Minggu, 27 Januari 2019

This Blog Is 10 Years Old

Alkisah tahun 2009, lima bulan sejak lulus kuliah dan sama sekali nggak ngapa-ngapain, gw memberanikan diri meneruskan hobi mengulas film (dan musik) dengan membuat blog sendiri. Ini masih dalam masa-masa tren sebagian warga internet menuangkan tulisan yang diterbitkan sendiri dalam bentuk blog. Kenapa gw sebut memberanikan diri, ya karena awalnya tulisan-tulisan yang gw buat itu hanya konsumsi pribadi, palingan gw posting di Friendster dan Facebook, meski dibuatnya sambil bermimipi juga akan dimuat di majalah-majalah. Lalu dibuatlah Ajirenji Mindstream Reviews yang begitu sederhana, dengan postingan perdana pada 26 Januari 2009. Untuk pertama kalinya, tulisan-tulisan gw terkekspos ke "dunia luar".

Sepuluh tahun kemudian, Januari 2019, blog ini masih ada. Total postingan sudah (atau baru hanya) 882, dilihat sebanyak total 1,9 juta kali. Blog ini masih sederhana, masih nggak ada canggih-canggihnya. Namun, banyak juga yang berubah. 

Dinamika kehidupan si penulis di dunia nyata terbukti berpengaruh pada cara blog ini dikelola. Dalam satu periode kadang bisa posting banyak banget, kadang malah nggak sama sekali. Tulisannya ada yang dipikirin baik-baik dan disusun cakep-cakep, tapi nggak sedikit juga yang sembarang dan bikin malu. Berbagai upaya untuk terus menulis secara berkala sudah dicoba. Dari yang mewajibkan diri untuk semua film yang ditonton dan album yang didengarkan harus diulas, kemudian ulas film yang ditonton di bioskop saja dan stop mengulas album musik, lalu ke pilih-pilih ulas film yang di atas rata-rata saja, hingga yang terkini hanya memberikan komentar singkat beberapa film sekaligus. Alasannya standar, makin sibuk, makin sempit waktu, makin lelah.

Meski demikian, di sisi lain, blog ini juga mengubah kehidupan nyata gw, dan gw nggak akan melupakan itu. Lewat blog ini gw bisa bertemu banyak sekali orang dengan minat serupa, yang pada perkembangannya benar-benar bisa berteman di dunia nyata sampai sekarang. Sebagai pribadi yang tidak hobi berinteraksi sosial, ini sesuatu yang gw akan selalu anggap berharga. Yang nggak kalah penting, karena blog ini gw dihantar untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari profesi, dan cakupan bidangnya pun persis sama dengan yang selama ini gw bahas di blog. Ini adalah masa gw menjadi jurnalis untuk Muvila.com--yang beberapa tulisan gw di sana juga gw posting di sini. Saat itu gw harus belajar menulis lebih "bener", dan mengenal lebih dalam dunia yang selama ini gw cuma lihat luarnya saja, ya asyiknya, ya boroknya. Ajaibnya, pengenalan tersebut nggak membuat gw hilang rasa pada bidang ini. Saat ini pun gw masih berada di bidang film, walau lebih di sisi bisnisnya, yang ternyata nggak kalah drama ;).

Menulis di blog ini tetap jadi satu kebanggaan gw, yang isinya bisa gw klaim sebagai "hasil karya" dari tangan dan pikiran gw. Apalagi sekarang sudah mencapai 10 tahun, yang artinya inilah hal terlama yang gw "kerjakan" dalam hidup gw. Kadang kala gw berandai, bisa kali ya gw menjadikan blog ini lebih terlihat profesional, mungkin bikin domain sendiri, dimonetisasi, atau bikin versi video? (sementara nggak sampai berandai bikin ini jadi situs portal atau aplikasi gaya majalah, pengalaman membuktikan yang satu ini masih sangat rentan, hehe). Itu masih banget jadi harapan gw, namun gw pikir saat ini masih harus jalan selangkah demi selangkah, supaya nggak terlalu beban. Lagi-lagi karena tuntutan kehidupan dunia nyata, konsentrasi dan energi gw belum bisa terpusat ke blog ini semata. Sekarang cita-cita gw adalah konsisten aja dulu bikin konten di sini. Mohon doanya ya.

Di momen ini, gw mau ucapkan terima kasih pada semua teman-teman dan para pengunjung blog Ajirenji atas dukungannya. Terima kasih sudah mau membaca tulisan-tulisan gw yang isinya sangat subjektif dan belum tentu bermanfaat ini, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Terima kasih untuk komentar-komentarnya yang membuat blog ini lebih hidup dan semangat gw untuk blog ini tetap ada. Terima kasih atas sepuluh tahun ini.

Mari gerak ke tahun-tahun selanjutnya.



Minggu, 20 Januari 2019

My Movie Picks of December 2018

Eehhh, hampir ketinggalan bikin daftar film favorit bulanan ^m^;;. Mohon maaf sudah membuat Anda menunggu begitu lama. Berikut adalah film-film paling berkesan yang gw tonton dalam berbagai medium dan metode selama Desember 2018 yaa...



1. Aquaman
(2018 - Warner Bros.)
dir. James Wan
Cast: Jason Momoa, Amber Heard, Patrick Wilson, Willem Dafoe, Dolph Lundgren, Yahya Abdul-Mateen II, Ludi Lin, Nicole Kidman, Temuera Robinson


Kalau mau dicari-cari sih ada aja kurangnya film ini, utamanya susunan ceritanya sudah pernah banget diangkat sama berbagai film. Tapi, gimana ya, film ini kayak ada "aura" yang berhasil bikin betah nontonnya, dan cukup bertahan ketika ditonton ulang. Kisah origin ke-superhero-an si manusia ikan yang diwarnai intrik tahta kerajaan samudera--sejalan dengan dunia film DC sekarang yang serba mythological, dari alien (Superman), dewa-dewi Yunani (Wonder Woman), dan sekarang dunia bawah laut yang orang-orangnya bisa napas dan ngomong di air. World-building-nya lancar, penuh excitement dari adegan-adegan laganya dan rancang visual yang kompleks dan keren banget--adegan-adegan bawah laut-nya juwara, plus penampilan Momoa yang bisa bikin sosok Aquaman, yang dulu sering dibilang sebagai superhero DC paling nggak guna, menjadi cool. Sebagai cinematic experience, ini adalah yang terbaik dari semesta DC sejauh ini.
My score: 7,5/10






2. Ralph Breaks the Internet
(2018 - Walt Disney)
dir. Phil Johnston, Rich Moore
Cast: John C. Reilly, Sarah Silverman, Taraji P. Henson, Gal Gadot, Alan Tudyk, Jack McBrayer, Jane Lynch, Alfred Molina, Ed O'Neill



Bagi gw Wreck-It Ralph dulu adalah salah satu contoh animasi modern terbaik Disney, di luar yang princess-princess-an. Kini muncul sekuelnya yang mencoba memperluas jangkauan meta dari kisahnya sekaligus menyambut fenomena internet yang udah jadi bagian dari kehidupan sebagian besar warga dunia (kayaknya). Sayang gw tidak sampai seterkesima waktu nonton Wreck-It Ralph dulu, biasalah, unsur surprise-nya agak berkurang. Tetapi, sekuelnya ini tetap bagus dari segi susunan cerita dan tentu saja juga teknik animasinya. Visualisasi konsep-konsep dunia internet-nya brilian dan lucu, kisah persahabatan si Ralph dan putri balap Vanellope juga mampu jadi core cerita yang baik dan menyentuh, ditambah tokoh-tokoh baru yang bisa mencuri perhatian.
My score: 8/10






3. Shoplifters
(2018 - Gaga Corporation)
dir. Hirokazu Kore'eda
Cast: Lily Franky, Sakura Ando, Mayu Matsuoka, Kairi Jyo, Miyu Sasaki, Kirin Kiki, Kengo Kora, Chizuru Ikewaki, Akira Emoto


Film ini bukan cuma merepresentasikan sudut-sudut Jepang yang lusuh dan "nggak kayak Jepang yang di TV-TV", tetapi secara universal mempertanyakan ulang pandangan tentang makna keluarga. Yang sedarah malah nggak ngurus, yang nggak sedarah justru punya ikatan kuat. Or is it? Banyak pemikiran yang bisa muncul dari film ini. Namun, di luar penataan adegan-adegannya yang mengalir anteng tapi menyita perhatian berkat performa para pemeran yang solid, dan pengungkapan-pengungkapan yang muncul kemudian, satu hal yang paling berhasil dilakukan film ini adalah membuat gw sebagai penonton juga ikut terikat pada keluarga ini. Sampai pada akhirnya disuruh memutuskan apakah mau mempertahankan ikatan itu atau tidak setelah berbagai hal telah terjadi dan terungkap.
My score: 8/10






4. Spider-Man: Into the Spider-Verse
(2018 - Columbia/Sony Pictures Animation)
dir. Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman
Cast: Shameik Moore, Jake Johnson, Hailee Steinfeld, Mahershala Ali, Nicolas Cage, Kathryn Hahn, Liev Schreiber, Brian Tyree Henry, Luna Lauren Velez, John Mulaney, Kimiko Glenn, Zoe Kravitz, Lily Tomlin, Chris Pine


Dari awal kunci kisah film ini adalah pada teori bahwa dunia ada berbagai dimensi alternatif, yang berarti ada berbagai versi Spider-Man, dan ini juga gara-gara komik Spider-Man (dan banyak komik superhero Amerika juga?) seringkali bikin edisi update atau reimagining atau simlpy versi alternatif dari si Spider-Man. Jika melihat itu, bisa jadi film ini adalah versi yang paling respek sama materi sumbernya, dan itu bukan soal gaya visualnya yang seperti komik atau cerita persis komik (toh komik versi yang mana?), melainkan dari cara film ini menuangkan prinsip bahwa di medium komik segala macam ide itu sah-sah saja. Pada akhirnya plot film ini memang bisa disederhanakan jadi kisah seorang remaja yang belajar memanfaatkan kekuatan supernya lalu mengalahkan musuh besar yang mengancam dunia, ngulang lagi aja ke hampir semua film superhero yang sudah ada. Namun, film ini bisa cukup stand-out dengan disuntikkannya berbagai ide liar, humor asyik, dan kelincahan yang mungkin hanya bisa dilakukan dalam format animasi.
My score: 7,5/10






5. Asal Kau Bahagia
(2018 - Falcon Pictures)
dir. Rako Prijanto
Cast: Aliando Syarief, Aurora Ribero, Teuku Rassya, Dewa Dayana, Surya Saputra, Vonny Cornellya, Meisya Siregar, Hans De Kraker, Sari Koeswoyo, Daan Aria


Nggak salah juga untuk curiga bahwa film ini hanya ingin mengendarai popularitas sebuah lagu pop, dan ditambahkan dengan para bintang muda yang punya demografi market yang lagi rajin-rajinnya ke bioskop--dan somehow karakter filmnya meminjam nama asli mereka masing-masing. Namun, untunglah semuanya bisa ditakar dan diramu menjadi fantasy romance remaja yang nggak ribet dan dituturkan dengan atmosfer yang sesuai. Dipresentasikan dengan visual cakep dan bisa menyelipkan humor di antara dayu-dayu cinta-cintaannya, citarasanya jadi terasa pas untuk genre ini.
My score: 7,5/10






6. Milly & Mamet
(2018 - Starvision/Miles Films)
dir. Ernest Prakasa
Cast: Sissy Prescillia, Dennis Adishwara, Julie Estelle, Yoshi Sudarso, Roy Marten, Arafah Rianti, Eva Celia, Ernest Prakasa, Dinda Kanyadewi, Aci Resti, Bintang Emon, Tike Priatnakusumah, Pierre Gruno, Melly Goeslaw, Isyana Sarasvati, Titi Kamal, Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti


Menyorot fokus pada dua tokoh paling bikin ketawa di Ada Apa dengan Cinta? (2002), yang ternyata diketahui di Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) keduanya malah sudah jadi pasangan *terkaget*. Agak melepas cinta-cintan galau AADC, spin-off ini memang terlihat lebih ringan dan cerah, tetapi tema film ini justru agak lebih deep tentang suami-istri muda yang sedang membangun keluarga tetapi juga mau (dan in a way, harus) mengembangkan diri di karier. Well, jadinya memang film ini tidak selucu yang diharapkan bila masih berpakem pada ingatan bahwa Milly (dulu) lemot dan Mamet (dulu) culun-gengges, namun film ini tetap bisa menyampaikan maksudnya dengan lancar, dan menghibur.
My score: 7,5/10




Sabtu, 05 Januari 2019

Year-End Note: My Top 10 Films of 2018

Bagian terakhir untuk catatan akhir tahun 2018 adalah untuk sinema. Nah, untuk senarai yang ini gw masih pakai prasyarat yang lama, supaya gw nggak terlalu ribet juga nyortirnya, yaitu berisi film-film yang rilis di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2018--jadi agak beda dengan senarai bulanan yang setahunan ini gw bikin. 

Perlu ditekankan pula bahwa pengurutan atau ranking di sini tidak selalu sesuai dengan ponten yang gw berikan ke masing-masing film, tetapi lebih menunjukkan tingkat experience yang gw rasakan saat nonton film tersebut, yang seringkali nggak ada hubungannya sama bagus-nggak-nya kualitas konten film tersebut. Karena film itu sifatnya abstrak yang value-nya berbeda-beda bagi tiap orang, yekan?





HONOURABLE MENTIONS
Berikut gw gelar dulu lima runner-ups yang sempat dipertimbangkan untuk masuk 10 besar. Filmnya nggak kalah berkesan sih, cuma yah agak tersenggol dikit dari lapisan teratas. Dalam urutan abjad.


Bad Times at the El Royale, dir. Drew Goddard
Kisah misteri karakter jamak yang digarap bak film klasik namun tetap terasa modern, yang kadang mencekam kadang lucu-pahit.

Crazy Rich Asians, dir. Jon M. Chu
Komedi romantis yang menyegarkan dengan penempatan benturan budaya dan pemikiran yang lumayan dekat.

Hereditary, dir. Ari Aster
Penuturan misterinya yang rapat kalah menyebalkan dari pembangunan horornya yang ganggu abis, sampe sempet kebawa ngeri kalau ada di ruangan tanpa lampu.

Logan Lucky, dir. Steven Soderbergh
Semacam versi "daerah" dari seri Ocean's-nya Soderbergh, yang hasilnya nggak hanya lebih sederhana skalanya, tapi malah lebih lucu dan lebih human.

Searching, dir. Aneesh Chaganty
Bisa menegangkan lalu menyentuh sebagai cerita utuh. Bukti bahwa gimmick visual--dalam hal ini semua pengisahan seolah terjadi di layar komputer--nggak boleh menghalangi penuturan cerita.







MY TOP 10 FILMS OF 2018



10. Aruna & Lidahnya
dir. Edwin
Kisah jalan-jalan dan makan-makan empat orang dewasa yang ringan nan memikat, terutama berkat padu akting dari para pemerannya, bawaannya jadi ikut senang. Oh, dan pengambilan gambar makanan-makanannya memang tampak kurang ajar jika ditonton dalam keadaan lapar.






9. Christopher Robin
dir. Marc Forster
Membenturkan innocence memori masa kecil dengan keribetan hidup sebagai orang dewasa, mungkin tema dan tampilan Pooh-bear dkk di sini agak terlalu "realistis". Tetapi, buat gw film ini berhasil menyajikan sebuah kisah untuk keluarga yang tampil hangat, menyentuh, mudah dicerna, dan tetap adventurous sekalipun tidak serba magical.







8. Aquaman
dir. James Wan
Beruntunglah generasi yang hidup saat ini bisa melihat sosok Aquaman menjelma menjadi sangat keren di layar lebar--bukan versi Super Friends =p, dibalut dengan kisah petualangan bawah dan atas laut yang megah. Gw masih kagum bagaimana mereka bisa berhasil men-deliver kehidupan bawah laut tanpa muncul terkesan, you know, silly. Sebagai film superhero bagian dari DC Universe, Aquaman adalah sebuah persembahan paling imajinatif, dan dalam berbagai hal menjadikannya salah satu yang paling bikin terkesan.






7. Avengers: Infinity War
dir. Anthony Russo, Joe Russo
Kulminasi visi ambisius yang digarap selama sekitar satu dekade, mengumpulkan puluhan karakter dari semesta film superhero Marvel. Kita sama-sama tahu ini proyek yang sangat gila, sampai-sampai jadi semacam hajatan tersendiri setara hari raya. Akan tetapi, gw sendiri tidak mengira bahwa hasilnya sanggup merangkul (hampir) semua karakter tersebut dengan porsi dan posisi tepat guna. Keakbaran ceritanya terasa, nggak sampai keblenger, namun momen-momen tiap karakter tidak sampai terhilang. Well done, indeed.






6. The Post
dir. Steven Spielberg
Kecanggihan teknologi film masa kini memang keren tetapi classic filmmaking yang dilakukan Spielberg kok ya tetap saja memukau. Sekilas memang cerita film ini tampak berat, namun mata nggak akan bisa berpaling dari kepiawaian para pemeran, gambar, pengadeganan, dan segala sesuatu yang terjadi di layar, yang mampu membawa sebuah momen dalam sejarah (yang gw sendiri kurang familier) dengan topik-topik tentang kemerdekaan pers menjadi terasa penting dan genting.






5. Sebelum Iblis Menjemput
dir. Timo Tjahjanto
Menonton film ini adalah salah satu pengalaman langka gw sangat menikmati film horor, and if you know me, that's quite something. Nilai produksinya yang wahid dimanfaatkan sedemikian baik dalam menyajikan sebuah experience horor yang mencekam dan meresahkan, komplet dari setan-setanan hingga darah-darahan, yang ditempatkan dengan presisi sehingga menghasilkan sensasi menonton yang heeeeboh.






4. Love for Sale
dir. Andibachtiar Yusuf
Gw udah expect bahwa nggak mungkin film ini akan lawak-lawak biasa. Konsepnya cukup besar, tetapi pendekatannya nggak ribet, dekat dengan keseharian, ritme-nya nyaman, witty namun nggak bawel, lugas tapi bersahaja, hingga kemudian tersadar bahwa ketimbang mencoba meng-impress dengan adegan-adegan yang wah, film ini telah memaksa gw untuk mengalami rasa yang dirasakan tokoh-tokohnya, dan sampe bikin kepikiran beberapa waktu setelah nonton.






3. The Shape of Water
dir. Guillermo Del Toro
Kalau dilihat lebih dekat, film ini seperti tumpahan berbagai ide dan topik--dan genre cerita, yang bisa berjalan secara terintegrasi dengan kisah cinta dua insan terpinggirkan yang ingin bahagia. Ini juga salah satu film yang mempan ditonton berulang-ulang, karena setiap gambar punya simbol-simbol visual yang mungkin terlewat kalau hanya nonton sekali, atau, yah, sekadar mengagumi keindahan film ini berkali-kali juga boleh.






2. One Cut of the Dead
dir. Shin'ichiro Ueda
Film ini jelas dan wajib gw catat sebagai pengalaman menonton paling "rusak" yang gw alami di tahun 2018. Hanya berbekal rekomendasi orang-orang yang bilang film horor-komedi ini wajib tonton, yang gw dapatkan adalah sebuah film yang akan susah banget gw hilangkan dari ingatan, saking luar biasanya film ini dalam memanipulasi ekspektasi gw. Lihat posternya yang berdarah begitu tapi ngecek LSF ternyata rating-nya "hanya" 13+ adalah salah satu indikasi keabsurdannya. A new classic for Japanese cinema.












1. Ready Player One
dir. Steven Spielberg
And then there's this movie. Di tahun yang riuh dengan berbagai film blockbuster dengan brand terkenal dan bujet raksasa, Ready Player One buat gw adalah yang paling memberikan kepuasaan di semua lini. I mean, se-mu-a. Jalan cerita, world-building, karakter, audio visual, ritme, animasi, laga, sampai ke detil referensi kultur pop berbagai zamannya, film inilah yang gw ingat paling bikin gw girang saat nonton di bioskop sepanjang 2018. Jika melihat isinya satu persatu, film ini mudah sekali terjebak jadi convoluted dan ke mana-mana. Namun, yang terjadi adalah di tangan dewata Spielberg film ini jadi begitu kaya, megah, dan exciting, relevan, namun tetap bermakna dan punya hati. Seolah bilangin "gini lho cara bikin film" dan I think everyone should pay attention.




Demikianlah senarai akhir tahun 2018 dari saya. Happy 2019!