Selasa, 22 September 2015

[Movie] Assassination (2015)


암살 (Amsal)
Assassination

(2015 - Showbox)

Directed by Choi Dong-hoon
Written by Choi Dong-hoon, Lee Gi-cheol
Produced by Ahn Soo-hyun, Choi Dong-hoon, Kim Sung-min
Cast: Gianna Jun, Lee Jung-jae, Ha Jung-woo, Cho Jin-woong, Choi Duk-moon, Oh Dal-su, Lee Kyoung-young, Park Byung-eun, Cho Seung-woo, Heo Ji-won, Kim Hae-sook



Industri film Korea sudah sampai pada tahap mampu mengangkat cerita apa pun menjadi sebuah tontonan yang appealing bagi banyak orang, sekalipun harus dengan upaya yang besar dan mahal. Film Assassination bolehlah menjadi salah satu buktinya. Sekilas, film ini seperti hendak membawa memori sejarah ketika semenanjung Korea dan negeri China menjadi jajahan Jepang di paruh awal abad ke-20. Namun, pada akhirnya film ini menjadikan action dengan unsur spionase sebagai suguhan utama yang dikemas menghibur oleh sutradara Choi Dong-hoon.

Tema dasar yang diangkat Assassination adalah upaya gerakan kemerdekaan Korea melawan pihak penjajah Jepang dan antek-anteknya. Ketika pergerakan mereka dilemahkan—yang membuat banyak dari mereka tersebar di wilayah luar Korea, maka tindakan ekstrem dilakukan. Dalam film ini, rencana pembunuhan terhadap pemimpin koloni Jepang serta pengkhianat Korea—sebagai sebuah statement bahwa gerakan kemerdekaan masih ada—akhirnya menjadi pilihan.

Berangkat dari konsep tersebut, film ini kemudian bergulir layaknya film spionase dengan kerja tim. Gerakan kemerdekaan Korea mengirim salah satu aktivis terbaiknya, Yeom Sok-jin (Lee Jung-ae) untuk merekrut orang-orang terbaik dari berbagai wilayah untuk menjalankan misi tersebut. Terpillihlah tiga orang, yaitu Ahn Ok-yun (Gianna Jun), Chu Sang-ok (Cho Jin-woong), dan Hwang Deok-sam (Choi Deok-moon) dengan keahlian masing-masing. Tugas Yeom hanya sampai di sana, karena ketiga rekrutan itu kemudian harus menemui Kim Won-bong (Cho Seung-woo) di Shanghai untuk detail misinya.

Ketiga orang ini harus menyusup ke Seoul, membunuh gubernur jenderal Jepang dan pengusaha Korea pro-Jepang, Kang In-gook (Lee Geung-young), dalam upacara pernikahan putra-putri mereka. Ini jelas sebuah misi maut, karena mereka harus masuk di pusat kekuasaan Jepang di Korea. Tapi, itu bukan permasalahan satu-satunya. Di masa kolonial ketika berbagai bangsa membaur, preman, pembunuh bayaran, dan mata-mata juga banyak berkeliaran. Misi pembunuhan ini kemudian mendapat intervensi dari tim pembunuh profesional, Hawaii Pistol (Ha Jung-woo) dan Old Man (Oh Dal-su), dan juga adanya mata-mata untuk Jepang di antara mereka.

Secara garis besar, Assassination adalah sebuah contoh yang berhasil dalam menggabungkan kisah fiksi menghibur dengan latar sejarah yang—mungkin—menimbulkan nasionalisme dari target penontonnya. Dari segi entertainment-nya, cukup jelas terlihat bahwa film ini sangat bersifat modern, dengan menyajikan gabungan laga, thriller, dan humor. Ini tidak jauh berbeda dengan film karya Choi Dong-hoon sebelumnya, The Thieves yang bertema tim perampokan. Hanya saja, kini semua itu ditaruh dalam setting waktu yang lampau.

Penggabungan ini terbilang menarik, karena intensitas dan ketegangannya bisa dibuat setara dengan film-film modern, namun dengan pakaian dan perlengkapan awal abad ke-20. Bahkan kejar-kejaran dengan rickshaw (kereta yang ditarik oleh manusia) bisa seseru adegan serupa dengan sepeda motor di film-film kontemporer.

Di lain pihak, sekalipun mungkin tidak menuturkan peristiwa atau tokoh sejarah sebagai menu utamanya,film ini tidak memperlakukan latar sejarah dengan sekenanya. Beberapa referensi sejarah berhasil dimasukkan dengan set dan efek-efek yang sangat megah dan mewah, serta informasi yang cukup mengenai situasi sosial, politik, serta gerakan kemerdekaan Korea terhadap Jepang pada saat itu. Walau mungkin akan sedikit membingungkan karena pace yang cukup cepat di awal film, secara keseluruhan semuanya itu disampaikan cukup mulus dan terkait erat dengan ceritanya.

Akan tetapi, penyatuan sisi hiburan modern dan sisi konteks sejarah dalam Assassination sebenarnya tidak senantiasa mulus. Ada kalanya, film ini terasa terlalu politis dengan pesan-pesan nasionalisme yang diselipkan. Pada dasarnya, walau memasukkan unsur mata-mata dan pengkhianatan, film ini cukup membuat kemudahan dalam menentukan keberpihakan: rakyat Korea adalah protagonis dan pemerintah kolonial Jepang adalah antagonis. Film ini pun tidak terlalu 'centil' untuk membuat itu jadi twist karena penonton tahu siapa berada di pihak siapa sejak awal dan pertengahan film.

Namun, seakan merasa masih kurang, film ini harus menekankan lagi bahwa pihak musuh itu benar-benar jahat, dengan memberi beberapa contoh perlakuan dan perkataan kejam tentara Jepang dan para mata-matanya. Terlepas bahwa gambarannya benar-benar tepat mewakili masa itu atau tidak, bagian ini seakan memberat-beratkan materi cerita filmnya yang sebenarnya sudah solid. Memang tidak salah, apalagi bila memang berhasil bagi penonton domestiknya, namun pernyataan-pernyataan politis ini cukup memakan durasi, dan terlalu kontras dengan value hiburannya yang sudah dibangun dengan baik sejak awal.

Meski demikian, Assassination secara umum tetap sebuah sajian yang berhasil bila dipandang sebagai hiburan berkualitas. Bahkan, unsur-unsur cerita yang 'film banget' seperti percikan cinta dan tragedi keluarga masih bisa disampaikan asyik tanpa kesan berlebihan. Jalinan adegan-adegan laga yang seru dengan intrik-intrik menarik, ditambah pembangunan karakter yang efektif, menjadikan film ini sebuah tontonan yang memikat. Paling tidak, usaha mememproduksi film ini dengan production value yang tinggi (melibatkan kru di Korea dan China) dan skala yang kolosal terbayar dengan semua yang ditampilkan di layar.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar