Selasa, 23 Agustus 2016

[Movie] Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita (2016)


Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita
(2016 - Jakarta Media Syndication/Geppetto Productions)

Directed by Tino Saroengallo, Tio Pakusadewo
Story by Tio Pakusadewo
Produced by Tino Saroengallo, Tio Pakusadewo
Cast: Tio Pakusadewo, Teuku Rifnu Wikana, Verdi Solaiman, Jantra Suryaman, Wicaksono Wisnu Legowo


Bingung juga apakah film ini termasuk dalam fiksi atau dokumenter. Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita bisa jadi fiksi, karena ada tokoh yang diperankan oleh bukan orang aslinya---pengertian macam apa ini =D? Bisa juga dokumenter karena film ini memang hampir seluruhnya menampilkan "dokumentasi", walaupun bukan dalam bentuk rekaman gambar atau suara seperti biasanya. Gw lebih nyaman menyebut ini sebagai concept film, karena konsep filmnya jelas: membacakan ulang pidato Soekarno pada saat kongres Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), 1 Juni 1945, yang di dalamnya berisi gagasan tentang dasar negara Indonesia yang kemudian berkembang jadi Pancasila. Dibilang experimental film juga bisa, tetapi gw merasa itu biasanya disematkan bagi film-film yang gw nggak paham konsepnya #eehhh.

Jadi, dokumentasi yang disampaikan di sini adalah pidato-nya Soekarno, sebagaimana dicatat oleh notulen rapat pada saat itu. Berdasarkan catatan itu, word-by-word, start to end, dibacakan oleh Tio Pakusdaewo yang berperan sebagai Soekarno. Doi mungkin memang visually nggak mirip Soekarno, tetapi ada hal yang lebih penting daripada itu, yaitu bagaimana pidato tersebut bisa disampaikan seakan itu milik dia, bukan dalam bentuk "membaca"--karena konon Soekarno juga berpidato ini tanpa bantuan teks, dan dengan artikulasi yang mantap. Ada kalanya bagian-bagian istilah asing terdengar jelas di-dubbing ulang pada pascaproduksi--bukan dari audio saat syuting--demi memperbaiki pengucapan agar lebih benar, sehingga di beberapa tempat sound-nya agak kurang mulus. Tetapi, ini juga menunjukkan keseriusan pembuat film ini untuk tidak asal tabrak aja hal-hal yang mereka tidak ahli, dan menurut gw itu sangat patut diapresiasi *nggak kayak film drama cinta berlatar luar negeri yang gw review baru-baru ini, ehem*.

Konsepnya sendiri nggak berhenti di situ. Film ini juga jadi semacam slide presentasi tentang apa makna dari pidato Soekarno, apa dan siapa saja referensinya, apa dampaknya, yang bisa dibaca langsung saat diucapkan. Ditambah lagi, sesuai dengan judulnya, film ini juga secara selang-seling menampilkan situasi bangsa Indonesia dalam berbaga zaman, termasuk zaman sekarang, yang dianggap relevan dengan bagian yang diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya. This is interesting, karena jadi terlihat penekanan-penekanan bahwa sepertinya situasi yang diamati Soekarno di Nusantara sebelum merdeka dulu kayak ada kesamaannya dengan masa-masa setelah merdeka, bahkan sampai sekarang. Tentang pertarungan ide, keberagaman, kesejahteraan...pokoknya pas nonton kok kayaknya dari yang diomongin di pidatonya, dulu sama sekarang masalah kita kok di situ-situ aja ya.

Politics aside, Pantja Sila adalah sebuah film yang menurut gw mampu mencapai tujuannya, dengan presentasi nggak neko-neko, walau nggak neko-neko itu pula yang bikin filmnya bisa menjemukan. Namun, film ini terbilang berhasil dalam kembali menyegarkan memori tentang bagaimana Indonesia didirikan dan mungkin menginspirasi bagaimana Indonesia harus dibangun sekarang. Gw mungkin nggak bisa fully enjoy this sebagai sebuah "tontonan", tetapi gw juga nggak bisa membayangkan cara lain untuk menyampaikan materi ini di layar lebar dengan lebih asyik dan tepat, jadi ini adalah karya yang bagus dengan caranya sendiri.





My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar