Sabtu, 04 Juni 2016

[Movie] Green Room (2016)


Green Room
(2016 - Broad Green Pictures/A24)

Written & Directed by Jeremy Saulnier
Produced by Neil Kopp, Victor Moyers, Anish Savjani
Cast: Anton Yelchin, Imogen Poots, Alia Shawkat, Patrick Stewart, Joe Cole, Callum Turner, Macon Blair, Mark Webber, David W. Thompson, Taylor Tunes, Jake Kasch, Samuel Summer, Eric Edelstein, Brent Werzner


Green Room ini mungkin se-indie-indie-nya film Amerika ya. Well bukan berarti murah juga, tapi dari ide dan tuturan ceritanya yang memang skala kecil dan menampilkan kehidupan yang mungkin tak banyak disorot dalam film-film Hollywood. Jadi film ini adalah thriller, semacam gabungan penyanderaan dan horor home invasion, tapi settingnya sebuah klub yang sering jadi tempat manggung band punk, yang kebetulan jadi sarang kelompok fasis radikal. Sesuatu yang belum pernah gw lihat sebelumnya nih. Biasanya kalau horor kan ceritanya antara sekelompok anak muda kejebak di rumah hantu dan mati satu-satu, atau terjebak di hutan dikepung monster atau milisi atau suku kanibal lalu mati satu-satu. Nah, ini dikepung kelompok radikal, kayak gimana tuh ngerinya?

Band empat orang beraliran punk The Ain't Rights menyetujui tawaran untuk main di sebuah klub yang ternyata adalah tempat kongkownya kelompok neo-Nazi--yang anggap ras kulit putih adalah yang paling unggul dan sebagainya. Tapi ya sebenarnya simpel aja, mereka cuma band, main berapa lagu, terima duit, keluar. Pas udah mau cabut, ehhhh, ada aja yang ketinggalan. 

Si bassis Pat (Anton Yelchin) mau ngambil handphone-nya si gitaris Sam (Alia Shawkat) di green room--istilah ruang tunggu buat yang akan manggung. Ternyata, Pat masuk pada saat yang salah, ia melihat ada seorang wanita tertusuk di kepala. Sebagai warga negara yang baik, Pat mau telepon nomor darurat, tapi dilarang-larang sama manajer klub, Gabe (Macon Blair), dan Pat sama satu bandnya malah disuruh masuk green room sama orang dalem yang namanya Amber (Imogen Poots) dan bouncer bernama Big Justin (Eric Edelstein). Mencium ada yang tidak beres dan sadar nggak punya posisi tawar, Pat berakal untuk mengunci diri mereka bersama mayat korban dalam green room, dan baru akan keluar kalau polisi sudah datang. Jadi kayak menyandera diri mereka sendiri, ya nggak sih?

Anyway, gw cukup impressed dengan apa yang digagas di film ini dari segi ceritanya. Walau agak meraba-raba di awal, pada akhirnya gw nangkep sebuah skema yang cukup brilian, terutama kenapa si kelompok neo-Nazi ini anggap penting banget untuk polisi tidak sampai datang ke tempat mereka. Apa sih yang disembunyikan? Yah, namanya kelompok bawah tanah, sekalipun ada di negara bebas macam Amerika yang tidak melarang mereka berkumpul, menyatakan pendapat, dan beraktivitas, kalau udah nyangkut kriminal, mereka bakal kena ciduk juga. So basically ini film soal kelompok neo-Nazi putar-putar strategi melawan sekelompok anak band yang nggak tahu apa-apa.

Cuma mungkin penyampaiannya yang nggak bikin terlalu nyaman. Selain karena ruang-ruangnya gelap, tensions-nya agak lamban, dan tuturannya yang banyak meraba-raba tadi, gw agak terganggu sama akting sebagian protagonisnya yang kayak teler. Ngerti sih mungkin mereka muda-mudi panik, tapi ya bikin males aja gitu lihatnya kalau ngomong diseret-seret dan sebagainya. Dan sayangnya, kalau versi bioskop sini, unsur-unsur violence yang mungkin dapat mengimbangi gelagat agak teler karakter-karakternya semacam diamputasi dari filmnya karena lembaga sensor. Yah jadi kurang berdarah gitulah, literally.

Tapi, at least dari konsep dan idenya, film ini mampu tampil beda, quite original-lah istilahnya, dan itu penting untuk sebuah film "kecil-kecilan" gini. 





My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar