Selasa, 27 Januari 2009

[Movie] Pintu Terlarang (2009)


Pintu Terlarang 
(Lifelike Pictures - 2009)

Directed by: Joko Anwar

Screenplay by: Joko Anwar

Based on the novel by: Sekar Ayu Asmara

Produced by: Sheila Timothy

Cast: Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Otto Djauhari, Henidar Amroe, Tio Pakusadewo


Film ini penuh misteri. Gak seru kalo gw ceritain terlalu detail. Gw kasih petunjuk, "Pintu Terlarang" adalah film thriller psikologis. Artinya: tegang? yes. membingungkan? definitely! Waktu gw nonton film ini di Mega Bekasi XXI, banyak Sobek2 (Sobat Bekasi ^-^) yg keluar sebelum filmnya selesai. Yg jelas, sebenernya ini bukan film untuk semua orang. But technically, this is a hattrick from Joko Anwar after "Janji Joni" and "Kala". Sekali lagi pak Joko menciptakan dunia alternatif dimana imajinasi artistik yg berbicara, dan tetep bernuansa retro.


Gambir (Fachri Albar) adalah pematung yg membuat patung2 wanita hamil yg ternyata di dalam perut patung itu ada janin beneran, yg prototipenya adalah mayat aborsi anaknya dengan Talyda (Marsha Timothy) sebelum mereka menikah. Tiba2 Gambir sering disamperin pesan "tolong saya" dari seorang anak kecil, dan dia akhirnya mengetahui keberadaan anak kecil itu dari sebuah tempat bernama "Herosase" yg tenyata sbuah tempat yg tak terbayangkan sebelumnya.


Terus terang gw ragu dengan jalannya film ini. Dunianya terlalu absurd dan simbolik. Dialognya dramatis dan tidak alami, mirip serial TV asing yg didubbing. Gw mulai merasa antipati sama film ini...sampai bagian ending menebusnya. Keanehan2 di 3/4 awal film (lumayan lama kan?) seakan disengaja, dan setelah tahu endingnya, yah semua kejanggalan gw maafkan deh.


Secara visual, sebagaimana film2 pak Joko sebelumnya, kombinasi cinematography+editing+art direction bener2 kompak. Kayaknya sich gambarnya juga udah pake proses digitalization (krn ada kredit Technicolor Thailand), jadi kayak di-PhotoShop. Sayang seribu sayang, hal yg sama gak berlaku buat para aktornya. Semua kaku gak meyakinkan, apalagi Fachri Albar ngomongnya sering gak jelas. Fachri dan Ario Bayu di sini gak beda dengan mereka di "Kala", persis. Yang paling meyakinkan malah peran yg gak penting dari Verdi Soelaiman sebagai orang China-Medan pelanggan patung Gambir (oh, yes...I know how China-Medan sounds like hehehe).

Film ini cerita (dan endingnya) mirip2 sama film "Belahan Jiwa" karya Sekar Ayu Asmara, krna "Pintu Terlarang" memang merupakan adaptasi novel karyanya, lagian dua2nya juga berunsur psikologis. Dengan kata lain: yup, sama anehnya. Bedanya, Joko Anwar "tau" caranya membuat film. Jelas secara keseluruhan "Pintu Terlarang" yg sinematik lebih bagus dari "Belahan Jiwa" yg 'sinetronik' hehehe. Ending anehnya pun dieksekusi pak Joko dengan cukup brilian. Lucunya, "Pintu Terlarang" seakan menjawab angan2 gw setelah menonton "Belahan Jiwa": "ceritanya sih lumayan, tapi coba sutradaranya bukan Sekar Ayu Asmara..." hihihi...Yah beginilah hasilnya, similar story, better execution. Not bad...

This is a well-crafted film, tapi bagi gw "Kala" masih lebih exciting plus lebih original.

Btw, film ini juga menampilkan adegan2 kejam, jadi kalo mw nonton, wanti2 aja.

my score: 7/10

www.pintuterlarang.com
www.herosase.com

catatan: selama ini gw cukup dermawan dalam menilai film lokal, mengingat industri film kita baru "jalan lagi", jadi gw selalu mempertimbangkan "niat baik" dalam penilaian (^.^)...

3 komentar:

  1. Betul, setuju banget bang, si Fachri actingnya agak kurang pas gimana gitu....
    Ngomongnya itu sering ga jelas, untung gua liat DVD yang bisa ditampilin subnya, dan diulang lagi, kalo di TV/bisokop bisa berabe, ga kedengeran...

    Rada rada mirip shutter island, tapi kayanya duluan yang ini keluarnya..
    Just FYI, nih film diadaptasi dari novel, tapi ceritanya mengalami banyak sekali perubahan dari novelnya. Jadi seusai baca novel karya Sekar Ayu Asmara, nonton filmnya berasa baru dan tidak sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya ada yang urun pendapat dari segi novelnya. Jadi bagusan novel atau filmnya nih? hehe
      Terima kasih respons dan sharingnya ya =)

      Hapus
    2. Yah..., biasalah novelnya lebih rinci dan lengkap.
      Lebih bagus mana? Saya rasa dua-duanya punya kekuatan masing masing. Tetapi, kalo saya boleh bilang, novelnya sedikit lebih bagus dan lebih mudah dimengerti (secara lebih banyak detail dan penjelasannya)

      Hapus