mengganggu adalah, efek CGI yg sumpeh, culuuun banget. Gw sangat menyayangkan adegan2 aksi yg cukup keren harus dinodai sama darah2 CGI yg kliatan boongnya (ceritanya darah bloodsuckers tuch coklat kentel, tapi yaah..gitu deh). Jangan tanya bagaimana tampilan CGI wujud asli bloodsuckers, amatir. Aktor2nya, emang dasar gak ada yg terkenal, yah penampilannya juga biasa2 saja. Gianna cukup baik, tapi kalo jadi orang Jepang, ya mbok latian dialog bahasa Jepangnya (yg cuman beberapa kalimat) dibagusin dikit lah...^.^;

Entah kenapa, gw pingin menyukai film ini, karena memang berpotensi baik. Sayangnya beberapa plot holes menjatuhkan penilaian gw. Dan visual efeknya. Tapi untuk sektor yg satu ini, masih gw maafkan karena mungkin dananya memang nggak cukup. Seandainya visual efeknya lebih "bener", dan seandainya juga gunting Lembaga Sensor Film kita gak rese untuk memotong adegan2 sadis *cih*, pasti secara keseluruhan film ini akan
just okay. Gw pun cukup respek sama sutradaranya yg berusaha membuat Blood tetep watchable meski naskahnya gak begitu bagus. Setidaknya, ada adegan2 yg bisa dinikmati dan durasinya filmnya nggak panjang2 amat..unlike that "other" film I watched recently *sigh*...


my score:
4,5/10


2 komentar:

  1. salam kenal bang...
    gw baru kmaren lusa nonton ni film...
    masih kerasa banget kurangnya, pribadi gw sih storynya n konfliknya masih bisa dikembngin...eksekusi cerita yg kurang maksimal malah bikin ni film terlalu dipaksakan, yg paling gak masuk akal...Alice udah jatuh dari jurang, diledakin Onigen, masih idup...WTF...wlo gitu ada beberapa adegan yg keren yaitu pas adegan fighting dengan latar kota jepang tahun 70-an perpaduan hujan ama lightingnya kerenlah...cuman darahnya kek kecup campur saos tomat...

    BalasHapus
  2. @Yudith
    seperti tulisan gw, gw pengen menyukai film ini, tapi yah memang bener, penulis ceritanya kurang kreatif, padahal gw rasa sutradaranya udah berusaha keras membuat film ini layak tonton walaupun dana terbatas...soal darah, udah kayak kecap campur saos tomat, keliatan boongan lagi ^0^

    BalasHapus