Senin, 01 Februari 2016

[Movie] The Dressmaker (2015)


The Dressmaker
(2015 - Universal)

Directed by Jocelyn Moorhouse
Screenplay by Jocelyn Moorhouse, P.J. Hogan
Based on the novel by Rosalie Ham
Produced by Sue Maslin
Cast: Kate Winslet, Judy Davis, Liam Hemsworth, Hugo Weaving, Sarah Snook


When it comes to Australian films, jujur aja wawasan gw sangat-sangat terbatas. Paling juga biasanya gw tahu talenta Australia yang berkarier di Hollywood, dan mereka kadang-kadang pulang kampung bikin film di negeri sendiri. Dan, yang paling gw nggak tahu adalah bagaimana mereka bikin film komedi. Lalu gw berkesempatan nonton The Dressmaker, konon salah satu film tersukses Australia tahun 2015 lalu, dan kebetulan diboyong ke Jakarta buat Festival Sinema Australia Indonesia 2016. Daya tarik film ini cukup luar biasa, karena memasang bintang-bintang internasional, namun digambarkan "sangat Australia", sebuah istilah yang sayangnya gw belum paham benar.

Sebenarnya juga gw merasa jalan cerita film ini agak aneh sih, dan mungkin memang itu tujuannya. Berlatar sebuah "desa" bernama Dungatar di era 1950-an, seorang perempuan bernama Tilly (Kate Winslet, mungkin satu-satunya aktor non-Aussie di film ini) pulang kampung setelah sekitar 25 tahun merantau. Tujuannya adalah memastikan kembali apakah dia benar-benar melakukan hal yang dituduhkan yang membuatnya diusir dari Dungatar: membunuh temannya saat masih berusia SD. Dalam bergulirnya cerita, Tilly juga mencoba settle down dengan kehidupan di sana walau masih dijauhi orang-orang sekampung. Dia musti menghadapi ibunya (Judy Davis) yang kehidupannya kacau, lalu ada juga benih cinta dengan Teddy (Liam Hemsworth), sekaligus membawa perubahan bagi para wanita di sana dengan membuka jasa jahit baju rancangannya sendiri berdasarkan ilmu yang didapatnya saat berkeliling Eropa.

Yang menurut gw agak aneh adalah tone film ini. Gw merasa overall film ini memakai nuansa fantasi, kayak film anak-anak dengan segalanya dibuat komikal--nenek-nenek masih hidup sendirian di rumah kapal pecah, main golf pasti kena rumah orang, pemain rugby meleng karena lihat perempuan cantik, kakek bungkuk kalau jalan musti didorong, Tilly yang merasa dirinya dikutuk, rivalitas tukang jahit, dan banyak lagi hingga ke bagian akhir. Tapi, temanya sendiri cukup dark, dari soal kematian, tragedi keluarga, stigma sosial, dan balas dendam. Masalahnya bukan di penggabungan dua kontras itu, tapi sepertinya eksekusinya yang menurut gw agak tanggung di kedua sisi. Komedi-dongengnya masih agak malu-malu, sementara drama gelapnya juga begitu. Weird, tapi jangan-jangan memang seperti itu taste yang cocok bagi penonton sana.

Di sisi lain film ini juga terasa sangat seperti novel, dengan ada kewajiban memberi porsi masing-masing pada orang-orang seisi desa. Memang secara keutuhan cerita mereka perlu dan pada akhirnya akan terkait, tapi dengan jalan cerita yang terlalu melebar juga bikin filmnya terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Efeknya juga terasa ketika gw melihat hubungan antara Tilly dan emaknya itu sangat-sangat menarik dan perlu banget digali, ternyata harus diselak dengan subplot-subplot tokoh lainnya, sehingga gw kayak perlu merevisi lagi beberapa kali dalam menyimpulkan film ini sebenarnya tentang apa. Sayang sih, tapi ya itulah keputusan yang diambil pembuat film untuk menuturkan cerita kehidupan Tilly yang selalu dijauhi walau teteup in style ini =D.

Tapi kalau mau fair, film ini cukup menghibur. Humornya banyak yang menurut gw lucu, larakter-karakternya yang aneh-aneh dimainkan dengan oke oleh deretan pemainnya, dan secara visual, entah itu tata artistik, kostum, sampai sinematografinya, menyenangkan untuk dilihat. Sebuah produksi film yang baik dengan materi cerita yang sangat menarik walau buat gw ya agak absurd aja sih, haha.





My score: 6,5/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar