Senin, 06 Februari 2017

[Movie] Sleepless (2017)


Sleepless
(2017 - Open Road Films/FilmNation Entertainment/Vertigo Entertainment/Riverstone Pictures)

Directed by Baran Bo Odar
Screenplay by Andrea Berloff
Based on the film Nuit Blanche written by Frédéric Jardin, Nicolas Saada, Olivier Douyère
Produced by Roy Lee, Adam Stone
Cast: Jamie Foxx, Michelle Monaghan, Dermot Mulroney, Scoot McNairy, David Harbour, Gabrielle Union, Tip "T.I." Harris, Octavius J. Johnson, Tim Connolly


Film bertema kriminal yang menjanjikan aksi (minimal) tembak-tembakan dan kejar-kejaran, mungkin itulah hal-hal yang diharapkan dari film-film seperti Sleepless ini. Sleepless harusnya punya nilai plus, dengan aktor serba bisa pemenang Oscar, Jamie Foxx sebagai lokomotifnya, dan sutradara Swiss, Baran Bo Odar yang sebelumnya banyak dipuji lewat film kriminal siber Who Am I (2014) produksi Jerman. Namun gw tetap harus waspada, karena film-film macam ini biasanya diperlakukan nggak lebih dari sekadar pengisi "kuota" harus-ada-film-laga-kriminal-minimal-sebulan-sekali. Premisnya--polisi vs mafia--cukup generik dan kalau nggak dibikin sekarang pun nggak apa-apa, bukan juga proyek yang career-defining untuk pemain atau sineasnya, cuma buat exercise aja. Dengan tingkat ekspektasi yang demikian, gw akan menyambut baik bila filmnya ternyata punya sesuatu yang lebih. Apa lacur *haven't use this phrase a long time =)*, filmnya ya sesuai, bahkan di bawah ekspektasi yang nggak terlalu tinggi itu.

Kasus yang diangkat di sini adalah tentang bisnis gelap narkoba yang menyeret mafia, pengusaha, dan polisi di Las Vegas, lengkap dengan stock shot pemandangan kota seperti serial CSI: Crime Scene Investigation. Vincent (Jamie Foxx) dan rekannya Cass (T.I.—rapper yang pernah featured di lagunya kak Agnez Mo =p) mencegat sebuah mobil yang sedang mengantar paket kokain dalam jumlah besar untuk mencuri barang tersebut. Ternyata, kedua orang ini sebenarnya polisi yang memang ditugaskan menyamar masuk dalam blantika narkoba. Akan tetapi, mereka juga dihadapkan pada kemungkinan adanya mata-mata mafia dalam kepolisian yang sering menggagalkan penggerebekan, dan provos Jennifer Bryant (Michelle Monaghan) tak bisa mengalihkan kecurigaannya pada Vincent yang posisinya sangat rawan pengkhianatan. Hingga suatu ketika Vincent yang sedang mengantar putra remajanya Thomas (Octavius J. Johnson) disergap oleh orang suruhan Stanely Rubino (Dermot Mulroney), bos kasino besar Luxus. Thomas diculik, dan Rubino menuntut Vincent segera menggembalikan paket narkoba yang diambilnya tadi, dan diserahkan kepada Novak (Scoot McNairy), anak salah seorang bos mafia. Cerita pun kemudian bergulir antara usaha Vincent membebaskan anaknya, Jennifer yang mengejar Vincent, dan misteri siapa mata-mata yang ada di kepolisian, yang semuanya berlangsung di dalam gedung kasino Luxus di satu malam.

Gw membayangkan bahwa film ini di-pitching sebagai No Country for Old Men meets The Departed in a casino. Sayangnya itu nggak saying much buat film ini. Kompleksitas intrik yang ditampilkan nggak pernah bisa dikedepankan sebagai sesuatu yang, well, intriguing. Ditambah lagi karakter-karakter yang ditampilkan itu lempeng-lempeng semua, nggak ada yang benar-benar menarik. Semuanya jadi tampak seperti klise tema-tema kriminal di film-film dan TV, pake si tokoh utama ceritanya duda dan nggak akur sama anak dan mantan gara-gara pekerjaan, karakter pengusaha kasino yang punya bisnis sampingan yang tak hanya haram tapi ilegal (perjudian haram tapi at least legal di sana =D), seorang anggota mafia dan mata-mata mafia di kepolisian yang yah gitu lagi aja. Jika ada yang agak menarik adalah karakter si Jennifer, dan itu mostly karena dimainkan cukup bersemangat dan badass oleh simbak Monaghan. Laju filmnya sendiri nggak masalah sih, cukup bisa menggambarkan kegentingan situasinya. Problemnya adalah penanaman  karakterisasinya *biji kacang ijo kali ah* nggak ada yang benar-benar mengakar buat gw, nggak ada simpati atau antipati terhadap satu pun karakternya, sekalipun dari penulisannya sudah lumayan berusaha. Gw jadi nggak peduli dengan "permainan" hindar-menghindar dan akal-mengakali antara Vincent dan Rubino+Novak dan Jennifer, gara-gara mereka semua kok kayak gampang banget dibodohin. Mungkin maunya "kompleks" dengan jaring-jaring konflik yang ambigu (biar nggak se-straightforward Liam Neeson di Taken misalnya), tapi jadinya nggak "nyampe" aja.

Untunglah film ini masih kebagian kata untung, yaitu pada segi laga. Saat film ini tiba di perkelahian-perkelahian fisik, rupanya ini digarap cukup keras dan brutal. Jujur saja ini poin yang paling gw nikmati dari Sleepless, ketika penyampaian cerita dan karakternya terbilang rata-rata saja, adegan berkelahinya bisa memunculkan excitement kecil-kecilan—perkelahian di dapur jadi agak ngingetin sama The Raid 2 hehe. Sayangnya bagian ini nggak dimanfaatkan maksimal, mungkin karena "keterbatasan ruang"—sebagaimana gw bilang tadi setting utama film ini hanya di dalam gedung kasino, atau bisa jadi keterbatasan bujet, jadi pembuat filmnya agak tertahan dalam memperbanyak adegan laganya, alhasil bagian terbaik itu porsinya terasa dikiiit banget. Maksud gw, udah tahu cerita dan kasus kayak gini udah pernah diangkat di mana-mana, ini remake pula, Sleepless harusnya bisa menggenjot sektor lain biar terlihat usaha, dan laga adalah pilihan teraman. Coba konfliknya jangan njlimet-njlimet, dan adegan-adegan laganya dibanyakin, mungkin film ini akan setidaknya lebih enjoyable.

Pada akhirnya, yang bisa gw bilang adalah Sleepless bukan tipe film yang gw benci, tetapi lebih ke kelompok nggak akan kehilangan kalau kelewatan, karena nggak ada yang benar-benar istimewa dan layak diingat di sini. Potensinya ada, tetapi terlewatkan. Selain laganya, sebenarnya dengan jalinan cerita dan posisi-posisi karakter yang ditampilkan kurang lengkap dan kurang utuh itu, gw pikir Sleepless ini lebih seperti episode perdana/pilot sebuah serial TV. Andai begitu, gw cukup tertarik menantikan episode-episode selanjutnya, misalnya tentang hubungan Vincent dengan anak dan mantan istrinya, atau tiap usaha pengungkapan mata-mata di tubuh kepolisian, dan tentu saja menantikan more action. Sayang, kenyataannya film ini hanyalah satu film lepas, yang sialnya nggak memuaskan di berbagai segi.




My score: 5,5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar