Senin, 29 Agustus 2016

My Top 10 Japanese Drama Series (So Far)

Jika ada satu hal paling positif yang gw dapat dari menonton that poor-concepted Indonesian romance film Winter in Tokyo beberapa pekan silam, adalah membangkitkan memori gw tentang drama seri atau sinetron Jepang, atau sering disebut dorama--ejaan di Jepang-nya. Sebagai anak yang keranjingan TV sejak pitik di era 1990-an, gw tentu nggak asing dengan dorama. Paling awal bersentuhan dengan dorama tentu saja dengan Oshin di TVRI dan sebuah dorama dari era 1980-an tentang sekolah pramugari Japan Airlines di RCTI--setelah nge-Google sepertinya judulnya Stewardess Story (Stewardess Monogatari). Tapi, saat itu gw belum mengerti betul bahwa itu sinetron asal Jepang. Pas udah agak gedean dan rada melek media, hadirlah saluran Indosiar yang menayangkan berbagai judul dorama, yang gw cukup ikutin karena tayangnya setelah jam anime di sore hari. Ya, sebelum booming sinetron Taiwan dan K-Drama di era 2000-an, dorama Jepang sudah menginfiltrasi pemirsa Indonesia sejak lama--mungkin barengan sama telenovela Amerika Latin. Silahkan bilang gw tua, tapi dengan pengetahuan nggak penting ini, gw bangga. Apelu apelu...

Sajian dorama Jepang di TV kita agak come and go, malah kayaknya setelah drama Asia banyak dijiplak sinetron Indonesia *uhuk* antara 2000-2005, dorama Jepang seolah raib. Itu bersamaan dengan gw mulai kuliah sastra Jepang, ketika gw justru butuh lebih banyak referensi dan dorama termasuk di dalamnya--selain karaoke lagu Jepang buat hafalin huruf kanji, it works guys. Jadi yah sebagaimana konsumen entertainment Indonesia yang selalu saja tidak mendapat apa yang mereka mau dari jalur resmi, gw mulai mengulik banyak dorama dari lapak-lapak, dengan cakram-cakramnya yang rapuh berbau minyak kayu putih itu, lalu juga temukan ketersediaan yang cukup melimpah di internet--sisi positifnya, karena nggak di-dubbing seperti di TV kita, gw bisa lebih sering dengar bahasa Jepang yang diucapkan oleh native speaker, biar bisa membiasakan telinga sama bahasa itu *pembenaran =P*. Lumayan, sekitar 5-6 tahunan gw jadi agak addict sama dorama.

Dorama Jepang itu ternyata buanyak banget, karena sistem industrinya emang cukup beda dari Indonesia atau Hollywood. Dalam pertelevisian Jepang, satu season itu benar-benar satu musim artian sebenarnya, yaitu sekitar 3 bulan, masing-masing untuk musim semi, panas, gugur, dan dingin. Jadi jika ada acara atau dorama tayang seminggu sekali untuk satu musim, ya berarti episodenya maksimal cuma 12, dan umumnya satu judul dorama hanya dikasih jatah satu musim aja. Itulah sebabnya, dorama Jepang itu lebih mirip mini seri ketimbang serial, karena dalam 9, 10, atau 11 episode saja udah tamat. Kecuali dalam kasus khusus drama sejarah di televisi pemerintah NHK yang tayang sepanjang tahun (40-50 episode), atau dorama pendek (15 menit) buat ibu-ibu rumah tangga seperti Oshin yang tayang setiap hari selama enam bulan, dan beberapa pengecualian lainnya. Tapi umumnya, setiap musim berganti, line-up-nya pun ganti. Kalau memang ternyata dianggap sukses, tidak menutup kemungkinan dilanjutkan dengan season "sekuel"-nya, tapi itu tak selalu pasti dan bisa terjadi beberapa tahun kemudian. Lewat sistem ini pula, bukan hal yang mengherankan kalau aktor-aktor di sana sempat-sempatnya main di beberapa judul dorama dan film dalam satu tahun, karena waktunya memang memungkinkan.

Anyway, gw baru catch-up lagi dorama di tahun 2016 dengan adanya channel berlangganan WakuWaku Japan. Tapi, rasanya yang ditayangkan di sana--yang untungnya tidak di-dubbing =)--belum bisa memberi kesan yang cukup mendalam dibanding waktu gw dulu keranjingan dorama. Dengan segala motivasi itu, gw coba iseng membuat senarai 10 dorama terfavorit gw sejauh ini. Maunya bikin 'sepanjang masa' tapi itu bakalan nggak komprehensif, karena akan tergantung pada periode mana saja yang gw tonton, belum lagi ada void 4 tahunan belakangan gw sama sekali nggak ngikutin dorama. Tetapi, biarlah ini tercatat untuk saat ini, karena kalau nunggu lagi, gw akan keburu lupa, hehe.





HONOURABLE MENTIONS

Untuk alasan kenapa 10 judul ini yang gw pilih, bisa dilihat nanti. Tetapi, gw musti meng-shout-out kepada beberapa judul yang menurut gw nggak kalah berkesan. Dari yang ditayangkan di Indosiar era 1990-an-awal-2000-an seperti Just the Way We Are (Sunao no Mama de), Anything For You (Kimi no Tame ni Dekiru Koto), Ordinary People (Asunaro Hakusho), 101 Proposals (101-kaime no propoozu)Anchor Woman (News no Onna), atau Long Vacation, semua telah turut membangun fondasi ketertarikan gw baik terhadap dorama Jepang, lagu-lagu Jepang--perhatikan bahwa setiap dorama tadi punya theme song yang sangat memorabel, maupun pada Jepang itu sendiri.

Dalam perjalanannya gw juga pernah menikmati dorama tentang hubungan unik guru dan murid-muridnya di GTO: Great Teacher Onizuka, Gokusen, hingga My Boss My Hero. Atau yang berbentuk procedural/misteri/investigasi seperti Trick (tentang tipuan supranatural), Unfair (detektif memburu pembunuh berantai), dan Galileo (ahli fisika ngebantu polisi). Atau kehidupan perkantoran seperti Haken no Hinkaku (tentang pegawai kontrak) dan Hataraki-Man (tentang wartawan majalah), atau yang bertema medis yang cool seperti Code Blue (helikopter ambulans) hingga komedi rumah tangga At Home Dad (tentang suami yang jadi bapak rumah tangga full time).

Gw juga dengan berat hati meng-exclude judul-judul "maut" seperti 1 Litre of Tears (tentang gadis penderita ataxia), Hana Yori Dango (Boys Over Flowers alias Meteor Garden =D), dan Taiyou no Uta (tentang penyanyi nggak bisa keluar siang karena penyakit genetik). Strangely gw juga cukup banyak mengeliminasi deretan dorama yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan-nya Jepang, Takuya Kimura, seperti Good Luck (dia jadi pilot), Engine (jadi pembalap), atau CHANGE (jadi perdana menteri). Bukannya nggak bagus, cuma belum sampai ke posisi 10 besar menurut gw. Tempo hari gw sempat mengikuti dorama produksi 2016, Good Partner, tentang pengacara mantan suami-istri tapi masih satu kantor, tapi mungkin butuh waktu untuk masuk daftar "all time" gw.

Baiklah, cukup panjang lebarnya. Berikut 10 dorama terfavorit gw sepanjang masa sejauh ini.


My Top 10 Japanese Drama Series (So Far)

10. Attention Please/アテンションプリーズ (2006)

Salah satu ciri khas yang gw suka dalam dunia dorama Jepang adalah sering sekali mereka mengangkat sebuah profesi spesifik yang disampaikan dengan beberapa informasi pengetahuan yang tidak asal-asalan, tetapi juga bisa menghibur karena ditabrakkan pada karakter-karakter yang "filmable", kata lain untuk aneh, hehe. Attention Please yang kental unsur komedi kisahkan seorang cewek anak band urakan bernama Yoko Misaki (Aya Ueto) yang ingin membuktikan dia bisa jadi "wanita" dengan mendaftar jadi pramugari Japan Airlines. Ini mungkin bukan dorama terbaik soal profesi pramugari--yes, they are actually plenty of them, tetapi ini termasuk yang paling menghibur buat gw.

Starring: Aya Ueto, Ryo Nishikido, Miki Maya, Saki Aibu, Misa Uehara, Kotaro Koizumi, Fumiyo Kohinata
Directors: Yuichi Sato, Yasushi Ueda, Hidenori Joho, Manabu Kitagawa
Screenwriter: Noriko Goto, Yuko Nagata



9. Last Friends/ラスト・フレンズ (2008)

Ini mungkin sedepresif-depresifnya dorama Jepang yang pernah gw tonton. Kelihatan di permukaan sih kayak kisah cinta dan persahabatan anak-anak muda biasa. Ternyata di dalamnya mencakup cewek yang psychologically abused oleh cowoknya (belum suami lho ya) yang bermuka dua, cewek tomboy dengan masalah identitas gender karena naksir si cewek yang di-abused itu, cowok trauma persentuhan badan yang naksir si cewek tomboy tadi, pokoknya semua yang bound to be doomed gitu. Rather soapy, tetapi menarik juga bahwa tema-tema yang bleak itu bisa disajikan dalam deretan episode yang engaging dan bikin pengen mendukung karakternya. Apalagi diiringi theme song maut "Prisoner of Love"-nya Utada Hikaru, beeeeuuuuh.

Starring: Masami Nagasawa, Juri Ueno, Eita, Ryo Nishikido, Asami Mizukawa
Directors: Yusuke Kato, Mizuki Nishizaka, Mitsutaka Endo
Screenwriter: Taeko Asano



8. Orange Days/オレンジデイズ (2004)

Sebenarnya kisahnya agak biasa, percintaan anak-anak kuliahan, yang berarti fokus akan terbelah antara cinta dan menggapai cita-cita. Kisah utama dorama ini ada pada si cowok Kai (Satoshi Tsumabuki) yang bentar lagi lulus dengan Sae (Koh Shibasaki) si cewek yang tuli tapi belum give up untuk jadi musisi, ditambah kisah serupa dari karakter teman-teman di sekitar mereka berdua. Selain bisa terbuai pada love story yang manis dan pasang surutnya, lewat dorama ini kita juga bisa belajar bahasa isyarat Jepang =D.

Starring: Satoshi Tsumabuki, Koh Shibasaki, Hiroki Narimiya, Miho Shiraisi, Eita
Directors: Jiro Shono, Nobuhiro Doi, Natsuki Imai
Screenwriter: Eriko Kitagawa




7. Iryu -Team Medical Dragon-/医龍 (2006)

Dorama medis ini menyorot seorang dokter ahli bedah terbuang tapi jagoan, Ryutaro Asada (Kenji Sakaguchi) yang dimanfaatkan oleh seorang dokter ambisius (Akira Kato dimainkan Izumi Inamori) di rumah sakit universitas demi penelitian. Disajikan secara procedural (kasus per kasus), dorama ini juga menyentuh ranah politik manajemen rumah sakit dan intrik-intrik profesi dokter. Tapi, mungkin karena bersumber dari komik, dorama ini memasukkan berbagai gimmick yang absurd abis, seperti pembentukan tim dokter dengan karakter aneka ragam, dokter-dokter yang jalan-jalan di hall rumah sakit mengenakan jas putih dengan ekspresi fierce, si tokoh utama punya luka bakar bentuk naga di punggung dan sering latihan bedah dengan gerakan imaginary sambil topless, hingga penjelasan tentang berbagai teknik operasi lewat bagan animasi. Yoi, lebay sih dorama ini =D. Tapi justru itu yang bikin seru, seakan-akan segala belokan cerita itu masalah hidup-mati (padahal nggak selalu segitunya), meledak-ledak dramatis teatrikal gimana gitu. Bayangkan cerita superhero macam Kamen Rider tapi di rumah sakit, ya itulah Iryu. Publik Jepang juga kayaknya kepincut dengan dorama ini sampai-sampai udah dibuatkan 3 season lanjutannya di tahun 2007, 2010, dan 2014.

Starring: Kenji Sakaguchi, Izumi Inamori, Asami Mizukawa, Kazuki Kitamura, Teppei Koike, Mari Natsuki, Sadao Abe, Kuranosuke Sasaki
Directors: Satoshi Kubota, Naruhide Mizuta
Screenwriter: Hiroshi Ayashi, based on manga by Taro Nogizaka



6. Tokyo Love Story/東京ラブストーリー (1991)

Well, sebenarnya dorama ini masuk lebih pada nilai nostalgia, sebagaimana gw singgung di pendahuluan. Tapi, emang susah juga menghilangkan memori tentang Rika Akana (Honami Suzuki) si gadis ceria lovable tapi juga agresif dalam mengejar cinta rekan sekantornya, si awkward Kanji (Yuji Oda) yang ternyata masih ngharep sama Satomi (Narimi Arimori), si cewek baik-baik yang eh malah lebih kepincut sama si bad boy gondrong Kenichi (Yosuke Eguchi) yang juga sahabat lama Kanji. Nggak benar-benar ada protagonis-antagonis, tinggal yang nonton lebih prefer ngebela yang mana. It was sweet, and funny, and bikin gregetan, a true definition of 'drama' termasuk saat ditonton ulang. Legendary indeed.

Starring: Honami Suzuki, Yuji Oda, Narimi Arimori, Yosuke Eguchi, Akiho Sendo
Directors: Kozo Nagayama, Ohiko Honma
Screenwriter: Yuji Sakamoto, based on manga by Toru Ota



5. Nodame Cantabile/のだめカンタービレ (2007)

Berlatar sebuah akademi musik klasik, tentang si cewek super-aneh dan sangat, sangat kekanak-kanakan, Megumi "Nodame" Noda (Juri Ueno) dan romansa absurdnya dengan seniornya, Chiaki-sempai (Hiroshi Tamaki) yang terobsesi jadi konduktor orkestra terhebat. Dorama adaptasi manga ini sepertinya sangat mempertahankan kekomikalan komiknya, termasuk ke bentuk-bentuk karakternya--my God I still can't get over that Strezemann-sensei's (Naoto Takenaka) crazy fake foreign accent XD, jadinya terkesan cuma dorama lucu buat hore-hore aja. Tapi menurut gw ada nilai lebih di sini, bagaimana musik klasik yang selalu dianggap 'terlalu serius' bisa disajikan dengan konyol dan fun, tanpa--ini penting--menghilangkan apresiasi terhadap musik klasik dan orang-orang yang berkecimpung di sana. Adegan pertunjukkan musiknya keren-keren dan sangat enjoyable. Yang nonton pun jadi bisa punya tambahan pengetahuan tentang hal-hal tersebut, plus jadi lebih familiar sama banyak komposisi musik klasik. Gw tahu "Rhapsody in Blue" ya gara-gara dijadiin ending theme dari dorama ini, hehe.

Starring: Juri Ueno, Hiroshi Tamaki, Eita, Keisuke Koide, Asami Mizukawa, Saeko, Misa Uehara, Naoto Takenaka
Directors: Hideki Takeuchi, Yasuhiro Kawamura, Masaki Tanimura
Screenwriter: Rin Etou, based on manga by Tomoko Ninomiya



4. Atsuhime/篤姫 (2008)

Kalau dengar definisi bahwa NHK adalah saluran milik pemerintah Jepang, jangan bayangin kayak TVRI kita ya. NHK mungkin salah satu instansi penyiaran pemerintah paling maju dan well-funded di dunia, dan program-programnya punya standar kualitas tinggi. Salah satu proyek besar NHK setiap tahun adalah serial drama sejarah--disebut taiga dorama, yang ditayangkan setiap pekan sepanjang tahun, dengan tujuan ya belajar sejarah lewat dramatisasi seorang tokoh sejarah yang dimainkan aktor-aktris top. Nah, somehow satu-satunya taiga dorama yang gw khatam adalah Atsuhime, all 50 episodes. Dorama ini tuturkan riwayat Okatsu (nama kecil) alias Atsu (nama gadis) alias Tenshouin (nama pas jadi 'ibu suri' ke-shogun-an), wanita dari keluarga samurai level rendah yang kemudian melewati berbagai proses sampai jadi istri shogun Tokugawa ke-13, serta peranannya ketika Restorasi Meiji berlangsung dan mengguncang pemerintahan militeristik shogun. Berpola serupa dengan taiga dorama sebelum-sebelumnya, Atsuhime ini penuturannya sangat straightforward dalam fungsinya sebagai dramatisasi sejarah: ada naratornya, ada peta lokasinya, bahkan tiap ada tokoh baru akan dikasih keterangan namanya. Tetapi, karena dipresentasikan mengalir tanpa terkesan kaku lewat karakter-karakter yang membumi, pemain-pemain yang kece dan excellent, production value yang keren, musik yang indah, ditambah soroton tentang tata cara kehidupan, tata krama, bahasa, dan intrik-intrik pemerintahan masa itu, serta fakta bahwa sosok Atsu, dalam segala keterbatasannya sebagai seorang wanita di masyarakat feodal dan patriakal, sanggup berkontribusi signifikan terhadap perdamaian negaranya, membuat gw sangat menikmati dorama ini secara keseluruhan. 

Starring: Aoi Miyazaki, Eita, Masato Sakai, Hideki Takahashi, Yukiyoshi Ozawa, Shota Matsuda, Maki Horikita
Directors: Mineyo Sato, Ken Okada, Kentaro Horikirizono, Yoshio Watanabe, Tadashi Uesugi, Hirotaka Matsukawa
Screenwriter: Kumiko Tabucho, based on novel by Tomiko Miyao



3. Kekkon Dekinai Otoko (The Man Who Can't Get Married)/結婚できない男 (2006)

Dorama ini juga gw pilih di sini lebih karena alasan sentimental: ini bahan skripsi gw =D. Mengangkat sebuah fenomena sosial di Jepang bahwa usia orang yang menikah semakin tua, tapi ya namanya juga demi jadi tontonan dan komedi, hal itu di-twist jadi ekstrem. Shinsuke Kuwano (Hiroshi Abe) adalah arsitek sukses dan cerdas berusia 40 tahun, namun menikmati kesendiriannya karena nggak suka diganggu sama siapapun dalam hal apa pun, constantly cynical about people other than himself. Prinsipnya itu suatu kali harus dilanggar ketika kena sakit pencernaan dan harus 'menelanjangi' diri di hadapan seorang dokter wanita, Natsumi Hayasaka (Yui Natsukawa), yang juga masih single di usia matang dan berkarier bagus--bedanya dia sifatnya nggak menjengkelkan kayak Shinsuke. Kalau mau diambil gampangnya sih ini dorama tentang bagaimana dua orang ini nanti jadian. Tapi, nyatanya 12 episode yang ditampilkan selalu menarik, karena menabrakkan prinsip masing-masing karakternya lewat dialog-dialog dan argumen yang menurut gw hillarious. Selain Shinsuke dan Hayasaka-sensei, ada pula tokoh ibunya Shinsuke yang terus nyindir putranya untuk kawin, adik iparnya yang gemar selingkuh, wanita muda tetangganya yang selalu punya masalah pacar, hingga rekan-rekan kerja Shinsuke yang tentu saja lebih 'normal' sifat dan aspirasinya. Dipenuhi komentar epik tentang persepsi sosial, tapi disampaikan ringan, witty, dan sangat menghibur.

Starring: Hiroshi Abe, Yui Natsukawa, Ryoko Kuninaka, Takashi Tsukamoto, Reiko Takashima, SHEILA
Directors: Yoshishige Miyake, Takashi Komatsu, Hisashi Ueda
Screenwriter: Masaya Ozaki



2. Ashita no Kita Yoshio (Kita Yoshio's Tomorrow)/あしたの、喜多善男 (2008)

Dorama ini seperti ada pada level berbeda dari yang lain. Sebuah black comedy berpremis tentang Yoshio Kita (Fumiyo Kohinata), pria paruh baya average-looking, tak punya teman, dan merasa selalu tertolak, memutuskan untuk bunuh diri 11 hari lagi. Tetapi, di hari pertama, ia bertemu dengan berbagai karakter, baik yang (mungkin) mau menolongnya, maupun justru (mungkin) memanfaatkannya. Setiap episode pun bergulir sekaligus menghitung mundur hari-hari Yoshio akan melaksanakan rencananya, dan semakin mengungkap tentang latar belakang dan motivasinya, upaya menyelesaikan apa yang belum selesai, sampai kebimbangan antara melancarkan niatnya atau tidak. Yang strikingly interesting buat gw di sini adalah gambaran betapa nggak judgmental-nya orang-orang sekitarnya sama keputusan bunuh diri. Well, mungkin melihat si Yoshio yang sosoknya murah senyum dan polos tapi menyimpan kepedihan sangat mendalam emang jadi nggak tega untuk nge-judge, but still, dorama ini bisa mengembangkan sebuah premis yang "sakit" tadi dengan brilian, tetapi juga nggak terasa diberat-beratin atau didepresif-depresif-in, sekalipun dimasukkan pula tema masalah tekanan kejiwaan, penipuan asuransi, hingga kehidupan fallen celebrity--ke mana para idol yang kawaii itu ketika udah nggak muda dan nggak terkenal lagi, naaah.... Masih bisa bikin ketawa (pahit), masih bisa menyentuh, apalagi cast-nya keren-keren, dan soundtrack-nya yang sangat kental orkestra jazz juga tepat dengan mood filmnya yang ambigu.

Starring: Fumiyo Kohinata, Ryuhei Matsuda, Manami Konishi, Chiaki Kuriyama, Yuriko Yoshitaka, Katsuhisa Namase, Jun Kaname
Directors: Ten Shimoyama, Manabu Sato, Yoshishige Miyake, Akira Hibino
Screenwriter: George Iida, based on novel by Masahiko Shimada





1. Beautiful Life/ビューティフルライフ (2000)

Dorama ini punya gabungan elemen-elemen yang biasa ditemui di dorama Jepang. Kisah cinta yang awal-sebel-jadi-demen, dunia profesi spesifik--si Shuji (Takuya Kimura) itu seorang hair-stylist, menyentuh disease-porn karena Kyoko (Takako Tokiwa) sang tokoh utama ceweknya sejak awal udah berkursi-roda, musik dan theme song oke, pemain-pemain kece, tokoh-tokoh sampingan ada yang loveable dan ada yang nyebelin (looking at ya, TM Revolution =p), pokoknya semua hal dalam formula yang tampaknya sangat cheesy. Tetapi, justru hasilnya jauh dari kesan itu. Nggak ada adegan yang lebay, semua mengalir natural, aktingnya asyik-asyik, dialognya keren tanpa berusaha serba dramatis, dan simpati gw ke tokoh-tokohnya juga nggak dipaksakan. Ada juga selipan isu tentang perlakuan terhadap penyandang cacat, dan yang menarik, cowok berprofesi hair-stylist di sana nggak identik dengan label 'banci salon'. Ada letupan-letupan yang asyik di setiap guliran episodenya, lucu dan haru, dan that silent but powerful finale bikin nyesek sekaligus menonjok emosi. Beautiful Life sendiri merupakan salah satu dorama tersukses di Jepang sepanjang masa, rating-nya sempat menyentuh 41% (!), so mungkin selera gw agak terlalu mainstream, hehe. Tapi cobalah ditonton lagi, karya-karya yang sekarang pada obral istilah 'baper' tuh nggak ada apa-apanya di hadapan dorama ini.

Starring: Takuya Kimura, Takako Tokiwa, Atsuro Watabe, Miki Mizuno, Hiroyuki Takeuchi, Takanori Nishikawa (T.M. Revolution)
Directors: Jiro Shono, Nobuhiro Doi
Screenwriter: Eriko Kitagawa



1 komentar:

  1. hai kak..boleh numpang tanya nggak?
    kira-kira kakak ada rekomendasi nggak ya film jepang yang ngebahas tentang fenomena NEET selain film Tamako in Moratorium, anime jg gpp :) yang bagus sih kak yang pantes buat bahan skripsi, hbsnya bingung mau pake sumber data apa. Terimakasih sebelumnya ^^

    BalasHapus